Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Davos
Partisipasi Indonesia dalam World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, resmi berakhir dengan sederet hasil nyata bagi masa depan ekonomi nasional. Dipimpin oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, delegasi Indonesia sukses mengonversi ruang dialog di Indonesia Pavilion menjadi kesepakatan konkret yang memperkuat posisi RI sebagai magnet investasi berkualitas di kancah global.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan P. Roeslani menjelaskan bahwa paviliun tersebut menjadi jendela bagi dunia untuk melihat kesiapan Indonesia dalam menyambut investor global melalui berbagai kebijakan dan regulasi yang semakin terbuka.
“Kita menampilkan beberapa hal (di Indonesia Pavilion), baik dari pihak pemerintah, dunia usaha, Kadin dan lain-lain. Kita menampilkan rencana Indonesia ke depan, bagaimana kita bisa semakin terbuka, baik dari segi kebijakan dan regulasi. Kita juga menampilkan berbagai peluang prioritas, terutama di bidang energi baru terbarukan, sumber daya manusia, keuangan dan lain-lain,” jelas Rosan dalam keterangan yang dikutip pada Selasa, 24 februari 2026.
Kehadiran Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, semakin memperkuat posisi Indonesia di forum tersebut. Dalam pidato khususnya yang bertajuk Indonesia’s Story: Stability and Growth, Presiden menekankan bahwa stabilitas merupakan kekuatan utama Indonesia dalam menjaga iklim bisnis dan investasi.
“Kami mendampingi pak Presiden di forum utama WEF yang menunjukkan gambaran yang sangat komprehensif mengenai apa yang sudah kita lakukan, dan juga nilai-nilai yang akan kita praktikkan ke depannya. Bapak Presiden menyampaikan bahwa stabilitas bisnis merupakan kekuatan kita yang harus selalu kita jaga, dan ini berdampak positif baik dari segi perekonomian, investasi, politik dan lain-lainnya,” papar Rosan.
Sekretaris Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Rudy Salahuddin, menambahkan bahwa partisipasi tahun ini membuahkan hasil yang sangat produktif dengan puluhan pertemuan strategis yang melibatkan pemerintah maupun pelaku usaha global.
“Selama penyelenggaraan WEF 2026, terdapat total sebanyak 9 seminar/diskusi panel di Indonesia Pavilion; 4 pertemuan pemerintah dengan pemerintah (G-to-G); 9 pertemuan pemerintah dengan pelaku usaha global (G-to-B), serta puluhan pertemuan antar pelaku usaha (B-to-B),” jelasnya.
Beberapa capaian konkret yang berhasil diraih antara lain penandatanganan framework agreement dengan Pemerintah Yordania, serta pertemuan intensif dengan perusahaan raksasa dunia seperti Apple, Sumitomo, hingga Embraer.
Sementara itu, Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal, Nurul Ichwan, menegaskan pentingnya keterlibatan Indonesia dalam forum ini agar tetap berada dalam radar keputusan investasi global. Melalui orkestrasi nasional yang ditampilkan di Davos, Indonesia diharapkan dipandang sebagai alternatif tujuan investasi strategis yang memiliki stabilitas tinggi.
Menutup rangkaian kegiatan tersebut, Rosan P. Roeslani menekankan tiga pesan utama dari WEF 2026 bagi kebijakan investasi ke depan, yakni ketatnya persaingan global, peran vital teknologi dan energi, serta pentingnya hilirisasi yang berkelanjutan.
“WEF Annual Meeting 2026 menyampaikan tiga pesan penting, yaitu bahwa persaingan global semakin ketat; teknologi dan energi akan menjadi dua fondasi utama investasi masa depan; serta pentingnya hilirisasi yang ditopang oleh investasi yang berkualitas dan berkelanjutan. Indonesia berada dalam posisi strategis untuk merespons dinamika tersebut, dengan stabilitas ekonomi dan politik yang terjaga, sumber daya yang kompetitif, serta komitmen kuat Pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif. Ke depan, fokus kita adalah memastikan bahwa setiap peluang yang terbangun di forum global seperti WEF dapat ditindaklanjuti secara konkret melalui kemitraan, realisasi investasi, dan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Editor: Redaktur TVRINews





