Menko Pemberdayaan Masyarakat (PM), Muhaimin Iskandar alias Cak Imin menggelar rapat bersama Menteri P2MI, Mukhtarudin di Kantor Kemenko PM, Jakarta pada Selasa (24/2). Mereka membahas program SMK Go Global atau program penyiapan SDM untuk bekerja di luar negeri.
Usai rapat selama satu jam lebih, Cak Imin menyebut ada sejumlah kesepakatan antara Kemenko PM dan Kementerian P2MI. Salah satunya adalah memberangkatkan lulusan SMK Go Global keluar negeri mulai April 2026.
“Kami berdua sedang menuntaskan kebutuhan anggaran yang sudah dibutuhkan. Insyaallah mulai April, Juni, Juli, September sudah mulai siap memberangkatkan tenaga kerja skilled ke berbagai negara,” ujar Cak Imin.
Untuk menyiapkan keberangkatan itu, Cak Imin menyebut akan memanggil sejumlah duta besar untuk membahas soal peluang kerja di masing-masing negara. Para duta besar nantinya akan menyampaikan berapa kebutuhan PMI yang bisa direkrut di negara mereka bertugas.
“Saya dan Pak Menteri P2MI akan segera rapat dengan duta-duta besar melalui online maupun langsung, menyangkut prospek pasar dan persiapan pemberangkatan tenaga kerja skilled, minimal lulusan SMK dan SMA, untuk bisa bekerja sebanyak-banyaknya di sektor-sektor yang memberi keuntungan banyak kepada para pekerja kita,” tutur Cak Imin.
“Sehingga melalui kesempatan ini saya sampaikan kepada para duta besar di berbagai negara untuk segera menyiapkan satu skema business process yang lebih detail, agar masing-masing duta besar melaporkan kepada kami berdua berapa persiapan tenaga pekerja migran kita yang bisa direkrut,” tambahnya.
Ia menekankan, calon pekerja migran yang diprioritaskan ikut dalam program ini adalah lulusan SMA/SMK. Karena itu, berbagai langkah untuk meningkatkan kemampuan para calon pekerja pun terus dilakukan.
“Termasuk kita sedang menyiapkan skill melalui verifikasi lembaga-lembaga pelatihan, lembaga-lembaga pelaksanaan pendidikan vokasi yang dimiliki para pengusaha dan swasta, juga yang dimiliki oleh kementerian dan lembaga negara untuk bersama-sama terus menyiapkan skill workers yang dibutuhkan itu. Antara lain welder, hospitality, tenaga kesehatan, dan lain-lain,” tutur Cak Imin.
“Kami berdua terus mendorong agar ekosistem lembaga pelatihan, peningkatan mutu kurikulum SMK yang berkelas internasional standarnya, kita akan minta supaya SMK yang memang menyiapkan pekerja migran di luar negeri mengikuti standar, sertifikat yang memang satu ekosistem antara lembaga pelatihan, sertifikasi, dan pembiayaan pelatihan,” tambahnya.
Adapun pada pemberangkatan pekerja migran lewat program tersebut, Kemenko PM dan Kementerian P2MI menargetkan 300-500 ribu orang berangkat pada tahun ini.
“Target ya tentu sebanyak-banyaknya, minimal 300 sampai 500 ribu (orang),” ucap Cak Imin.
“(Kontraknya) Beda-beda, masing-masing negara kontraknya. Rata-rata 2 sampai 3 tahun dan bisa diperpanjang,” tambahnya.
Sementara, Mukhtarudin mengatakan, perlindungan kepada para PMI yang akan ikut dalam program SMK Go Global juga jadi perhatian. Salah satu langkahnya dengan meningkatkan keahlian mereka.
"Kita melakukan peningkatan kualitas pekerja migran yang kita berangkatkan ke luar itu adalah yang sudah minimal, kata Pak Menko tadi, SMA/SMK," kata Mukhtarudin.
"Sehingga diharapkan dengan mereka mempunyai pendidikan yang lebih layak dan kita latih lagi melalui vokasi dengan uji kompetensi yang ketat dari negara penempatan, tentu ini akan mempermudah kita lakukan pelindungan," ucap dia.





