Oleh: Muhammad Syarkawi Rauf*
Ada satu pertanyaan paling populer di dunia Islam dalam beberapa dekade yang lalu dan masih relevan hingga saat ini, yaitu “Limaadsa taakhharal muslimuun wa takaddamal akharuun? Taakhharul muslimuun liannahum yatrukuuna diinahum wa takaddamal akharuun liannahun yatrukuuna diinahum”.
Artinya, “mengapa orang muslim terkebelakang dan non-muslim maju? Orang muslim terkebelakang karena meninggalkan ajaran agamanya dan non-muslim maju karena juga meninggalkan ajaran agamanya”.
Secara muamalah, keterbelakangan seharusnya tidak terjadi di dunia Islam mengingat inti ajaran Islam adalah setiap muslim dituntut untuk mengusahakan urusan akhiratnya tanpa melupakan urusan dunianya.
Hal ini dapat dibaca dalam Al-Qur’an surah al-Qashash ayat 77: “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.
Selanjutnya, diperkuat oleh hadis nabi yang diriwayatkan oleh Abu Na’im, yaitu “kadal faqru an yakuna kufran”. Artinya, kefakiran dekat dengan kekufuran. Ungkapan ini bermakna bahwa menjadi fakir memiliki implikasi negatif yang luas, tidak hanya terhadap kualitas hidup secara duniawai tetapi juga berpotensi menghancurkan keyakinan sebagai orang beriman.
Secara kewilayahan, permasalahan kemiskinan tidak sepatutnya terjadi di dunia Islam mengingat umat Islam yang tersebar di sekitar 70-an negara adalah negara kaya Sumber Daya Alam (SDA). Di mana mayoritas komoditi strategis yang menjadi urat nadi perekonomian global berada di negara-negara muslim.
Sebagai contoh, penghasil minyak bumi terbesar di dunia adalah negara-negara Arab, Afrika Utara, dan Asia yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Demikian juga dengan gas bumi sebagai sumber energi utama, tembaga, nikel, timah, emas, dan uranium berada di negara-negara mayoritas muslim.
Secara geografis, negara-negara muslim juga berada di jalur perdagangan global tersibuk di dunia, mulai dari terusan Suez di Mesir, Selat Malaka di Asia Tenggara yang membelah Indonesia dan Malaysia, jalur utama selat Makassar yang menghubungkan Asia dengan Australia, hingga jalur sutra perdagangan global melalui Asia Tengah menghubungkan Asia dengan Eropa.
Permasalahan utama negara-negara muslim adalah institusi yang buruk. Hal ini sejalan dengan Michael Porter (1998), perbedaan negara maju dengan negara terkebelakang hanya pada aspek manajemen atau tata kelola.
Suatu negara menjadi maju karena well managed (tata kelola yang baik) dan negara terkebelakang karena under managed (tata kelola yang buruk). Negara-negara mayoritas muslim terjebak dalam perangkap Sumber Daya Alam (SDA) atau natural resources trap sehingga lupa meningkatkan kualitas SDM.
Lagi-lagi, permasalahan institusional tidak seharusnya terjadi di dunia Islam mengingat Islam mengajarkan bahwa dalam melakukan sesuatu, termasuk pembangunan ekonomi, hendaklah dilakukan dengan tata kelola yang baik, sama seperti bangunan yang tersusun rapih (kaannahum bunyanun marsuus).
Demikian juga anjuran Al-Qu’ran yang berkali-kali melarang mencari rezeki dengan cara membuat kerusakan, “wa la tabgil fasada fil ardi, innallaha la yuhibbul mufisidin” (janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah Swt tidak menyukai orang-orang berbuat kerusakan).
Umat Islam saat ini hidup di dua ekstrem, yaitu pola hidup yang tidak seimbang antara kehidupan dunia dengan akhirat. Sebagian besar orang muslim bekerja mencari rezeki dengan melupakan akhirat. Mereka mencari harta yang banyak dengan melupakan dimensi spiritual. Akibatnya, umat Islam terjebak dalam pola hidup kapitalis yang memuja kehidupan dunia.
Pada ekstrem yang lain, terdapat sekelompok umat Islam yang seakan-akan tidak peduli dengan kehidupan dunia. Mereka hidup berat sebelah, yaitu hanya mementingkan akhirat. Padahal Islam menganjurkan untuk mengusahakan kehidupan dunia seakan-akan akan hidup selama-lamanya dan menuntut kehidupan akhirat seakan-akan akan mati besok.
Solusinya, kembali ke Al-Qur’an sebagai kitab sains atau kitab ilmu pengetahuan dan teknologi. Terdapat banyak sekali petunjuk dalam Al-Qur’an mengenai pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sebagai basis kemajuan suatu masyarakat.
Sejak 1447 tahun lalu, Al-Qur’an memberikan petunjuk iptek bahwa Allah Swt menurunkan besi dari langit yang di dalamnya terdapat manfaat juga bahaya (wa ansalna hadiida -besi- minassamai fiihi manaafi wa fiihi jazaun). Hal ini dapat dibuktikan oleh sains modern bahwa perut bumi memang tidak memiliki unsur biji besi.
Bukti-bukti lain mengenai akurasi konsepsi sains dalam Al-Qur’an adalah ajaran puasa yang dinyatakan dalam hadis Rasulullah Muhammad saw bahwa “berpuasalah supaya kamu sehat”. Hal ini juga telah diteliti oleh para ilmuwan yang populer dengan istilah autofagi (autophagy), sebagai mekanisme pembersihan diri ketika berpuasa selama kurun waktu tertentu.
Bahkan beberapa peneliti menemukan bahwa berpuasa selama sebulan sebagai media pengobatan. Penelitian modern membuktikan bahwa orang yang berpuasa mengalami proses detoksifikasi dan sekaligus meremajakan organ-organ tubuh yang sudah mulai menua.
Akhirnya, untuk menjawab peremasalahan keterbelakangan umat Islam adalah menerapkan prinsip “hidup berorientasi pada akhirat tanpa melupakan dunia” atau “menempatkan kehidupan dunia sebagai jembatan menuju akhirat”. Sehingga sukses di dunia sesuai dengan tuntunan ajaran Islam akan sangat menentukan sukses di akhirat. (*)
*Penulis adalah Alumni Pesantren Modern IMMIM Makassar




