Ramadan 2026 benar-benar terasa seperti festival kuliner nasional. Sore hari bukan lagi sekadar waktu menunggu azan, tapi berubah menjadi arena berburu takjil. Di kawasan Bendungan Hilir (Benhil) Jakarta, sekitar 50 pedagang memenuhi bazar yang kembali viral tahun ini. Sejak pukul tiga sore, antrean sudah mengular. Gorengan baru matang langsung habis. Es teler dan es campur dibungkus cepat-cepat. Risol mayo dan pastel diborong untuk “jaga-jaga kalau kurang.” Beberapa pedagang bahkan mengaku omzetnya bisa menembus Rp5 hingga Rp20 juta sehari di awal Ramadan.
Pemandangan serupa juga terjadi di Jalan Panjang Kebon Jeruk, Pasar Santa, BSD, Surabaya, Yogyakarta, hingga Bali. Sore hari menjelma “jam sibuk kedua” setelah pulang kerja. Orang-orang datang bukan hanya untuk membeli makanan, tetapi juga untuk merasakan suasana. Ada sensasi FOMO—takut kehabisan—yang membuat orang rela antre panjang. Takjil bukan sekadar menu berbuka, tapi juga konten media sosial.
Namun di balik riuh rendah euforia “war takjil” itu, ada cerita lain yang jauh dari sorotan kamera.
Di sepanjang Jalan Pendidikan, Rawa Jengkol, kawasan pinggiran Tangerang Selatan, suasananya berbeda. Tenda-tenda sederhana sudah berdiri rapi sejak sore. Kolak pisang berjejer dalam wadah plastik bening. Gorengan tersusun hangat di atas tampah. Bubur sumsum dan es buah menunggu pembeli. Tapi ketika azan maghrib berkumandang, sebagian dagangan masih utuh di keranjang.
Seorang pedagang es buah yang sudah tiga tahun berjualan saat Ramadan bercerita pelan, “Biasanya jam lima sudah ramai. Tahun ini pesaingnya jauh lebih banyak. Banyak yang baru buka lapak juga, jadi pembelinya terbagi.”
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Setiap Ramadan, jumlah pelaku usaha kuliner musiman meningkat tajam. Data Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan subsektor kuliner memiliki sekitar 2,9 juta pengusaha di Indonesia, dan bulan puasa selalu menjadi momentum lonjakan aktivitas usaha. Ramadan memang musim panen—tetapi juga musim oversupply.
Di satu sisi, peluang terbuka lebar. Modal relatif kecil, perputaran cepat. Di sisi lain, ketika dalam satu gang ada belasan pedagang menjual menu yang hampir sama—gorengan, kolak, es buah—persaingan menjadi tak terhindarkan. Penjual bertambah, tetapi jumlah pembeli di lokasi non-viral tidak ikut melonjak drastis.
Ada beberapa hal yang membuat kondisi ini makin terasa. Pertama, efek FOMO dan kecenderungan berburu spot hits. Banyak pembeli lebih memilih datang ke tempat yang viral karena dianggap lebih enak atau lebih seru. Padahal takjil di pinggiran sering kali tak kalah rasa dan kualitasnya, hanya saja kurang terekspos.
Kedua, perubahan pola belanja. Kini banyak keluarga memilih pre-order lewat WhatsApp atau membeli takjil sekaligus saat belanja mingguan di supermarket. Lebih praktis, tidak perlu berdesakan atau kepanasan di jalan.
Ketiga, faktor cuaca dan timing. Gerimis kecil di sore hari saja cukup membuat pembeli enggan keluar rumah. Bagi pedagang, satu jam sepi bisa berarti puluhan porsi tidak terjual.
Tentu tidak semua pedagang mengalami penurunan. Di lokasi strategis seperti Benhil, omzet tetap tinggi. Strategi seperti bundling harga hemat, kemasan menarik, hingga inovasi menu terbukti ampuh. Namun di kawasan pinggiran seperti Rawa Jengkol, realitasnya berbeda. Ramadan memang membawa rezeki, tetapi distribusinya tidak selalu merata.
Bagi pedagang yang masih berjuang, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba: membuka sistem pre-order lewat grup WhatsApp warga, berkolaborasi dengan pedagang lain agar tidak menjual menu yang sama persis, atau membagikan sisa dagangan ke musala dan tetangga agar tidak mubazir.
Di sisi lain, sebagai pembeli, kita mungkin bisa sedikit lebih peka. Jika melewati lapak yang dagangannya masih banyak menjelang maghrib, mampir membeli satu atau dua bukan hanya soal makanan. Itu bisa menjadi dukungan kecil bagi ekonomi harian seseorang.
Ramadan selalu tentang berbagi. Euforia war takjil memang menyenangkan dan penuh warna, tetapi kadang makna yang paling dalam justru hadir di lapak sederhana yang sabar menunggu pembeli terakhirnya.
Di daerahmu bagaimana? Spot viral selalu ramai, atau ada juga yang maghribnya masih “numpuk”?
Selamat berpuasa. Semoga takjil ludes—dan rezeki merata untuk semua.





