Tidak Setiap “Maaf” Bisa Ditukar dengan Sepatah Kata “Tidak Apa-apa”

erabaru.net
11 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Mereka tumbuh besar bersama sejak kecil. Anak laki-laki sering mengajak gadis itu pergi ke kolam di luar desa untuk menangkap udang kecil.

Setiap kali, anak laki-laki selalu pulang dengan hasil melimpah, sedangkan gadis itu pulang dengan tangan kosong. Dia menahan air mata dan pulang dengan perasaan sedih.

Menjelang makan malam, anak laki-laki mengetuk pintu rumah gadis itu. Begitu melihatnya, gadis itu langsung berpaling.

Anak laki-laki mengejar dan berkata : “Maaf, aku sudah menangkap semua udangmu. Nih, aku sudah memeliharanya di akuarium kecil, ini untukmu.”

Wajah gadis itu langsung berseri, tersenyum tulus. Begitulah masa kecil mereka yang polos dan indah berlalu.

— “Maaf” yang murni.

Seiring bertambahnya usia, anak laki-laki tetap suka menggoda gadis itu hingga menangis, lalu membujuknya sampai tertawa lagi.

Dia bahkan sering diam-diam mengempiskan ban sepeda gadis itu, lalu bersembunyi dari jauh melihatnya kebingungan. Ketika gadis itu menelepon dan memarahinya, dia akan datang pura-pura menyesal, mendorong sepeda itu sambil berkata : “Maaf, aku tahu aku salah.”

Gadis itu pun melunak, menegurnya agar tak mengulangi lagi. Hari-hari mereka selalu dipenuhi tawa.

— “Maaf” yang membawa kebahagiaan.

Setelah lulus kuliah, mereka bekerja masing-masing. Pekerjaan si pria sangat sibuk, kadang sebulan tak sempat beristirahat.

Gadis itu mulai merasa diabaikan. Pertengkaran pertama pun terjadi.

Dia menangis, namun pria itu berkata dengan tegas: “Aku melakukan ini demi pekerjaanku.”

Perang dingin berlangsung lama. Akhirnya, gadis itu yang lebih dulu mengalah.

Berkali-kali mereka bertengkar karena hal serupa, dan setiap kali, gadis itu yang berkompromi.

Pada hari ulang tahunnya, pria itu berjanji akan merayakan dengan romantis. Gadis itu berdandan cantik dan menunggu hingga larut malam.

Dia tertidur dengan air mata di wajahnya. Ketika pria itu pulang, dia menghapus air matanya dan berkata:  “Maaf… maukah kamu menikah denganku?”

Dia mengeluarkan cincin.

— “Maaf” sebagai janji.

Setelah menikah, karier pria itu semakin sukses. Dia sering menghadiri berbagai acara dan pertemuan. Sementara sang istri menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, memasak makanan hangat, membersihkan rumah, dan kadang membeli udang kecil untuk dipelihara di akuarium.

Pria itu sering bertanya mengapa dia memelihara udang, dan dia hanya tersenyum lembut.

Namun perlahan, setiap kali pria itu pulang, tubuhnya beraroma parfum yang berbeda-beda.

Sebelum ditanya, ia selalu berkata:  “Maaf, terlalu banyak acara.”

Sejak itu, sang istri menjadi lebih pendiam. Dia tak lagi seceria dulu. Dia sering menghabiskan waktu di rumah, menonton drama dan menangis diam-diam di malam hari.

Suatu waktu, parfum itu hanya tersisa satu jenis aroma. Dia tak pernah bertanya lagi.

 Namun pria itu tetap berkata:  “Maaf, aku harus menghadiri acara.”

— “Maaf” sebagai awal kebohongan.

Lambat laun, pria itu semakin jarang pulang.  Kariernya semakin cemerlang, dikelilingi pujian dan sanjungan.

Sementara sang istri semakin jarang keluar rumah. Dia membeli mie instan dan kebutuhan pokok, lalu mengurung diri berhari-hari.

Dulu mereka sering berbincang bersama. Kini eia sendirian. Ketika menelepon menanyakan kapan suaminya pulang, jawabannya selalu singkat: “Maaf, aku terlalu sibuk.”

Akhirnya, dia berhenti bertanya.

— “Maaf” sebagai bentuk pengabaian.

Dia mulai belajar berdandan lagi, mencoba memperbaiki diri. Mungkin, pikirnya, suaminya bosan melihat dirinya.

Suatu hari, dia memberanikan diri mendatangi kantor suaminya. Itu pertama dan terakhir kalinya dia ke sana.

Dia menyusuri lorong panjang dan sampai di depan ruang kerja suaminya. Dia membuka pintu perlahan.

Yang dilihatnya bukan lagi suami yang dulu mencintainya, bukan lagi anak laki-laki yang mengempiskan ban sepeda, bukan pula anak kecil yang menyimpan udang di akuarium.

Yang dia lihat adalah seorang pria yang sedang berselingkuh dengan wanita lain.

Pria itu panik ketika menyadari kehadirannya. Namun gadis itu berbalik dan pergi.

Hujan deras mengguyur kota malam itu. Pria itu mengejar sambil berteriak :  “Maaf! Aku masih mencintaimu! Maaf, aku hanya mencintaimu!”

Namun dia tak pernah lagi mendengar kata-kata itu.

— “Maaf” yang terlalu menyakitkan.

Gadis itu menghilang.

Enam bulan kemudian, pria itu menerima sebuah paket. Di dalamnya ada banyak spesimen udang kecil yang diawetkan, dan sebuah surat.

Dalam surat itu tertulis bahwa dia belajar hidup sendiri, belajar mencari nafkah, belajar mencintai dirinya sendiri. Dia tidak lagi menunggu, tidak lagi menyalakan ponsel 24 jam demi menanti kabar.

Dia menyatakan ingin bercerai.  “Maaf… aku benar-benar lelah.”

Pria itu mencari alamat tersebut dengan harapan bisa memohon maaf dan memulai kembali.

Namun yang membuka pintu adalah ayah sang gadis. Di belakangnya tergantung foto sang gadis—foto duka.

Ayahnya berkata, setelah menulis surat itu, gadis itu melompat dari gedung dan mengakhiri hidupnya.

— Ternyata “Maaf” juga bisa menjadi akhir.

Tahun itu, pria itu menjadi gila.

Setiap orang pasti akan bertemu seseorang dalam hidupnya yang benar-benar layak untuk dihargai.

Hargailah orang itu. Karena tidak setiap kata “maaf” bisa ditukar dengan “tidak apa-apa”.

Berhati-hatilah dalam berbicara dan bertindak. Tidak ada obat untuk penyesalan.

Temani dan cintai orang yang seharusnya kamu jaga. Hidup itu berharga, cinta lebih berharga lagi.

Renungan

Satu kalimat yang sama—“Maaf”—dalam situasi berbeda bisa terasa manis, lucu, getir, menyakitkan, bahkan penuh kebohongan.

Karena itu, berhati-hatilah dalam berkata dan bertindak. Bertanggung jawablah atas setiap pilihan.

Sebab tidak setiap “maaf” akan selalu dijawab dengan “tidak apa-apa”. (jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
MR.D.I.Y. Luncurkan Kampanye Berkah Ramadan: Permudah Masyarakat Berbagi Lewat 3 Program Utama
• 16 jam laludisway.id
thumb
Tim RAGA Polres Inhil Bubarkan Balap Liar Jelang Sahur, 14 Motor Disita
• 14 jam laludetik.com
thumb
Agrinas Pangan Klaim Hemat Rp 46 T dari Impor 105 Ribu Pikap India
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Satgas Anti Tawuran Polda Metro Berhasil Tekan Tawuran Timbulkan Korban Jiwa
• 18 jam laludetik.com
thumb
Sidang Nadiem, Co Founder Gojek Ungkap Alasan Perlu Kerja Sama dengan Google
• 18 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.