Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) buka suara terkait kekhawatiran dampak tarif 19% dari Amerika Serikat (AS) terhadap kinerja ekspor nasional dan neraca perdagangan Indonesia pada 2026.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan kebijakan tarif tersebut tidak berdampak signifikan terhadap ekspor Indonesia maupun posisi neraca dagang.
“Oh, nggak, nggak [potensi dampak tarif AS terhadap ekspor tahun ini dan neraca dagang],” kata Budi saat ditemui seusai konferensi pers di Pintu Timur VIP Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (24/2/2026).
Dia juga memastikan kinerja perdagangan Indonesia masih surplus. Menurutnya, surplus perdagangan Indonesia masih kuat, terutama dengan sejumlah mitra dagang utama.
“Surplus nomor satu kita itu ke Amerika, nomor dua ke India. Ya, jadi nggak ada masalah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Budi menjelaskan sejumlah komoditas pertanian Indonesia juga dibebaskan tarif alias 0% ke Negara Paman Sam, seperti CPO hingga kakao.
Baca Juga
- Mendag Buka Suara soal Gaduh Produk AS Masuk Tanpa Label Halal
- Kemendag Bakal Duduk Bareng E-commerce Bahas Revisi Permendag No. 31/2023
- RI Beri Tarif 0% untuk Gandum & Kedelai AS, Mendag Bilang Begini
Selain itu, dia juga menegaskan bahwa barang-barang yang diimpor dari AS merupakan komoditas yang memang dibutuhkan untuk mendukung kebutuhan dalam negeri.
“Kan kalau yang dari AS, yang sekarang juga mendekati 0% kan sudah banyak. Yang kedua, barang-barang yang kita impor kan, barang-barang yang memang kita butuhkan,” terangnya.
Dalam kesepakatan dagang resiprokal (Agreements on Reciprocal Trade/ART), sebanyak 173 pos tarif (HS Code) yang mencakup 53 kelompok komoditas pertanian dan turunannya dibebaskan dari bea masuk ke pasar AS. Secara keseluruhan, terdapat 1.819 pos tarif produk Indonesia, baik sektor pertanian maupun industri, yang mendapatkan fasilitas tarif 0%.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan sejumlah komoditas strategis yang masuk daftar bebas tarif mencakup minyak sawit, kakao, kopi, rempah-rempah, hingga produk turunan lainnya.
“Dalam ART ini ada 1.819 pos tarif produk Indonesia baik itu pertanian maupun industri antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang, yang tarifnya adalah 0%,” ujar Airlangga, Jumat (20/2/2026).
Dari sektor pertanian komoditas yang memperoleh fasilitas tarif 0% terdiri dari buah tropis seperti pisang, nanas, mangga, durian, dan pepaya. Diikuti kopi dengan enam pos tarif, teh hijau dan teh hitam, serta aneka rempah strategis seperti lada, pala, cengkih, kayu manis, kapulaga, jahe, dan kunyit.
Selain itu, kakao beserta produk turunannya, minyak sawit, palm kernel oil, serta buah dan inti kelapa sawit turut tercantum dalam daftar komoditas yang dibebaskan dari tarif. Fasilitas serupa juga diberikan kepada produk olahan buah, tepung dan pati berbahan dasar singkong serta sagu, hingga pupuk mineral berbasis kalium.





