Jakarta, ERANASIONAL.COM — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen meningkatkan ketahanan pengelolaan air secara nasional untuk pengembangan air di sektor pangan dan sektor energi.
Penegasan tersebut disampaikan Menko AHY dalam Forum Water Security di Kantor Kemenko Infra, Thamrin, Jakarta, pada Selasa 24 Februari 2026.
“Water security adalah national priority berdasarkan Asta Cita, kita ingin memantapkan sistem pertahanan dan keamanan negara. Dengan mendorong kemandirian bangsa, termasuk melalui swasembada pangan, energi, dan air, ini sudah menjadi kewajiban kita,” kata Menko AHY.
Lanjut dia mengatakan upaya mewujudkan ketahanan air memerlukan kerjasama antar Pemerintah Pusat, Kepala Daerah, dunia usaha, hingga partisipasi masyarakat di daerah.
Menko AHY menekankan ketahanan air masuk ke dalam program prioritas nasional. Menurutnya, ketahanan air merupakan upaya Pemerintah dalam mewujudkan Asta Cita kedua Presiden Prabowo Subianto.
Menko AHY menjelaskan, upaya mewujudkan ketahanan pengelolaan air melalui peningkatan konservasi air untuk menjamin ketersediaan air secara berkelanjutan.
Menurutnya, Pemerintah baru dapat menyediakan kebutuhan air pipa bagi masyarakat sebesar 20 persen yang dinilai persentasenya masih rendah.
“Harus kita terus tingkatkan, pertama adalah conservation ya, konservasi air. Kita ingin semua memiliki ketersediaan air untuk bisa mengakomodasi berbagai kebutuhan hari ini dan mendatang,” ucapnya.
Menko AHY berharap ada kebijakan penggunaan air secara efektif dan efesien mulai di pemerintahan, dunia usaha, hingga masyarakat. Pemanfaatan air bersih secara sistematis dinilai penting dilakukan, untuk memastikan ketersediaan air bersih bagi generasi mendatang.
“Kita harus mengelola dan mengembangkan, menggunakan ini dengan sebaik mungkin, jangan kita istilahnya menggunakan tanpa tujuan yang tepat. Dan upaya memitigasi kekurangan ketersediaan air, destruktif power dari air ini sendiri,” ujar dia.
Kebutuhan air untuk mencapai swasembada pangan mencapai 74 persen mencakup wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Sementara kebutuhan air keperluan rumah tangga 9 persen, industri 6 persen, komersil 3 persen, dan lainnya 8 persen.
“Karena ini memang kebutuhan yang paling besar, tapi ingat ini semua membutuhkan ketersediaan air bersih juga. Kalau kita lihat rasionya, 43,5 persen yang warna merah ini bisa dikatakan setiap tahunnya itu kekurangan,” papar Menko AHY.
Teknologi dan Inovasi
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arief Satria menyampaikan beberapa teknologi dan inovasi untuk ketahanan pengelolaan air. Seperti teknologi Arsinum yang telah digunakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat.
BRIN juga mendukung upaya mewujudkan ketahanan pengelolaan air melalui berbagai kerja sama dengan negara lain. Hal ini, untuk mencapai target pemenuhan ketersediaan air hingga 40 persen pada 2029 di kota besar seluruh Indonesia.
“Masalah diverifikasi terkait dengan air, Arsinjm, teknologi pengelolaan air bersih, air minum kemudian pengelolaan air baku. Air tercermar itu juga bisa diolah, kemudian bisa juga desalinasi air asin, sebenarnya air itu melimpah laut,” tandas dia.





