Melihat lonjakan konsumsi saat Lebaran yang kerap membuat kondisi keuangan masyarakat menurun setelah hari raya, para pakar keuangan memberikan sejumlah strategi agar pengelolaan keuangan tetap tertata.
Perencana keuangan bersertifikasi Certified Financial Planner (CFP) dari Finansialku, Shierly, menekankan pentingnya strategi pembagian Tunjangan Hari Raya (THR) agar tidak habis untuk belanja sesaat, melainkan dimanfaatkan memperkuat dana darurat dan proteksi keuangan.
Ia menyarankan THR dialokasikan terlebih dahulu sebesar 30–50 persen untuk kebutuhan prioritas. Bagi masyarakat yang tidak memiliki cicilan, dana tersebut bisa digunakan untuk menambah dana darurat atau membayar premi asuransi.
Baca Juga: Soal THR 10,5 juta PNS, Purbaya: Tunggu Presiden Pulang
“Sekitar 30–50 persen THR sebaiknya disisihkan lebih dulu untuk membayar utang konsumtif, menambah dana darurat, atau investasi,” ujarnya kepada Warta Ekonomi, Selasa (24/2/2026).
Selanjutnya, sekitar 20 persen dapat dialokasikan untuk berbagi, seperti THR keluarga, hampers, donasi, atau persiapan kurban. Sementara sisanya, sekitar 30–50 persen, dapat digunakan untuk kebutuhan hari raya.
“Patokannya bukan semata-mata di persentase. Setiap orang perlu membuat budgeting sesuai prioritas dan kebutuhannya,” tuturnya.
Menurut Shierly, momentum Ramadan menjadi kesempatan untuk menyisihkan dana lebih besar dibanding bulan biasa. Jika pada bulan reguler masyarakat hanya mampu menyisihkan 10–30 persen penghasilan, maka saat menerima THR porsi tabungan dan investasi idealnya dapat ditingkatkan.
Di sisi lain, CEO dan Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, menilai THR sebaiknya diperlakukan sebagai bonus, bukan tambahan uang belanja.
“Menurut saya, THR sebaiknya diperlakukan sebagai bonus atau tunjangan, bukan uang belanja tambahan,” katanya.
Baca Juga: Kapan THR ASN Cair? Menkeu Pastikan Rp55 Triliun Siap Disalurkan tapi Nunggu Instruksi
Ia menyebut penurunan kondisi keuangan pasca-Lebaran umumnya disebabkan tiga faktor, yakni penghasilan yang terlalu kecil, pengeluaran yang terlalu boros, atau cicilan yang terlalu besar.
Dalam membagi THR, Melvin tidak menetapkan persentase khusus. Ia lebih menekankan penggunaan dana berdasarkan skala prioritas, mulai dari zakat, uang hari raya untuk pekerja dan keluarga, hingga kebutuhan tambahan seperti mudik.
“Saya tidak ada persentase tertentu untuk pembagian THR. Saya lebih melihat ke prioritas penggunaan uang,” ujarnya.
Melvin juga menegaskan pentingnya proteksi keuangan. Idealnya, dana darurat setara dengan enam hingga 12 kali pengeluaran bulanan. Jika dana tersebut belum tersedia, ia menyarankan porsi THR lebih baik ditabung daripada dihabiskan.
“Dana darurat dan asuransi kesehatan sebaiknya tidak bergantung pada THR,” pungkasnya.




