Aroma Bala-Bala di Senja Laswi: Kisah Chef Prancis yang Temukan Makna Ramadan

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Senja merambat perlahan di Jalan Laswi, Kota Bandung. Lalu lintas masih padat, kendaraan merayap di antara klakson yang bersahutan dan langkah pejalan kaki yang terburu menuju rumah.

Di tepi jalan, tepat di depan Penka 1967 sebuah tempat nongkrong anak muda, aroma gorengan hangat menyebar di udara. Di balik meja sederhana, seorang pria berlogat asing tersenyum sambil menyerahkan paket takjil kepada pengendara yang berhenti sejenak.

Dialah Chef David Cailleba, juru masak asal Prancis yang memilih menghabiskan sore Ramadan dengan membagikan takjil gratis kepada siapa pun yang melintas.

“Hari ini kita mulai bagi-bagi takjil. Ada es campur dan bala-bala,” katanya sambil memastikan paket-paket tersusun rapi.

Tak ada sekat formal antara chef internasional ini dan warga yang antre. Ia berdiri sejajar dengan relawan, menyapa setiap orang dengan senyum hangat. Bagi David, kegiatan ini bukan sekadar berbagi makanan, melainkan berbagi rasa kebersamaan.

Penka 1967 dipilih bukan tanpa alasan. Lokasinya berada di jalan besar yang ramai dilalui pengendara menjelang waktu berbuka puasa.

“Di sini tempat nongkrong anak muda dan jalannya ramai, jadi cocok untuk berbagi,” ujarnya saat ditemui, Selasa (24/2).

Kegiatan berbagi takjil ini berlangsung selama lima hari berturut-turut, dari Selasa hingga Sabtu. Setiap hari, sekitar 200 paket disiapkan dan dibagikan secara gratis.

Di antara menu takjil yang dibagikan, bala-bala menjadi primadona. Gorengan khas Sunda ini dipilih bukan sekadar pelengkap.

“Saya suka bala-bala. I love bala-bala, Orang Sunda juga suka. Harus ada bala-bala dan cabai rawit saat buka puasa untuk saya ” katanya sambil tertawa ringan.

Pilihan menu sederhana ini justru memperlihatkan kedekatannya dengan budaya lokal. Ia tidak membawa menu Eropa yang rumit, melainkan makanan yang akrab di lidah masyarakat.

Bagi Chef David, berbagi takjil adalah wujud nyata kepedulian sosial yang diajarkan dalam Islam.

“Kita harus peduli satu sama lain dan menolong ketika orang lain kesusahan,” tuturnya.

Menjelang waktu berbuka, ia menyempatkan diri menyampaikan pesan kepada masyarakat yang berkumpul.

“Sebentar lagi kita buka puasa. Semoga Allah menerima amal semua orang yang berpuasa,” ucapnya.

Ia mengingatkan bahwa Ramadan adalah bulan yang indah dan berlalu dengan cepat, sehingga harus diisi dengan amal kebaikan.

“Coba tambah amal kita. Jangan lupa senyum itu ibadah, itu juga dakwah,” pesannya.

Satu per satu pengendara menerima paket takjil dengan wajah lega. Ada yang tersenyum, ada yang mengucapkan terima kasih, ada pula yang langsung membuka bungkus bala-bala sambil menunggu azan magrib.

Di tengah hiruk pikuk kota, aksi sederhana ini menghadirkan ruang kehangatan yang langka, pertemuan antara budaya, kepedulian, dan spiritualitas.

Seorang chef dari Prancis, gorengan khas Sunda, dan Ramadan di Bandung merupakan perpaduan yang mungkin terdengar biasa, namun di Jalan Laswi sore itu, semuanya terasa istimewa.

Karena terkadang, makna Ramadan tidak hadir dalam hal besar, melainkan dalam sebungkus bala-bala hangat dan senyum tulus yang dibagikan kepada sesama.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Soal Transfer Data Lintas Negara, Legislator Singgung Amanat UU PDP Bentuk Lembaga
• 7 jam lalujpnn.com
thumb
Korban Penusukan Debt Collector di Tangerang Jalani Operasi
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Kisaran Biaya Kuliah dan Uang Saku Dwi Sasetyaningtyas dan Suami dari LPDP, Tembus Miliaran Rupiah!
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
KPK panggil Plt Bupati Pati Risma hingga Ketua DPRD Pati Ali Badrudin
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Perusahaan AS Bebas Pajak Digital, Apa Dampak ke Ekosistem Startup Indonesia?
• 11 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.