jpnn.com, BANDUNG - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat tengah mempelajari penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan pemilahan sampah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat, Ai Saadiyah Dwidaningsih mengatakan pemerintah beraudiensi dengan perusahaan swasta yang memiliki terobosan teknologi pemilah sampah berbasis AI.
BACA JUGA: Pertamina Patra Niaga Terus Perkuat Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Berbagai Wilayah
Perusahaan itu mengklaim teknologi yang dimiliki bisa memilah sampah berdasarkan karakteristik. Sehingga, sampah yang masih punya nilai ekonomi atau valuable goods bisa terpisah secara otomatis.
"Ini sebenarnya sesuai dengan UU Persampahan bahwa pemilahan sampah mulai dari rumah. Ini terobosan yang baik," kata Saadiyah, Selasa (24/2/2026).
BACA JUGA: Wali Kota Bandung Ajak Pengelola Kawasan Wisata Perkuat Pengelolaan Sampah Mandiri
Meski teknologi itu bagus, Saadiyah mengungkapkan adanya sejumlah tantangan saat diaplikasikan di lapangan. Beberapa di antaranya masyarakat yang belum mengenal jenis dan komposisi sampah.
"Yang masih jadi PR antara sampah organik dan non-organik, masih bercampur. Kalau alat ini mau piloting terlebih dahulu di perkantoran seperti Gedung Sate, sekolah, hotel, hingga mal. Ke depan mungkin bisa kerja sama dengan bank sampah atau TPS 3R," jelasnya.
Lebih lanjut, Saadiyah menyatakan, penerapan teknologi pemilah sampah berbasis AI belum bisa langsung di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka, karena alat itu harus ada penyesuaian.
Mengingat, Badan Usaha Pelaksana (BUP) memberikan syarat sampah yang masuk ke TPPAS Legok Nangka memiliki kualitas kalori tertentu.
Apabila ke depannya Pemprov Jawa Barat akan menggunakan teknologi pemilah sampah berbasis AI, besar kemungkinan di tempat transit sampah bukan di TPPAS Legok Nangka.
"Sampah yang masuk ke Legok Nangka harus memiliki kualitas kalori tertentu. Penerapan mungkin bisa di tempat transit sebelum ke Legok Nangka. Belum kontrak, alatnya juga belum masif. Dari lima atau enam fase, saya lihat mereka baru dua fase," terangnya.
Adapun untuk merealisasikan rencana tersebut, Pemprov Jabar tengah menjalin komunikasi dengan pihak swasta, salah satunya PT Cakrawala Investama Andalan.
Wakil Gubernur Jawa Barat (Wagub Jabar) Erwan Setiawan mengatakan teknologi pemilah sampah berbasis AI ini dinilai bisa mendukung operasional TPPO Legok Nangka di Kabupaten Bandung.
Sebab, teknologi mengubah sampah menjadi tenaga listrik di TPPAS Legok Nangka, tidak semua sampah bisa diolah.
"Kami sangat menyambut baik. TPPAS Legok Nangka akan groundbreaking (tahun ini), tapi bisa setiap sampah langsung masuk ke sana, ada pemecahannya. Kalau pakai AI bisa lebih cepat, mana yang harus didaur ulang dan dihancurkan," kata Erwan.
Selain mendukung operasional TPPAS Legok Nangka, Erwan menyebut, teknologi itu bisa mengefektifkan pemilahan sampah. Meskipun edukasi pemilahan sampah ke masyarakat tetap berlangsung.
"Edukasi ke masyarakat ya tetap. Tapi masyarakat kalau sudah memilah, membuang tetap tercampur. Kalau ini bisa efektif, tidak seperti sekarang manual," ujarnya.
Kendati begitu, Erwan belum bisa memastikan Pemprov Jawa Barat akan menggunakan teknologi itu untuk skala besar atau tidak. Walaupun, pihaknya berencana menerima sejumlah unit prototipe dari perusahaan tersebut.
"Sekarang sudah ada di Cikarang (Bekasi), di perkantoran, tetapi kapasitasnya masih 60 liter. Mungkin ke depan akan berkembang untuk skala TPS atau TPA. Perusahaan akan menghibahkan prototipe ke provinsi," ujarnya.
Sementara itu, perwakilan dari Recycle Tech, Yolanda mengatakan, pihaknya dan PT Cakrawala Investama Andalan sedang mengembangkan tong sampah pintar berbasis AI.
Tong sampah pintar berbasis AI itu memiliki kamera untuk memindai jenis sampah, lalu nantinya akan terpilah secara otomatis sesuai jenisnya.
"Ada kamera yang bisa lihat sampahnya itu kayak apa. Ada lima kantor buat plastik, logam, kaca, kertas, dan sampah umum," kata Yolanda. (mcr27/jpnn)
Redaktur : Elvi Robiatul
Reporter : Nur Fidhiah Sabrina




