EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam dalam sepekan terakhir. Washington terus memperkuat pengerahan militernya di kawasan Timur Tengah yang berdekatan dengan Iran, sementara jalur diplomasi tetap diupayakan melalui perundingan yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss.
Langkah-langkah ini terjadi di tengah peringatan keras dari Presiden AS, Donald Trump serta respons tegas dari Teheran yang menolak segala bentuk tekanan militer.
Pengerahan Militer Besar-besaran AS
Sejak pertengahan Februari 2026, Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Teluk dan sekitarnya. Pengerahan tersebut mencakup tambahan kapal perang, pesawat tempur, serta personel militer di sejumlah pangkalan strategis.
Pada 17 Februari 2026, sejumlah pesawat tempur tambahan dilaporkan tiba di kawasan transit Eropa sebelum menuju Timur Tengah. Langkah ini dipandang analis sebagai bagian dari konsolidasi kekuatan jika negosiasi nuklir dengan Iran gagal mencapai titik temu.
Presiden Donald Trump dalam beberapa pernyataannya menegaskan bahwa Iran harus segera mencapai kesepakatan baru terkait program nuklirnya. Dia menyebut bahwa opsi “serangan terbatas” tetap terbuka apabila jalur diplomasi menemui jalan buntu.
Menurut laporan AFP pada 22 Februari 2026, Trump kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan ragu mengambil tindakan militer terbatas jika Iran menolak kompromi.
Sejumlah pengamat menilai konsentrasi militer AS kali ini termasuk yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir dalam konteks ketegangan langsung dengan Iran.
Respons Tegas Teheran: “Tidak Ada Istilah Serangan Terbatas”
Pemerintah Iran merespons pernyataan Washington dengan nada keras. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani Baghaei, pada 22 Februari 2026 menyatakan bahwa dalam pandangan Teheran tidak ada istilah “serangan terbatas”.
Dia memperingatkan bahwa setiap bentuk agresi militer akan dibalas dengan respons yang tegas dan menyeluruh.
Baghaei juga menanggapi pernyataan Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, yang dalam wawancara dengan Fox News menyebut Presiden Trump heran mengapa Iran belum menunjukkan tanda-tanda menyerah meski berada di bawah tekanan militer besar.
Menanggapi hal itu, Baghaei menegaskan bahwa “rakyat Iran tidak pernah tunduk dalam sejarahnya” dan tidak akan menyerah pada tekanan eksternal.
Jalur Diplomasi: Perundingan di Jenewa
Di tengah meningkatnya ketegangan militer, jalur diplomasi tetap berjalan.
Menteri Luar Negeri Oman pada 22 Februari 2026 mengonfirmasi bahwa putaran baru perundingan antara Amerika Serikat dan Iran akan digelar pada 26 Februari 2026 di Geneva, Swiss.
Sebelumnya, pada 17 Februari 2026, perundingan tidak langsung telah berlangsung di kota yang sama melalui mediasi pihak ketiga.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan CBS menyatakan bahwa dia membuka kemungkinan bertemu langsung dengan Witkoff untuk memulai kembali negosiasi nuklir secara lebih intensif.
Araghchi mengungkapkan bahwa Iran tengah menyusun proposal baru dan meyakini kesepakatan yang “lebih baik dan lebih seimbang” dibanding Perjanjian Nuklir 2015 (JCPOA) masih dapat dicapai. Namun, dia menolak berkomentar mengenai kemungkinan skenario serangan militer dari pihak Amerika Serikat.
Iran dan Rusia Capai Kesepakatan Senjata 500 Juta Euro
Sementara itu, dinamika geopolitik semakin kompleks setelah laporan dari harian Inggris Financial Times pada 22 Februari 2026 mengungkap adanya kesepakatan pembelian senjata antara Iran dan Rusia.
Berdasarkan dokumen yang bocor dan sumber yang dikutip media tersebut, Iran disebut menyetujui perjanjian rahasia senilai 500 juta euro yang ditandatangani di Moskow pada Desember 2025.
Perjanjian tersebut mencakup:
- 500 unit peluncur portabel sistem V-8
- 2.500 rudal jenis 9M336
- Pengiriman dilakukan dalam jangka waktu tiga tahun
Sistem V-8 disebut sebagai salah satu sistem pertahanan udara terbaru Rusia yang mampu menargetkan rudal jelajah, pesawat terbang rendah, serta drone.
Langkah ini dipandang sebagai upaya Iran memperkuat sistem pertahanan udaranya di tengah ancaman serangan dari luar.
Gelombang Protes Mahasiswa Kembali Menguat
Di dalam negeri, Iran juga menghadapi tekanan internal.
Memasuki semester baru pada akhir Februari 2026, mahasiswa di sejumlah universitas di Teheran dan kota-kota besar lainnya kembali menggelar demonstrasi anti-pemerintah.
Para demonstran mengecam kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta meneriakkan dukungan terhadap putra mahkota Iran yang kini berada dalam pengasingan.
Bentrokan antara mahasiswa dan milisi pro-pemerintah dilaporkan terjadi pada 21–22 Februari 2026, menyebabkan sejumlah orang terluka.
Dalam aksi peringatan seorang pemuda yang tewas dalam demonstrasi sebelumnya, massa meneriakkan slogan: “Jika satu orang gugur, seribu akan bangkit menggantikannya.”
Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pemerintah Iran datang tidak hanya dari luar negeri, tetapi juga dari dalam negeri sendiri.
Negara-negara Asing Keluarkan Imbauan Evakuasi
Ketidakpastian situasi keamanan turut mendorong sejumlah negara mengeluarkan imbauan darurat.
India, pada 22 Februari 2026, secara resmi mengimbau seluruh warganya yang berada di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut menggunakan segala moda transportasi yang tersedia.
Imbauan tersebut muncul di tengah kekhawatiran bahwa jika negosiasi gagal, aksi militer dapat terjadi dalam waktu singkat.
Persimpangan Berbahaya
Perkembangan dalam kurun waktu 17–26 Februari 2026 menunjukkan bahwa krisis AS–Iran berada pada fase krusial.
Di satu sisi, Washington meningkatkan tekanan militer dan tidak menutup opsi serangan. Di sisi lain, Iran memperkuat pertahanan dan menjalin kerja sama militer dengan Rusia.
Sementara itu, perundingan di Jenewa menjadi satu-satunya kanal yang masih membuka peluang de-eskalasi.
Dalam situasi yang semakin kompleks ini, dunia kini menunggu apakah jalur diplomasi mampu meredam konflik — atau justru kawasan Timur Tengah kembali memasuki babak konfrontasi yang lebih luas.





