Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun lebih dari 1 persen pada sesi II perdagangan Selasa (24/2/2026), di tengah meningkatnya tekanan risiko global.
IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun lebih dari 1 persen pada sesi II perdagangan Selasa (24/2/2026), di tengah meningkatnya tekanan risiko global.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG melemah 1,37 persen ke level 8.280,83. Nilai transaksi mencapai Rp29,38 triliun dan volume perdagangan 58 miliar saham.
Tekanan sangat terasa di pasar, dengan 596 saham melemah, hanya 163 saham menguat, dan 199 sisanya stagnan.
Saham-saham big cap milik konglomerat menjadi penekan utama indeks acuan, mulai dari Grup Bakrie, Salim, Barito, hingga Sinar Mas.
Dalam riset yang terbit pada Selasa (24/2/2026), BRI Danareksa Sekuritas menilai tekanan datang dari kombinasi faktor eksternal yang kian kompleks dan berlapis. Salah satu pemicu utama adalah meningkatnya ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat (AS).
Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif dagang hingga 15 persen. Pasar menilai langkah tersebut berpotensi menjadi babak awal perang dagang baru. Aset berisiko pun tertekan, sementara investor mulai melakukan rotasi ke instrumen safe haven.
Di sisi lain, tensi geopolitik antara AS dan Iran kembali memanas. Trump disebut memberikan ultimatum kepada Iran untuk menyepakati perjanjian baru.
Jika negosiasi gagal, opsi serangan udara terhadap fasilitas nuklir dan target strategis disebut terbuka. Pasar pun mulai melakukan antisipasi atau pricing in terhadap risiko konflik terbuka.
Sentimen global juga dibayangi instabilitas di Meksiko setelah tewasnya Nemesio “El Mencho” Oseguera Cervantes.
Peristiwa tersebut memicu gelombang kekacauan, termasuk blokade dan pembakaran di puluhan negara bagian, yang menambah lapisan ketidakpastian global.
Lonjakan volatilitas turut mempertegas sikap defensif investor. Indeks volatilitas CBOE (VIX) dilaporkan melonjak ke kisaran di atas 35-40, level yang mencerminkan stres tinggi di pasar keuangan global.
Kenaikan volatilitas berarti premi risiko melebar dan pelaku pasar cenderung menahan eksposur pada aset berisiko.
Sejalan dengan itu, tulis BRI Danareksa harga emas spot dunia kembali menembus level USD5.200 per troy ons, mencerminkan arus ekstrem menuju aset lindung nilai. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





