1 Tahun Danantara, Kocok Ulang BUMN, dan Target Ambisius Prabowo

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — BPI Danantara genap berusia 1 tahun pada 24 Februari 2026. Lahir dari mimpi besar Presiden Prabowo Subianto untuk mendukung visi Indonesia Incorporated, Danantara bergerak untuk menjalankan peran sebagai superholding BUMN sekaligus co-investor di berbagai sektor ekonomi strategis. 

Tepat pada 24 Februari 2025, pemerintah resmi memperkenalkan kepada publik Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia sebagai lembaga superholdingpengelola aset negara. 

Pembentukan sovereign wealth fund (SWF) tersebut menandai babak baru transformasi BUMN yang lebih berorientasi pada nilai komersial serta dampak pembangunan nasional. 

Sejak diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto, lembaga ini bertransformasi menjadi pilar stabilitas bagi emiten pelat merah. Langkah Danantara sepanjang tahun pertama difokuskan pada pemulihan fundamental sejumlah BUMN yang dinilai memiliki peran krusial bagi konektivitas dan industri strategis.

Rosan Roeslani, CEO Danantara Indonesia, menyampaikan 1 tahun Danantara merupakan tonggak penting dari gagasan besar yang lahir dari visi dan keberanian Presiden Prabowo untuk memastikan aset negara dikelola secara lebih terintegrasi, disiplin, terarah, dan berorientasi jangka panjang bagi masa depan investasi Indonesia. 

“Dalam 1 tahun perjalan ini, BUMN tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi melangkah selaras dalam satu orkestrasi nasional,” kata Rosan dikutip dari unggahan di media sosial Instagram @rosanroeslani, Rabu (25/2/2026). 

Rosan menegaskan, tata kelola BUMN terus diperkuat, arah investasi disatukan, kepercayaan global dibangun, arah kolaborasi lintas negara diperluas. Danantara, lanjutnya, menekankan langkah strategis yang diambil berpijak pada prinsip kredibilitas, transparansi, dan komitmen untuk memberikan nilai tambah berkelanjutan.

“Inilah esensi One Danantara: satu visi, satu gerak, satu kekuatan untuk Indonesia yang lebih kokoh,” katanya. 

CIO Danantara Pandu Sjahrir juga menuangkan catatan 1 tahun Danantara dalam unggahan di akun Instagram pribadinya. Pandu menyebut tanggal 24 Februari sebagai sebuah serendipity, alias kebetulan yang manis.

“Ini [24 Februari] adalah hari ulang tahun ayah saya, Almarhum Dr. Sjahrir, sekaligus satu tahun perjalanan Danantara Indonesia. Momen ini membuat saya tidak hanya mengenang sosok ayah sebagai keluarga, tetapi juga kembali memikirkan fondasi serta nilai yang beliau tanamkan sejak dulu,” tulis Pandu. 

Menurutnya, Sjahrir tidak mengajarkan nilai melalui kata-kata besar atau slogan, tetapi menunjukkan lewat praktik sehari-hari bahwa menjaga integritas saat tak ada yang melihat, memikul tanggung jawab yang melampaui diri sendiri, berani mengambil keputusan namun tetap rendah hati untuk terus belajar, serta membangun sesuatu yang dapat hidup lebih lama daripada nama kita sendiri.

“Hari ini, saya mencoba menerjemahkan nilai-nilai itu ke dalam Danantara Indonesia. Berusaha membangun institusi yang tak bertumpu pada satu figur, satu masa, atau satu situasi tertentu,” imbuhnya.  

Menurutnya, Danantara merupakan institusi yang berakar pada tanggung jawab jangka panjang bagi Indonesia sehingga harus dibangun menjadi tangguh melalui tata kelola yang sehat, reputasi yang baik, dan tujuan yang lebih besar dari siapa pun yang ada di dalamnya hari ini.

Bagi Pandu, seperti keluarga, institusi juga mewarisi nilai. Selama fondasinya kuat, maka dampaknya akan terus bertumbuh lintas generasi. 

“Seperti nilai yang ayah tanamkan bisa terus saya bawa hingga hari ini, begitu pun Danantara Indonesia saya harapkan bisa menjadi institusi yang berdampak bagi generasi setelah saya.”

2026 Tahun Pembuktian Danantara

Memasuki usia satu tahun, Danantara  memproyeksikan tahun 2026 sebagai pembuktian eksekusi restrukturisasi BUMN, yang akan menentukan arah penyesuaian valuasi atau re-rating harga saham di pasar modal. 

Berdasarkan laporan bertajuk Danantara Indonesia Economic Outlook 2026, badan pengelola investasi negara ini menyatakan bahwa restrukturisasi BUMN kini menjadi variabel penting dalam membentuk premi risiko investasi negara. 

Oleh karena itu, target utama Danantara adalah mendorong perusahaan pelat merah untuk bertransformasi menjadi entitas yang lebih tangguh terhadap gejolak pasar keuangan global dan siklus harga komoditas.

Salah satu contoh adalah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang sepanjang tahun lalu telah merampingkan anak usaha dan fokus kembali pada kompetensi inti guna memangkas biaya operasional. 

Selain Telkom, narasi pemulihan atau juga terlihat pada emiten kelas berat lainnya, seperti emiten maskapai PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA).

GIAA diketahui tengah berfokus pada rehabilitasi operasional melalui reaktivasi armada. Wacana penggabungan Citilink dan Pelita Air menjadi katalis strategis untuk menciptakan sinergi biaya, terutama pengadaan bahan bakar.

Selanjutnya adalah PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS). Meski terhambat beban utang, restrukturisasi bertahap telah mengurangi tekanan arus kas perseroan. Hasilnya, saham KRAS naik lebih dari tiga kali lipat sepanjang 2025. 

Di sektor konstruksi, Danantara juga tengah mengonsolidasi tujuh BUMN Karya menjadi entitas yang lebih ramping. Langkah ini bertujuan agar sektor konstruksi kembali kompetitif di pasar modal melalui skema asset recycling. 

Danantara lantas menargetkan laba bersih BUMN mencapai sekitar Rp350 triliun pada 2026. Nilai tersebut mengalami kenaikan dibandingkan dengan realisasi tahun lalu yang mencapai sekitar Rp285 triliun. 

Adapun kenaikan target tersebut didasarkan pada hasil transformasi dan restrukturisasi yang dijalankan Danantara dalam satu tahun terakhir.

Baca Juga : Satu Tahun Danantara: Magnet Investasi Asing, Indeks BUMN Ungguli IHSG

COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengatakan laba BUMN secara normalisasi sejatinya menyentuh angka Rp332 triliun pada 2025. Namun, usai melakukan penyesuaian penurunan nilai aset atau impairment sekitar Rp55 triliun, laba bersih BUMN turun ke kisaran Rp280 triliun hingga Rp285 triliun.

“Tahun 2026, kami memasukkan rencana kerja kurang lebih Rp350 triliun laba. Namun, saya tentu mengekspektasikan lebih. Jadi, sebetulnya BUMN itu memberikan kontribusi yang baik,” ujar Dony beberapa waktu lalu. 

Kinerja itu akan didorong oleh konsolidasi menyeluruh. Danantara diketahui tengah merombak postur BUMN melalui evaluasi fundamental bisnis, mulai dari analisis sumber pendapatan, margin EBITDA, hingga efisiensi struktur biaya.

Salah satunya adalah penyederhanaan jumlah entitas BUMN dari total sekitar 1.000 entitas, menjadi kurang lebih 300 perusahaan. Langkah ini diambil guna menciptakan skala usaha yang lebih besar, efisien, dan memiliki daya saing.

Selain penyederhanaan jumlah perusahaan, restrukturisasi keuangan juga dilakukan secara selektif. Injeksi modal kini hanya diberikan kepada BUMN yang memiliki model bisnis jelas dan mampu mencatatkan kontribusi margin positif.

“Kita harapkan dari 300 perusahaan yang dimiliki oleh BUMN ke depan, itu adalah perusahaan-perusahaan yang secara skala itu cukup signifikan untuk berkompetisi, memiliki kemampuan secara finansial dan juga memiliki kapabilitas secara orang,” pungkas Dony yang juga menjabat Kepala BP BUMN.

Katalis Investasi di Tanah Air

Usai fase penyelamatan, Danantara kini menatap peta jalan investasi yang lebih agresif untuk periode 2026. Nilai investasi yang disiapkan mencapai US$25,1 miliar atau setara Rp418,9 triliun untuk proyek hilirisasi mineral dan energi.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menjelaskan strategi investasi tahun ini dirancang untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia. 

“Roadmap investasi kami disusun dengan pendekatan terukur, berorientasi pada penciptaan nilai lintas generasi. Mandat kami jelas, menghadirkan imbal hasil sehat bagi negara sambil memastikan setiap investasi memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia dan mendorong transformasi nasional,” kata Rosan.

Baru-baru ini, Danantara telah memulai fase pertama pembangunan serentak enam proyek hilirisasi strategis dengan total nilai investasi US$7 miliar atau setara Rp110 triliun yang seluruhnya berasal dari kas Danantara. 

Secara terperinci, Rosan menjelaskan bahwa proyek-proyek tersebut tersebar di 13 daerah berbeda, mencakup sektor mineral, energi terbarukan, hingga integrasi pangan untuk mendukung program prioritas pemerintah.

"Secara keseluruhan, nilai investasi dari enam proyek tersebut mencapai sekitar US$7 miliar atau kurang lebih Rp110 triliun. Proyek-proyek ini diproyeksikan dapat menciptakan sekitar 3.000 lapangan pekerjaan secara langsung," ujar Rosan saat konferensi pers di Jakarta, Jumat (6/2/2026).

Profitabilitas BUMN

Di sisi lain, ambisi besar Danantara kini berbenturan dengan target pengembalian aset (return on asset/ROA) sebesar 7% yang dipatok Presiden Prabowo. Target tersebut dinilai sebagai ujian berat mengingat rata-rata ROA perusahaan pelat merah saat ini diperkirakan baru menyentuh 1,88%. 

Associate Director BUMN Research Group FEB UI, Toto Pranoto, mengatakan bahwa target itu cukup sulit dicapai dalam jangka pendek hingga menengah. Hal tersebut mengingat posisi ROA BUMN saat ini baru yang diperkirakan baru menyentuh 1,88% atau masih terpaut jauh dari ambisi pemerintah. 

Di samping itu, dia juga melihat situasi pareto di tubuh BUMN belum menunjukkan perubahan signifikan. Kondisi ini tecermin dari kontribusi laba bersih yang masih didominasi oleh segelintir perusahaan blue chips.

"Sebagian besar BUMN lainnya belum mampu menyumbang kinerja yang signifikan. Oleh karena itu, target ROA 7% menurut saya masih sulit dicapai dalam jangka pendek," ujar Toto kepada Bisnis baru- baru ini. 

Toto menjelaskan rendahnya angka ROA BUMN selama ini berakar pada masalah utilisasi aset yang tidak optimal. Meski memiliki aset jumbo hingga mencapai US$900 miliar, tidak seluruh aset tersebut bersifat produktif.

Beberapa faktor penyebabnya, antara lain kondisi aset yang sudah tua dan terlambat direvitalisasi, hingga riwayat pembelian aset mahal yang tidak sesuai dengan spesifikasi sehingga tingkat utilisasinya rendah.

“Hal tersebut menyebabkan total aset terlihat sangat tinggi, tetapi tingkat pengembaliannya rendah karena utilisasinya tidak maksimal,” ucap Toto.

Sementara itu, terkait dengan target laba konsolidasi sebesar Rp350 hingga Rp360 triliun pada 2026, Toto menilai angka tersebut relatif moderat. Pasalnya, laba bersih BUMN tercatat sudah mencapai Rp304 triliun pada 2024. 

Dia menyatakan bahwa Danantara kemungkinan menyadari bahwa seluruh mesin BUMN belum bekerja secara optimal. Sebagian besar emiten pelat merah juga dinilai masih dalam proses penyehatan dan restrukturisasi. 

“Kontributor utama masih akan bergantung pada saham-saham blue chip seperti Himbara, Pertamina, MIND ID, TLKM, SIG, dan PLN. Sektor lainnya belum akan memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam waktu dekat,” imbuhnya.

Baca Juga : Gandeng Arm, Danantara Bidik Industri Semikonduktor Otomotif hingga Data Center

Setahun Danantara beroperasi bukan tanpa cela. Toto Pranoto menilai bahwa sejauh ini informasi yang dirilis oleh Danantara masih sangat terbatas. Hal tersebut menyebabkan perkembangan fundamental BUMN di bawah superholding tersebut belum terlihat secara jelas.

Menurutnya, apa yang kerap disampaikan Danantara Indonesia selama setahun terakhir masih sebatas pada level konsep dan rencana aksi korporasi, seperti program streamlining hingga rencana kerja internasional.

“Realisasi kinerja secara umum dari BUMN, baik aspek finansial maupun operasional sepanjang 2025, belum bisa dianalisis dengan clear. Kurang transparannya info soal kinerja ini membuat saya agak kesulitan melihat potret utuhnya,” ujar Toto kepada Bisnis, Selasa (24/2/2026).

Lebih lanjut, Toto mengingatkan Danantara untuk mempercepat eksekusi atas berbagai aksi korporasi. Apalagi, Danantara telah menghimpun modal tambahan melalui penerbitan patriot bond serta pinjaman sindikasi bank internasional. 

Jika dana tidak diutilisasi secara optimal, hal itu dinilai akan menjadi beban utang yang kurang produktif bagi postur keuangan lembaga tersebut ke depan.

“Dan poin lainnya adalah kebutuhan adanya komunikasi yang lebih transparan kepada publik terkait rencana aksi korporasi dan laporan kinerja PT Danantara Asset Management [DAM] dan PT Danantara Investment Management [DIM].” 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cap Go Meh Diperingati 3 Maret 2026, Apakah Libur? Simak Infonya
• 3 jam laludetik.com
thumb
Indra Widjaja Siapkan Alwi Farhan Hadapi Atmosfer All England
• 14 jam lalutvrinews.com
thumb
BSN Gandeng Muhammadiyah, Bidik Inklusi Keuangan Syariah Tembus Dua Digit
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
bank bjb Buka Peluang Investasi Produktif Lewat Sustainability Bond
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Jaksa Agung Perintahkan Jaksa-Jaksa di Daerah Usut Korupsi Kakap di Wilayahnya
• 15 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.