EtIndonesia. Ada seorang pertapa yang menjalani hidup asketis dan menjauhi kenikmatan dunia. Dia memutuskan meninggalkan desa tempat tinggalnya untuk pergi bertapa di pegunungan yang sepi.
Dia hanya membawa sehelai kain sebagai pakaian, lalu tinggal sendirian di sebuah gubuk sederhana di gunung.
Suatu hari dia berpikir, ketika harus mencuci pakaiannya, dia membutuhkan satu kain lagi untuk berganti. Maka dia turun ke desa dan meminta sehelai kain kepada penduduk.
Karena semua orang tahu dia adalah pertapa yang saleh, mereka dengan senang hati memberinya kain untuk pakaian ganti.
Setelah kembali ke gunung, dia mendapati ada seekor tikus di gubuknya. Tikus itu sering menggigit kain cadangannya ketika dia sedang bermeditasi.
Dia telah bersumpah seumur hidup untuk tidak membunuh makhluk hidup. Karena itu, dia tidak mau menyakiti tikus tersebut.
Namun dia juga tidak mampu mengusirnya. Akhirnya ia turun lagi ke desa dan meminta seekor kucing untuk dipelihara.
Setelah mendapatkan kucing, dia berpikir lagi : “Kucing ini akan makan apa? Aku tidak ingin dia memakan tikus, tapi tentu dia tidak bisa hanya makan buah dan sayuran liar seperti aku.”
Maka dia meminta seekor sapi perah, agar kucing itu bisa hidup dari susu.
Beberapa waktu kemudian, dia menyadari bahwa merawat sapi memakan banyak waktu setiap hari. Dia pun kembali ke desa dan membawa seorang pengemis tunawisma ke gunung untuk membantu merawat sapi.
Setelah tinggal beberapa waktu, pengemis itu mengeluh : “Aku tidak sepertimu. Aku butuh seorang istri. Aku ingin kehidupan keluarga yang normal.”
Pertapa itu berpikir, itu masuk akal. Dia tidak bisa memaksa orang lain menjalani hidup asketis seperti dirinya.
Dan kisah ini terus berkembang… Mungkin enam bulan kemudian, seluruh desa telah pindah ke gunung.
Kisah ini sebenarnya adalah gambaran kehidupan kita sehari-hari.
Keinginan itu seperti rantai—satu menarik yang lain, tanpa pernah benar-benar puas.
Yang lebih menyedihkan adalah: Manusia tidak pernah kehabisan alasan untuk membenarkan keinginannya sendiri.
Hikmah Cerita
Cerita ini mengingatkan pada satu pemikiran: Saat kita mendapatkan sesuatu, kita sering kali kehilangan sesuatu yang lain—bahkan mungkin lebih banyak.
Contohnya, ketika seseorang memiliki rumah besar. Untuk membiayai dan merawat rumah itu, dia harus bekerja lebih keras dan lebih lama. Saat libur pun, dia sibuk membersihkan dan mengurus rumah.
Dari satu sisi, dia memiliki rumah besar. Namun dari sisi lain, dia kehilangan waktu dan ketenangan.
Manusia adalah makhluk yang unik—memiliki kecerdasan sekaligus kebodohan dalam dirinya.
Sepanjang hidup, kita terus mengejar kehidupan yang lebih baik. Teknologi semakin canggih, hidup semakin praktis, tetapi entah mengapa terasa semakin melelahkan.
Mobil diciptakan agar kita bisa tiba lebih cepat di tujuan. Namun tempat kerja justru semakin jauh dari rumah. Waktu tempuh tetap panjang, meskipun kita sudah memiliki kendaraan.
Ilmu kedokteran semakin maju, tetapi virus juga semakin ganas. Usia memang bertambah panjang, tetapi tidak jarang waktu tambahan itu dihabiskan di atas ranjang rumah sakit—menanggung penderitaan sendiri dan beban bagi keluarga.
Saat mengejar keinginan, kita sering tidak sadar bahwa satu keinginan memicu masalah lain. Untuk menyelesaikan masalah itu, kita menciptakan solusi yang melahirkan masalah baru.
Lingkaran ini telah berlangsung sejak zaman dahulu hingga sekarang. Dan manusia masih saja terjebak di dalamnya.
Mendapatkan dan kehilangan selalu datang bersamaan. Semakin banyak yang kita peroleh, semakin besar pula kemungkinan yang akan kita lepaskan di kemudian hari.
Kadang yang perlu kita tanyakan bukanlah: “Apa lagi yang ingin aku miliki?”
Melainkan: “Apakah aku benar-benar membutuhkannya?” (jhn/yn)





