Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Eng Hian menegaskan pemilihan turnamen bagi pemain pelapis tetap berorientasi pada gelar, bukan sekadar mengumpulkan poin.
Menurut Eng Hian, PBSI menerapkan sistem levelisasi dalam program pembinaan. Baik pemain elite maupun pelapis, target akhirnya tetap sama, yakni meraih gelar.
“Untuk pelapis tentu ada program levelisasi. Yang diharapkan adalah pencapaian gelar. Dengan gelar itu otomatis ranking point akan terdongkrak. Daripada ikut banyak turnamen tapi tidak ada hasil, peningkatan ranking juga tidak maksimal,” ujar Eng Hian ketika ditemui wartawan termasuk tvrinews.com di Pelatnas Cipayung PBSI, Jakarta, Selasa, 24 Februari 2026.
Dalam struktur pelatnas, kategori Pratama dibagi menjadi Pratama A dan Pratama B. Pratama A merupakan pemain yang sudah lebih lama berada di pelatnas, dengan target juara di level Super 100.
Jika berhasil, mereka akan mendapatkan tambahan turnamen sebagai reward sekaligus naik status menjadi Utama. Sementara Pratama B, yang umumnya pemain baru, ditargetkan meraih gelar di level International Challenge.
Di level Utama pun pembagian masih dilakukan menjadi Utama B, Utama A, dan Elite. Utama B merupakan pemain yang sudah meraih gelar Super 100 tetapi belum menembus Super 300.
Utama A adalah pemain yang sudah meraih gelar Super 300, sehingga untuk mendapatkan bonus tambahan mereka didorong mengejar level Super 500 ke atas.
“Reward diberikan kalau juara. Kami memang mengejar juara,” kata Eng Hian.
Terkait pemain elite, Eng Hian menyebut Anthony Sinisuka Ginting untuk musim ini masuk kategori Utama B karena pencapaian pada 2025 dinilai menurun.
Sementara untuk Daniel Marthin, statusnya belum dibahas lebih lanjut karena masih menunggu kepastian kembalinya ke kompetisi. Eng Hian menyebut kebutuhan dan fase yang akan dijalani Daniel bisa berbeda dengan Ginting.
Eng Hian menegaskan PBSI tidak membatasi pemain untuk tampil di turnamen level tinggi seperti Super 750 atau Super 1000. Namun, penurunan pemain harus memiliki tujuan yang jelas.
“Atlet level 300 boleh ikut 750 atau 1000. Tapi sasarannya apa? Kalau untuk exposure dan pengalaman, itu pasti kami beri. Tapi target tetap harus jelas,” ucap Eng Hian.
Ia juga menepis anggapan bahwa PBSI membatasi partisipasi turnamen. Menurutnya, program akselerasi tetap berjalan, terutama menjelang kualifikasi Olimpiade. Namun, partisipasi harus dibarengi prestasi.
“Kalau ikut 20 turnamen hasilnya cuma delapan besar, itu juga jadi pertimbangan,” tutur Eng Hian.
Dengan sistem ini, PBSI berharap pembinaan berjalan lebih terarah, sekaligus memacu atlet untuk tidak sekadar tampil, melainkan membawa pulang gelar.
Baca juga : Eng Hian Jelaskan Rotasi Pelatih Ganda Putra
Editor: Redaktur TVRINews





