Peter NasDem Sorot Polisi: Reputasi, Buah Simalakama, dan Tanggung Jawab Opini Publik

jpnn.com
10 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Dewan Pakar Partai NasDem Peter F. Gontha menyoroti persoalan reputasi institusi kepolisian yang dinilainya masih memikul beban persepsi negatif di tengah masyarakat.

Menurutnya, berbagai kasus pada masa lalu telah membentuk pandangan publik yang cenderung skeptis terhadap setiap insiden yang melibatkan aparat penegak hukum.

BACA JUGA: Ketum PP Muhammadiyah Menilai Perubahan Struktur Polri Rawan Timbulkan Masalah Baru

Peter menyebut kondisi tersebut sebagai “buah simalakama”. Di satu sisi, polisi dituntut bertindak tegas dalam menghadapi berbagai gangguan ketertiban yang meresahkan masyarakat. Namun di sisi lain, setiap tindakan tegas aparat berisiko memicu tudingan pelanggaran apabila berujung pada luka atau kecelakaan operasional.

Namun, negara hukum tidak boleh berjalan berdasarkan reputasi masa lalu atau emosi kolektif. Proses hukum, kata dia, harus bertumpu pada fakta, unsur, serta pembuktian yang objektif.

BACA JUGA: Kapolri Buat Kebijakan Tes Urine Polri, Legislator: Jangan Sekadar Pencitraan

Peter mengingatkan adanya bahaya pergeseran dari asas praduga tak bersalah (presumption of innocence) menjadi praduga bersalah terhadap aparat.

Pasalnya, apabila setiap insiden langsung dianggap sebagai bentuk penganiayaan tanpa penyelidikan menyeluruh, maka aparat bisa menjadi ragu dalam bertindak, ketertiban umum berpotensi melemah, dan kelompok pelanggar hukum dapat merasa makin berani.

BACA JUGA: Ketua Komisi III: Waspada Terhadap Penumpang Gelap Reformasi Polri

"Sebaliknya, jika setiap tindakan aparat selalu dibenarkan tanpa evaluasi, maka kepercayaan publik akan semakin runtuh. Karena itu, keseimbangan menjadi kunci," kata Peter dalam keterangannya, Selasa (24/2/2026).

Peter turut menyoroti peran pers dan opini publik dalam membentuk persepsi terhadap suatu peristiwa.

Menurutnya, media tidak seharusnya menghakimi sebelum proses hukum selesai, menggiring opini berdasarkan potongan video, atau membangun narasi yang memperkeruh situasi. Namun demikian, media juga tidak boleh menutup kritik, mengabaikan dugaan pelanggaran, atau menjadi corong pembenaran tanpa verifikasi.

"Pers yang sehat adalah pers yang objektif, proporsional, dan berbasis fakta. Opini publik pun harus dibangun di atas informasi yang utuh, bukan asumsi," tuturnya.

Di sisi lain, Peter menilai institusi kepolisian juga memiliki tanggung jawab besar dalam memperbaiki reputasi.

Hal tersebut, katanya, tidak cukup dilakukan melalui pernyataan, melainkan melalui langkah konkret, seperti transparansi investigasi, evaluasi internal yang nyata, pemberian sanksi tegas jika terbukti bersalah, serta perlindungan terhadap anggota yang bertindak sesuai prosedur.

"Jika kita membiarkan prasangka mendahului fakta, maka hukum akan digantikan oleh persepsi. Setiap kejadian harus dilihat secara objektif," pungkasnya. (rhs/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pria Mengaku Jenderal Mengamuk di SPBU, Brutal, Tiga Orang Dipukuli


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Misteri Mayat Terikat di Sungai Malang Terkuak, Biaya Servis Jadi Pemicu
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Said Iqbal: Impor 105 Ribu Pikap asal India Bakal Ciptakan PHK hingga Puluhan Ribu Buruh
• 17 jam laludisway.id
thumb
Bagaimana Hukum Suami dan Istri Puasa Ramadhan tapi belum Mandi Junub? Begini Jawaban Ustaz Khalid Basalamah
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Simak Cerita Park Min Young dan Wi Ha Joon Tentang Karakter Mereka di Drakor Sirens Kiss
• 4 jam lalubeautynesia.id
thumb
Guru Non-ASN dan Beban Tanggung Jawab Negara yang Terbelah
• 1 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.