Jakarta (ANTARA) - Uni Eropa menilai empat tahun sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina bukan hanya menjadi ujian ketahanan nasional Ukraina, tetapi juga memperlihatkan bahwa Rusia merupakan mitra yang tidak dapat dipercaya.
Pernyataan tersebut disampaikan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Denis Chaibi dalam diskusi publik bertajuk Consistency in Upholding the UN Charter yang digelar di Jakarta, Selasa.
“Perang ini tidak hanya menunjukkan ketahanan Ukraina, tetapi juga memperlihatkan bahwa Rusia adalah mitra yang tidak dapat diandalkan,” kata Dubes Chaibi.
Ia mengulas kembali konteks awal 1990-an ketika tatanan geopolitik global berubah drastis setelah runtuhnya Tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet. Pada masa itu, Ukraina mewarisi persenjataan nuklir dalam jumlah besar yang menjadikannya salah satu negara dengan arsenal terbesar di dunia.
Menurut Chaibi, komunitas internasional saat itu meyakinkan Kiev bahwa Moskow akan menjadi mitra yang dapat dipercaya. Sebagai bagian dari komitmen terhadap keamanan dan stabilitas bersama, senjata nuklir Ukraina dilucuti dan dipindahkan. Namun, ia menilai Rusia pada akhirnya mengingkari perjanjian tersebut.
“Ukraina menerima. Ukraina percaya pada perjanjian itu. Namun siapa yang kini sepenuhnya mengingkari perjanjian tersebut? Rusia. Dengan sikap seperti ini, perdamaian tidak mungkin terwujud,” ujarnya.
Merujuk pada 24 Februari 2022 sebagai awal invasi Rusia ke Ukraina, Chaibi menegaskan bahwa dalam empat tahun terakhir Ukraina tidak hanya mempertahankan wilayahnya, tetapi juga melakukan reformasi institusi, memperkuat masyarakat, mendigitalisasi tata kelola, serta memperdalam akuntabilitas demokratis.
“Bukan hanya tentara, setiap warga berjuang untuk masa depan mereka. Petani, seniman, memilih martabat daripada keputusasaan, memilih membangun bahkan ketika yang lain menghancurkan,” katanya.
Chaibi juga mengaitkan perjuangan Ukraina dengan pengalaman presiden ketiga Indonesia, B.J. Habibie, saat menghadapi krisis politik dan ekonomi pada 1998. Ia menggambarkan Habibie sebagai pemimpin yang tidak mundur di tengah kesulitan dan meyakini transformasi melalui pengetahuan, disiplin, serta keberanian adalah hal yang penting.
“Ia (Habibie) mengemukakan konsep kedaulatan yang bukan hanya bersifat teritorial, tetapi juga intelektual, teknologi, dan yang terpenting, moral. Ukraina hari ini mewujudkan keyakinan yang sama,” ucap Chaibi.
Dengan meneladani karakter tersebut, Chaibi menilai momentum saat ini penting bagi Ukraina untuk memperoleh pengakuan atas upayanya mempertahankan kedaulatan negaranya.
Memasuki tahun keempat sejak invasi Rusia, Amerika Serikat memimpin upaya perdamaian melalui tiga perundingan yang telah digelar sejak awal 2026.
Rusia dan Ukraina memulai negosiasi perdamaian di Belarus pada 28 Februari 2022, empat hari setelah dimulainya invasi. Putaran kedua dan ketiga pembicaraan berlangsung pada 3 dan 7 Maret 2022 di Belarus. Putaran keempat dan kelima diadakan pada 10 dan 14 Maret 2025 di Antalya, Turki.
Selain pertukaran tahanan yang menjadi yang pertama dalam lima bulan terakhir, kemajuan yang dicapai masih terbatas, terutama terkait isu konsesi teritorial yang menjadi salah satu titik kebuntuan utama. Putaran pembicaraan berikutnya diperkirakan berlangsung pada akhir bulan ini.
Baca juga: Diplomat Ukraina tegaskan komitmen perdamaian, soroti peran Rusia
Baca juga: Ukraina apresiasi sikap Indonesia di PBB
Pernyataan tersebut disampaikan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Denis Chaibi dalam diskusi publik bertajuk Consistency in Upholding the UN Charter yang digelar di Jakarta, Selasa.
“Perang ini tidak hanya menunjukkan ketahanan Ukraina, tetapi juga memperlihatkan bahwa Rusia adalah mitra yang tidak dapat diandalkan,” kata Dubes Chaibi.
Ia mengulas kembali konteks awal 1990-an ketika tatanan geopolitik global berubah drastis setelah runtuhnya Tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet. Pada masa itu, Ukraina mewarisi persenjataan nuklir dalam jumlah besar yang menjadikannya salah satu negara dengan arsenal terbesar di dunia.
Menurut Chaibi, komunitas internasional saat itu meyakinkan Kiev bahwa Moskow akan menjadi mitra yang dapat dipercaya. Sebagai bagian dari komitmen terhadap keamanan dan stabilitas bersama, senjata nuklir Ukraina dilucuti dan dipindahkan. Namun, ia menilai Rusia pada akhirnya mengingkari perjanjian tersebut.
“Ukraina menerima. Ukraina percaya pada perjanjian itu. Namun siapa yang kini sepenuhnya mengingkari perjanjian tersebut? Rusia. Dengan sikap seperti ini, perdamaian tidak mungkin terwujud,” ujarnya.
Merujuk pada 24 Februari 2022 sebagai awal invasi Rusia ke Ukraina, Chaibi menegaskan bahwa dalam empat tahun terakhir Ukraina tidak hanya mempertahankan wilayahnya, tetapi juga melakukan reformasi institusi, memperkuat masyarakat, mendigitalisasi tata kelola, serta memperdalam akuntabilitas demokratis.
“Bukan hanya tentara, setiap warga berjuang untuk masa depan mereka. Petani, seniman, memilih martabat daripada keputusasaan, memilih membangun bahkan ketika yang lain menghancurkan,” katanya.
Chaibi juga mengaitkan perjuangan Ukraina dengan pengalaman presiden ketiga Indonesia, B.J. Habibie, saat menghadapi krisis politik dan ekonomi pada 1998. Ia menggambarkan Habibie sebagai pemimpin yang tidak mundur di tengah kesulitan dan meyakini transformasi melalui pengetahuan, disiplin, serta keberanian adalah hal yang penting.
“Ia (Habibie) mengemukakan konsep kedaulatan yang bukan hanya bersifat teritorial, tetapi juga intelektual, teknologi, dan yang terpenting, moral. Ukraina hari ini mewujudkan keyakinan yang sama,” ucap Chaibi.
Dengan meneladani karakter tersebut, Chaibi menilai momentum saat ini penting bagi Ukraina untuk memperoleh pengakuan atas upayanya mempertahankan kedaulatan negaranya.
Memasuki tahun keempat sejak invasi Rusia, Amerika Serikat memimpin upaya perdamaian melalui tiga perundingan yang telah digelar sejak awal 2026.
Rusia dan Ukraina memulai negosiasi perdamaian di Belarus pada 28 Februari 2022, empat hari setelah dimulainya invasi. Putaran kedua dan ketiga pembicaraan berlangsung pada 3 dan 7 Maret 2022 di Belarus. Putaran keempat dan kelima diadakan pada 10 dan 14 Maret 2025 di Antalya, Turki.
Selain pertukaran tahanan yang menjadi yang pertama dalam lima bulan terakhir, kemajuan yang dicapai masih terbatas, terutama terkait isu konsesi teritorial yang menjadi salah satu titik kebuntuan utama. Putaran pembicaraan berikutnya diperkirakan berlangsung pada akhir bulan ini.
Baca juga: Diplomat Ukraina tegaskan komitmen perdamaian, soroti peran Rusia
Baca juga: Ukraina apresiasi sikap Indonesia di PBB





