PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump bereaksi keras terhadap laporan media yang menyebut penasihat militer tertingginya mendesak kehati-hatian terkait rencana serangan udara ke Iran. Trump menegaskan bahwa militer Amerika Serikat berada dalam posisi siap tempur dan mampu meraih kemenangan dengan cepat.
Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Angkatan Udara Dan Caine, sebelumnya dilaporkan media AS telah memberikan peringatan mengenai risiko serangan terhadap Iran. Caine disebut-sebut khawatir tindakan militer dapat menyeret AS ke dalam konflik berkepanjangan dan memicu serangan balasan dari proksi Iran di seluruh kawasan.
Melalui unggahan panjang di platform Truth Social, Trump melabeli laporan tersebut sebagai "berita bohong" (fake news).
Baca juga : Inggris Tolak Beri AS Pangkalan Diego Garcia untuk Serang Iran
"Jenderal Caine, seperti kita semua, tidak ingin melihat perang, tetapi, jika keputusan dibuat untuk melawan Iran di tingkat militer, adalah pendapatnya bahwa itu akan menjadi sesuatu yang mudah dimenangkan," tulis sang Presiden.
"Dia tidak berbicara tentang tidak menyerang Iran, atau bahkan serangan terbatas palsu yang telah saya baca. Dia hanya tahu satu hal, bagaimana cara menang, dan jika dia diperintahkan untuk melakukannya, dia akan memimpin barisan."
Penumpukan Militer Terbesar dalam Dekade TerakhirPernyataan Trump ini muncul di tengah mobilisasi kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah yang tercatat sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Langkah ini bertujuan menekan Teheran agar segera menghentikan program nuklirnya.
Baca juga : Trump Tarik Pasukan AS dari Suriah, Fokus Alihkan Kekuatan Militer ke Iran
BBC Verify mengonfirmasi bahwa kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, terpantau melewati Selat Gibraltar menuju Mediterania pada Jumat lalu. Data pelacakan kapal juga menunjukkan kapal perusak USS Mahan berada dalam gugus tugas tersebut. Kehadiran armada ini akan memperkuat posisi AS di Timur Tengah, menyusul kapal induk USS Abraham Lincoln yang sudah lebih dulu berada di sana.
Para ahli militer menilai penumpukan kekuatan kali ini memberikan AS daya tahan dan kedalaman operasional yang jauh lebih besar dibandingkan saat operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari lalu atau serangan udara ke fasilitas nuklir Iran Juni tahun lalu.
Diplomasi di Tengah AncamanMeskipun retorika militer memanas, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Utusan Khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu dengan negosiator Iran di Jenewa untuk melanjutkan rangkaian pembicaraan.
Namun, Trump tetap memberikan tenggat waktu yang ketat. Pada 19 Februari lalu, ia menyatakan bahwa dunia akan segera mengetahui nasib hubungan kedua negara dalam waktu sekitar 10 hari, apakah akan berakhir dengan kesepakatan atau aksi militer.
"Kita harus membuat kesepakatan yang berarti, jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi," tegas Trump.
Hingga saat ini, Washington masih menunggu tanggapan Iran. Steve Witkoff sempat mengungkapkan bahwa Presiden Trump mulai mempertanyakan mengapa Iran belum juga "menyerah" meskipun telah menghadapi kepungan kekuatan militer AS yang masif. (BBC/Z-2)





