JENEWA, KOMPAS.com - Sebuah kursi raksasa berdiri tegak tepat di Alun Bangsa-Bangsa atau Place des Nations di depan kompleks Markas Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di Jenewa, Swiss.
Kursi raksasa setinggi 12 meter ini tidak sempurna, sengaja dibuat dengan satu kaki rusak dan tiga kaki masih utuh menopang.
"Kursi yang patah adalah simbol dari kerapuhan dan kekuatan, ketidakpastian dan stabilitas, kebrutalan dan martabat,".
Itu merupakan sepenggal tulisan keterangan yang berada di bawah monumen Broken Chair yang dikutip Kompas.com pada Selasa (24/2/2026) di lokasi monumen.
Monumen ini merupakan suara atas korban senjata peledak khususnya ranjau sisa perang dingin yang masih terus terjadi hingga saat ini.
Baca juga: Keindahan Danau Jenewa Jadi Saksi Penikaman Ratu Austria
Monumen ini dibuat oleh Handicap Internasional dengan seniman Daniel Berset pada 1997.
Digagas sebagai aksi desakan kepada negara-negara seluruh dunia untuk melarang dan membersihkan ranjau yang tersisa pada era perang dingin.
Setelah perang, ranjau ini tidak pernah diangkut lagi oleh negara yang menaruhnya, salah satunya adalah Amerika Serikat dalam perang Vietnam.
Mereka menjadi penanam ranjau terbanyak, bukan hanya di wilayah Vietnam, tetapi juga di Kamboja yang saat itu merupakan medan tempur mereka.
Perang berakhir, ranjau masih tertanam.
Akibatnya, warga sipil yang beraktivitas khususnya di bidang pertanian sering menjadi korban.
Kecacatan adalah kerusakan paling kecil, tidak sedikit korban langsung meninggal dunia.
Tidak hanya Kamboja, dilansir dari National Geographic Indonesia, jutaan ranjau di hampir 80 negara masih tertanam dan aktif.
Baca juga: Air Mancur di Jenewa yang Jadi Objek Wisata: Berawal dari Ulah Tukang Ledeng
Tercatat pada tahun 2002 hampir 12.000 orang di seluruh dunia dilaporkan tewas atau cacat karena ranjau darat.