Kedai Ini Hanya Jual 30 Burger Sehari tapi Selalu Dicari

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Di tengah tren bisnis kuliner yang berlomba menjual sebanyak mungkin produk setiap harinya, satu kedai burger di Pasar Baru, Jakarta Pusat, justru memilih jalan sebaliknya. Ya, kedai yang bernama Jungen Joint ini hanya memproduksi 30 burger per harinya, tidak kurang dan tidak lebih.

Keputusan ini bukan karena keterbatasan bahan, tapi demi menjaga kualitas rasa sekaligus keseimbangan hidup sang pemilik. “Alasannya capek," kata Dewi sambil tertawa.

Dewi bercerita bahwa tubuhnya memiliki batas, terlebih ia merupakan seorang cancer survivor. "Saya harus maintenance badan juga. Biasanya kalau sudah mendekati 25 sampai 30 burger, saya mulai unfocus dan benar-benar loyo. Jadi lebih baik jual 30 saja, tapi rasa dan kualitas tetap konsisten,” kata dia saat berbincang dengan kumparanFOOD.

Karena penasaran, kumparanFOOD pun memutuskan untuk mencobanya. Beruntung, saat datang pada hari kerja sekitar pukul 13.00 WIB, masih tersisa lima burger. Buat kamu yang mau ke sini, sebaiknya datang lebih awal agar tidak kehabisan, terlebih kedai ini sudah buka sejak pukul 11.00 WIB.

Menu yang masih tersedia saat itu antara lain jungen signature, fries, the franck, potato wedges, dan minuman. Menariknya, semua burger di sini dibuat homemade, mulai dari patty hingga bun-nya.

Dari segi porsi, satu burgernya memang cukup besar dan bisa dimakan dua orang. Sejak gigitan pertama, rotinya terasa lembut, patty-nya tebal dan juicy, apalagi dipadukan dengan onion ring yang renyah.

Selain burger, potato wedges di sini juga menarik dicoba. Rasanya gurih dengan bagian luar renyah, terutama di kulitnya dan bagian dalamnya yang lembut. Untuk minuman, root beer mereka punya rasa yang mengingatkan pada minuman saparella atau 'cola jawa'.

Menurut Dewi, keunikan burger buatannya terletak pada penggunaan rempah. Jika burger ala Amerika umumnya hanya memakai salt and paper, Jungen justru menggunakan racikan rempah yang memberi sentuhan rasa Timur Tengah.

Awalnya Hanya Lima Burger Sehari

Perjalanan Jungen ternyata tak selalu mulus. Saat pertama kali buka di masa pandemi, kedai ini hanya melayani take away dan penjualannya sangat lambat.

Selama hampir satu tahun, pembeli bisa dihitung jari. Bahkan dalam seminggu terkadang hanya satu orang yang datang. Situasi itu sempat membuat Dewi hampir menyerah dan berpikir untuk menutup usaha.

Namun menjelang ulang tahun pertama toko, seorang pelanggan mengunggah pengalamannya ke TikTok. Video tersebut viral dan membuat Jungen mulai dikenal luas. Sejak saat itu, pembeli berdatangan dan mulai mengantre sejak pagi, terutama di akhir pekan.

“Biasanya yang datang jauh-jauh kalau weekend, karena kan kalau jauh-jauh itu gak mungkin ngejar waktu dari jam 11 sampai jam 5 sore, makanya jauh-jauh itu pasti datangnya di hari Minggu. Mereka rela, tadi ada yang dari Jogja,” katanya.

Menurut Dewi, sejak awal Jungen memang tidak pernah menjual dalam jumlah besar. Di hari-hari pertama, mereka hanya membuat lima burger per hari. Jumlah itu meningkat perlahan menjadi 10, 15, hingga akhirnya menetap di angka 30.

Setiap kenaikan produksi dilakukan hati-hati. Dewi dan anaknya tidak memiliki latar belakang di dunia F&B, sehingga mereka membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk meracik resep yang benar-benar konsisten.

Dewi bercerita, usaha ini sebenarnya digagas oleh sang anak. Setelah pensiun dari dunia periklanan, sang ibu merasa tak betah jika tidak memiliki aktivitas. Ketika anaknya ingin membuka usaha, ia pun memilih untuk membantu.

Awalnya, konsep yang diinginkan bukan burger, melainkan toko sandwich. Namun, sandwich dianggap memiliki isian yang lebih “high-end” sehingga mungkin sulit langsung dikenal masyarakat luas. Akhirnya, burger dipilih sebagai langkah awal karena lebih mudah diterima banyak orang.

“Burger itu seperti bakmi, semua orang suka. Kalau nanti mau naik kelas ke sandwich, orang sudah kenal dulu,” ujarnya.

Untuk nama Jungen sendiri diambil dari nama keluarga almarhum suami Dewi. Awalnya, ia sempat ingin menggunakan nama mendiang suaminya, namun, setelah berdiskusi dengan keluarga, akhirnya dipilihlah nama keluarga yang dinilai lebih menarik dan mudah diingat.

Meski kini ramai pengunjung, Jungen Joint belum berencana membuka cabang atau pindah ke ruko. Penjualan pun masih dibatasi hanya secara langsung, tanpa layanan online. Alasannya sederhana, agar pelanggan yang rela datang dari jauh tidak kehabisan.

“Kasihan yang datang jauh-jauh pasti gak kebagian. Kalau dibuka online yang deket sini aja bisa habis 30,” jelas dia.

Saat ini Jungen Joint masih beroperasi dari rumah, sesuai konsepnya sebagai usaha rumahan dengan ruang yang benar-benar terbatas. Di area teras hanya ada beberapa kursi, tapi justru dari sini pengunjung bisa melihat langsung Dewi menyiapkan burger satu per satu.

Suasananya terasa akrab, bukan seperti datang ke kedai, tapi lebih seperti mampir ke rumah teman. Dewi juga dikenal ramah dan sering mengajak pelanggan mengobrol santai sambil menunggu pesanan selesai. Namun karena tempatnya kecil, sebaiknya pengunjung tidak duduk terlalu lama ya supaya pelanggan lain juga bisa kebagian tempat.

Gimana, tertarik untuk mencobanya?

Jungen Joint

Alamat: Jl. Kelinci Raya No.30, Ps. Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710

Jam buka: 11.00 - habis

Tutup setiap hari Senin


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Respons Cepat Polisi Tindak Pemukul Petugas SPBU di Jaktim
• 1 jam laludetik.com
thumb
Wanita Tak Pernah Bayar Makan hingga Ongkos Ojol di Jakbar Diburu Dinas Sosial
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
Turis Tak Lagi Bisa Ikut Ujian Bahasa Jepang JLPT
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Ketua KPK Minta Sekjen dan Biro Hukum Telaah Putusan KIP soal TWK
• 3 jam laluokezone.com
thumb
Ledakan di Stasiun Moskow Tewaskan Seorang Polisi, Dua Lainnya Terluka
• 2 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.