“Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil hamdu”
Suara takbir menggema di Pusat Pelatihan Seni Budaya (PPSB) Kisam bin Djiun, Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (24/2/2026). Suara takbir itu bukan menandakan Idul Fitri segera tiba, melainkan penampilan para peserta di Festival Beduk 2026.
Sejak pagi, Fahmi Alwan (31) sibuk bersiap untuk tampil di festival yang setiap tahun rutin digelar Dinas Kebudayaan Jakarta. Fahmi tidak sendiri, ia bersama delapan rekannya akan tampil di urutan ke-14. Mereka menjadi salah satu kontestan yang mewakili Kecamatan Cakung.
Tahun ini menjadi tahun keempat Fahmi mengikuti festival beduk. Ia bersama Sanggar Seni Nurul Hidayah sering keluar menjadi juara di setiap festival. Walau demikian, Fahmi tetap melakukan persiapan dan latihan untuk festiva beduk tahun ini.
“Biasanya kita tiga minggu sebelum tampil sudah persiapan dan latihan. Kita ingin menampilkan yang terbaik,” ujar Fahmi saat bersiap sebelum tampil.
Fahmi mengapresiasi adanya festival beduk ini. Menurut dia, beduk sudah menjadi salah satu ikon dari budaya Betawi. Festival ini menjadikan beduk bukan hanya sebagai alat pukul penanda adzan atau malam takbiran, tapi juga menjadi sebuah alat musik yang dapat dilombakan.
Para peserta festival beduk ini tidak hanya menampilkan kekompakan menabuh beduk. Mereka juga berlomba memperlihatkan koreo sebagai pemanis penampilan mereka. Tidak hanya itu, para peserta pun mengenakan pakaian yang unik dan penuh warna.
Salah satu peserta yang mengenakan pakain unik ialah Ahmad Ibnu Fahrimansyah (17) bersama rekan-rekannya dari SMAN 58. Mereka mengenakan pakain khas adat Jawa. Pemilihan itu sebagai bentuk penghargaan kepada Sunan Kalijaga yang menggunakan beduk sebagai alat untuk menyiarkan Islam di tanah Jawa.
Berbeda dengan Fahmi yang sudah sering mengikuti festvial beduk, tahun ini menjadi tahun pertama Ibnu dan teman-temannya mengikuti festival beduk. Persiapan mereka terbilang singkat, yakni hanya dua minggu jelang hari perlombaan. Karena itu mereka berlatih dengan giat bahkan sampai malam hari.
“Latihan yang betul-betul serius sebenarnya satu minggu kebelakang. Kita langsung diajarkan oleh pelatih dari luar sekolah,” ucap Ibnu.
Walau baru pertama kali dan menjadi salah satu peserta termuda, mental Ibnu tidak goyah. Menjelang penampilannya ia sedikit mengingat-ngingat kembali gerakan dan kekompakan menabuh beduk.
Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur, Berkah Shadaya menjelaskan, tahun ini terdapat 28 peserta yang terdiri dari siswa sekolah hingga masyarakat umum. Para pemenang akan memperoleh trofi, piagam penghargaan, serta uang pembinaan. Juara harapan 2 diberikan Rp 6,5 juta, juara harapan 1 mendapatkan Rp7,5 juta, juara 3 Rp 8,5 juta, juara 2 Rp 10 juta, dan juara 1 mencapai Rp 12,5 juta. Para pemenang tiga besar akan mewakili Jakarta Timur untuk bertanding di tingkat provinsi pada 7 Maret 2026 mendatang.





