Ketika Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Bicara Soal Kepemimpinan Militer dan Militerisme di Indonesia

disway.id
12 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) Tiyo Ardianto menyinggung kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto hingga militerisme di Indonesia. 

Hal itu ia sampaikan dalam diskusi publik tentang imajinasi reformasi jilid II, polemik Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga kematian siswa di Tual, Maluku, bersama BEM FISH UNJ Jakarta. 

Tiyo tidak ingin masa depan kita diperintah oleh militer. 

Ia yakin kita semua tidak menginginkan masa depan yang dikuasai militerisme. 

BACA JUGA:Diskusi Publik Bareng Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan BEM FISH UNJ, UI Mendadak Tak Hadir

“Militerisme bukan tentang individu tentaranya, melainkan tentang cara kekuasaan yang lebih mengedepankan kekerasan daripada pemikiran. Kita tidak ingin bangsa dan negara ini didominasi oleh kekerasan,” katanya dalam paparannya. 

Menurutnya, terlalu banyak pengorbanan yang telah terjadi sejak 1965, 1998, bahkan hingga peristiwa-peristiwa terakhir di tahun lalu, ketika para aktivis menjadi korban.

“Itu semua adalah tanda-tanda yang tidak boleh kita abaikan. Pertemuan ini penting agar kita bisa mendiskusikan masa lalu bersama-sama, sambil membayangkan masa depan,” ungkapnya. 

BACA JUGA:Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Berani Kritik Presiden Prabowo, Apa Gak Dimarahi Kampus? Ini Jawabannya

Tiyo menegaskan anak muda sudah sepatutnya mulai membayangkan tentang reformasi gelombang kedua di Jakarta, karena Jakarta juga pernah menjadi episentrum gerakan reformasi. 

Tiyo menambahkan Indonesia juga sedang menghadapi setidaknya satu krisis besar, yaitu krisis ekonomi. 

Lapangan kerja semakin sempit, harga-harga naik, dan ekonomi terasa dikendalikan oleh segelintir elite. 

Jika krisis ekonomi mencapai puncaknya, reformasi bisa saja terjadi. Namun, jika krisis memuncak sementara mahasiswa dan rakyat tidak siap, maka kita bisa kembali kalah.

BACA JUGA:Pesan Rocky Gerung ke Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto soal Teror: Itu Biasa, Gak Usah Takut

“Kita pernah kalah dalam sejarah. Setelah pergolakan besar, militer berkuasa selama 32 tahun. Kampus dibungkam. Namun kita belajar, dan pada 1998 kita berhasil menggulingkan rezim tersebut sehingga militer tidak lagi secara langsung berkuasa. Itu kabar baik. Akan tetapi, oligarki tetap bertahan. Kesempatan rakyat untuk sejahtera masih terhambat oleh jaringan bisnis besar yang menguasai sumber daya tanpa batas kepemilikan dan kekuasaan yang jelas,” ucapnya

  • 1
  • 2
  • »

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Alfamart (AMRT) Buka Suara setelah Diminta Menkop Setop Buka Gerai di Desa
• 20 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pemerintah Targetkan Pengiriman 500 Ribu Pekerja Migran Terampil ke Berbagai Negara Mulai April 2026
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Kecelakaan Subuh Hari di Daan Mogot, Mobil Boks Tabrak Minibus hingga Terguling
• 8 jam laluliputan6.com
thumb
Kapolres: Warga berlarian saat gempa magnitudo 5,4 landa Sarmi
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Bos LPS Tak Sepakat UUS Wajib Spin Off, Ini Alasannya
• 21 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.