EtIndonesia. Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan menggelar putaran ketiga perundingan nuklir pada Kamis, 26 Februari 2026, di Jenewa, Swiss. Pertemuan ini dipandang sebagai momen penentuan di tengah meningkatnya ketegangan militer dan tekanan politik yang terus menguat dalam beberapa hari terakhir.
Di saat jalur diplomasi masih dibuka, sinyal konfrontasi justru semakin jelas.
Sinyal Keras dari Gedung Putih
Pada 23 Februari 2026, sejumlah media Amerika mengutip sumber internal pemerintahan yang menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump telah menyiapkan opsi militer apabila perundingan di Jenewa gagal mencapai kesepakatan.
Menurut laporan tersebut, Pentagon telah menyusun rencana operasi bertahap. Tahap awal disebut mencakup serangan militer terbatas namun berdampak strategis, termasuk:
- Serangan udara terhadap fasilitas Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC)
- Target infrastruktur nuklir Iran
- Fasilitas yang terkait dengan program rudal balistik
Sumber yang sama menyebutkan bahwa jika serangan terbatas tidak mampu memaksa Teheran berkompromi, Gedung Putih tidak menutup kemungkinan meluncurkan operasi berskala lebih besar, termasuk skenario yang dapat mengguncang struktur kepemimpinan Iran.
Dalam pernyataan publiknya pada 23 Februari, Trump menegaskan bahwa dia tetap mengutamakan kesepakatan damai. Namun dia memperingatkan, apabila negosiasi gagal, “itu akan menjadi hari yang menyedihkan bagi Iran.”
Iran Tawarkan Konsesi Terakhir
Sementara itu, laporan Reuters pada 23 Februari menyebutkan bahwa Iran bersedia menawarkan konsesi baru dalam perundingan mendatang.
Teheran dikabarkan siap:
- Memberikan pembatasan tambahan dalam aktivitas nuklir tertentu
- Membuka ruang transparansi yang lebih luas
Namun dengan dua syarat utama:
- Sanksi ekonomi internasional dicabut secara signifikan
- Iran tetap diizinkan melakukan pengayaan uranium untuk tujuan sipil
Diplomat Barat menilai tawaran ini sebagai upaya diplomatik terakhir sebelum risiko konflik militer meningkat tajam.
Israel dan Kawasan Siaga
Pada hari yang sama, Channel 14 melaporkan bahwa Amerika Serikat telah menyelesaikan seluruh persiapan operasional untuk kemungkinan serangan terhadap Iran. Keputusan akhir kini berada di tangan Gedung Putih.
Di tengah situasi tersebut:
- Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio melakukan kunjungan ke Israel.
- Departemen Luar Negeri AS memerintahkan evakuasi staf non-esensial dari Kedutaan Besar AS di Beirut, Lebanon.
- Pemerintah Irak meminta mahasiswanya segera meninggalkan Iran.
- Pemerintah India juga mendesak warganya untuk keluar dari wilayah Iran.
Langkah-langkah ini memperkuat kesan bahwa kawasan Timur Tengah memasuki fase siaga tinggi menjelang 26 Februari.
Pesan Misterius dan Perang Psikologis
Di dalam negeri Iran, ketegangan juga meningkat. Laporan menyebutkan sekitar 50.000 warga Iran menerima pesan singkat anonim berbahasa Persia yang berbunyi: “Presiden Trump adalah sosok yang bertindak nyata. Kita lihat saja nanti.”
Belum diketahui pihak mana yang berada di balik pesan tersebut. Namun sejumlah analis menilai ini sebagai bagian dari tekanan psikologis di tengah situasi yang semakin sensitif.
Trump Bantah Isu Perpecahan Internal Militer
Di Washington, muncul laporan bahwa Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Kane, memperingatkan Trump bahwa menyerang Iran dapat memicu perang berkepanjangan dengan korban besar.
Trump membantah keras laporan tersebut. Dia menyatakan bahwa Jenderal Kane tidak pernah menolak opsi militer, melainkan hanya menyampaikan risiko strategis.
Menurut Trump, keputusan akhir tetap berada di tangannya sebagai panglima tertinggi. Dia menegaskan kembali preferensinya terhadap solusi damai, namun tidak akan ragu menggunakan kekuatan jika diperlukan.
Dalam pernyataan yang lebih tegas, Trump bahkan menyatakan harapannya agar terjadi perubahan rezim di Iran, dengan alasan bahwa selama hampir lima dekade dialog berlangsung, ketegangan tetap berulang dan korban terus berjatuhan.
Persiapan Suksesi di Teheran
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei dilaporkan telah menyiapkan skenario darurat jika terjadi serangan terhadap pucuk pimpinan negara.
Dia disebut menunjuk Ali Larijani sebagai figur kunci dalam mekanisme suksesi. Selain itu, untuk setiap posisi militer dan pemerintahan, telah disusun empat tingkat suksesi guna memastikan kelangsungan struktur rezim apabila terjadi skenario ekstrem.
Langkah ini menunjukkan bahwa Teheran tidak menganggap ancaman serangan sebagai sekadar retorika politik.
Sikap Rusia dan Tiongkok
Dua sekutu utama Iran, Rusia dan Tiongkok, hingga kini belum menunjukkan indikasi akan memberikan dukungan militer langsung jika Amerika Serikat melakukan serangan.
Namun, dokumen yang disebut bocor mengindikasikan adanya kesepakatan senjata rahasia senilai 500 juta euro antara Rusia dan Iran. Sementara itu, Tiongkok dilaporkan membantu dalam pengembangan teknologi pertahanan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan menghadapi pesawat siluman Amerika.
Meski demikian, analis keamanan menilai kecil kemungkinan Moskow dan Beijing terlibat langsung dalam konflik terbuka dengan Washington.
Pekan Penentuan
Dengan perundingan dijadwalkan pada 26 Februari 2026 di Jenewa, banyak pengamat menyebut pekan ini sebagai momen paling krusial dalam hubungan AS–Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Dua kemungkinan kini terbuka:
- Iran menerima kompromi signifikan demi pencabutan sanksi
- Atau negosiasi runtuh dan membuka babak baru konfrontasi militer
Apakah diplomasi masih memiliki ruang? Ataukah dunia sedang bergerak menuju eskalasi yang lebih luas?
Jawabannya mungkin akan mulai terlihat pada Kamis mendatang di Jenewa.





