Bisnis.com, JAKARTA -- Produk Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas digadang-gadang menjadi alternatif investasi baru yang menarik di pasar modal. Namun, di balik peluang tersebut, terdapat sejumlah tantangan krusial yang perlu diantisipasi baik oleh Manajer Investasi maupun investor.
Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan kesuksesan ETF emas di berbagai negara menjadi referensi bahwa instrumen ini memiliki daya tarik kuat, terutama saat minat terhadap emas meningkat.
Mengutip Bloomberg pada Selasa (24/2/2026), harga emas pada awal pembukaan perdagangan Asia naik tipis 0,1% ke level US$5.230,19 per ons pada pukul 07.50 WIB. Dalam empat sesi sebelumnya, harga emas telah menguat lebih dari 7% dan bertahan di atas level psikologis US$5.000 per ons.
Sementara itu, dari dalam negeri harga emas Antam sudah dibanderol Rp3,06 juta per gram. Harga Buyback emas Antam juga naik jadi Rp2,854 juta.
Menurut Wawan, minat investasi emas yang sedang tinggi, ditambah investor reksadana sudah menyentuh 20 juta Single Investor Identification atau SiD, akan menjadi captive market untuk ETF emas, apalagi jika dibarengi dengan kemudahan dan kecepatan transaksi.
Sisi lain muncul juga tantangan dalam menjaga likuiditas.
Baca Juga
- SinarmasAM Siapkan ETF Emas, Intip Targetnya
- Aturan ETF Emas Masuk Harmonisasi, OJK Bocorkan Kisi-Kisinya
- Samsung Sukses Uji Frekuensi 6G, Unduh 11 Film Full HD di Netflix hanya 1 Menit
“Tantangan bagi pengelola adalah menjaga likuiditas, karena standby buyer dan seller emas pasti memiliki spread harga, ditambah pajak bila ada, ini harus dikelola dengan baik agar investor tetap dapat bertransaksi,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Tantangan lainnya, kata dia, adalah investor juga perlu memahami bahwa harga emas tidak selalu bergerak naik. Dalam periode 2012–2022, misalnya, harga emas tercatat hanya tumbuh sekitar 4% dalam 10 tahun, relatif stagnan.
“Jadi, investor harus memahami katalis penggerak emas sebelum berinvestasi,” lanjutnya.
Secara mekanisme, transaksi ETF emas akan serupa dengan ETF yang sudah lebih dulu beredar di bursa luar negeri. Menurut Wawan yang membedakan adalah underlying aset berupa emas sehingga pergerakan harga bisa berbeda dengan ETF yang lebih dulu ada dan berbasis saham.
Dari sisi volatilitas, ETF emas juga akan mengikuti harga emas fisik dengan daya tarik utama adalah kemudahan dan keamanan bertransaksi.
Sebagai instrumen investasi, ETF emas berpotensi menjadi alternatif menarik untuk diversifikasi portofolio. Produk ini dapat dimanfaatkan untuk menyeimbangkan risiko, terutama saat pasar saham bergejolak.
Namun, bagi investor dengan horizon jangka pendek, disiplin manajemen risiko tetap krusial. Strategi cut loss perlu diterapkan apabila harga emas berbalik arah dan menembus batas toleransi risiko yang telah ditetapkan.
Saat ini, seiring dengan proses finalisasi aturan yang tengah dilakukan oleh OJK untuk mengakomodasi penerbitan ETF Emas, industri pun mulai bergerak. Setidaknya tiga Manajer Investasi telah melakukan persiapan penerbitan ETF Emas dengan menandatangani perjanjian kerja sama dengan berbagai pihak terkait.
Tak hanya itu, sebanyak 12 manajer investasi tercatat telah berdiskusi dan menyatakan komitmen untuk menerbitkan produk serupa dalam waktu mendatang.




