Kehadiran Ipda Kadek Sumerta mengubah pandangan anak-anak penyandang disabilitas di Yayasan Bhakti Senang Hati, Gianyar, Bali,. Aak-anak tersebut awalnya takut berinteraksi dengan polisi.
Kini anak-anak tersebut tak takut lagi. Mereka merasakan kehadiran polisi sebagai bentuk kepedulian pada mereka.
Cerita mengenai kehadiran Ipda Sumerta itu dituturkan oleh pendiri Yayasan Bhakti Senang Hati, Putu Suryati, saat dihubungi detikcom, Kamis (19/2/2026). Ipda Sumerta merupakan kandidat Hoegeng Corner 2025. Namanya kembali diusulkan dalam program Hoegeng Awards 2026.
"Setelah kenal sama Pak Sumerta, beliaunya sering juga berkunjung ke yayasan kami dan cara beliau membimbing, mengajar anak-anak di sana, akhirnya kami akrab kayak gimana itu, kami disayangi. Jadinya anak-anak itu hormat sama beliau gitu," kata Putu.
Putu mengatakan Ipda Sumerta mulai terlibat di yayasan sejak 2017. Saat itu Sumerta bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di Desa Siangan.
Setelah itu, Ipda Sumerta ditugaskan sebagai Kanit Reskrim Polsek Tampaksiring, Polres Gianyar dan kini menjadi Panit 1 Opsnal Reskrim Polsek Blahbatuh, Polres Gianyar, Polda Bali. Meskipun tempat tugas berpindah-pindah, Ipda Sumerta tetap rutin mengunjungi yayasan.
"Sampai beliaunya pindah tugas, sampai dua kali kayaknya beliau pindah tugas, tapi tetap meluangkan waktu untuk kami penyandang disabilitas di Yayasan Bakti Senang Hati. Sampai sekarang pun begitu," ujar Putu.
Saat ini ada 130 anak yang dibina di yayasan tersebut. Sebanyak 20 di antaranya tinggal di yayasan dan sisanya tinggal di rumah masing-masing.
Putu menjelaskan Ipda Sumerta mengajarkan anak-anak tentang baca tulis dan bahasa Inggris. Tak hanya itu, Ipda Sumerta juga mendorong mereka untuk mandiri ke depannya.
"Di sana kan penyandang disabilitas itu diajari biar bisa mandiri. Setelah mereka mandiri juga Pak Sumerta nya ini juga mencari informasi di mana mereka bisa ditempatkan, mereka juga dibantu untuk mencari pekerjaan setelah luar dari yayasan itu, Pak," imbuh dia.
Putu mengatakan kehadiran Ipda Sumerta membawa dampak yang sangat positif. Ada perubahan anggapan dari anak-anak yang awalnya merasa takut kepada polisi kini mereka merasa disayangi.
"Biasanya kalau ada orang datang itu kan kita jaga jarak, tapi kalau sama Pak Kadek sejak beliaunya membimbing ini oh kita semua sama. Membangun apa namanya ya, membangun kemandirian, membuat kita kepercayaan diri, itu yang terutama kan," kata Putu.
Cerita serupa juga disampaikan oleh pengurus galeri Yayasan Bhakti Senang Hati, Sang Ayu Nyoman Puspa. Ayu mengenal Ipda Sumerta sebagai polisi yang humanis.
"Beliau itu bagi kami ya sosok polisi yang lain daripada yang lain ya. Kalau dulu kami mengenal polisi itu kami takut. Tapi setelah bertemu dengan beliau, rasa takut itu hilang jadinya. Karena beliau itu sekarang sudah seperti keluarga sendiri," tutur Ayu.
Ayu memuji pendekatan Ipda Sumerta kepada anak-anak di yayasan yang sangat ramah. Ipda Sumerta disebut sering membantu apa pun yang menjadi kebutuhan yayasan.
"Keterlibatan beliau semuanya. Apapun yang kami apa namanya butuhkan di yayasan beliau bantu kami," imbuh dia.
Ayu menyebut Ipda Sumerta sudah menjadi sosok ayah bagi anak-anak di yayasan. Sumerta mengayomi semua anak-anak di sana tanpa membeda-bedakan perlakuan.
Cerita Ipda SumertaDalam program Hoegeng Corner 2025, Ipda Sumerta menceritakan awal mula keterlibatannya di Yayasan Bhakti Senang Hati. Saat bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di Desa Siangan pada 2017 lalu, Ipda Sumerta awalnya melakukan kunjungan ke rumah-rumah warga.
Dari kunjungannya itu, dia menemukan Yayasan Bhakti Senang Hati, yang pada saat itu belum banyak orang yang kenal. Sumerta lalu masuk ke yayasan tersebut dan bertemu dengan warga penyandang disabilitas.
Karena keterbatasan interaksi dengan polisi, warga tersebut awalnya takut dengan kehadiran Sumerta yang mengenakan seragam polisi. Namun lambat laun, Sumerta pun bisa menjelaskan kehadiran dirinya di sana yaitu untuk menampung keluh kesah dan masalah dari warga.
"Kita coba jelaskan, bahwa kita di sana tugas sebagai Bhabin, menyampaikan kalau ada keluh kesah atau masalah bisa disampaikan ke kami sebagai Bhabin," ujar Sumerta.
Seiring berjalannya waktu, Sumerta juga mulai memberikan materi belajar kepada para remaja di yayasan tersebut, seperti pengenalan huruf dan angka. Dia mendorong anak-anak di sana yang belum mempunyai ijazah sekolah untuk mengambil paket C.
"Karena setiap hari saya datang ke sana, akhirnya mereka senang, maka saya lanjut mengajar baca tulis," ujar dia.
Sumerta menjelaskan, yayasan tersebut didirikan oleh Putu Suryati pada sekitar tahun 2015. Untuk biaya operasional sehari-hari, yayasan tidak memiliki donatur tetap.
"Mereka cari sendiri dengan menjual lukisan karena ada beberapa warga yang bisa melukis, menjual kerajinan, terus bantuan-bantuan dari relawan, bantuan dari masyarakat, bantuan dari instansi," imbuh dia.
Yayasan tersebut membina sekitar 90 penyandang disabilitas yang tidak tinggal di asrama. Secara total ada sekitar 110 orang, dengan rincian 90 orang tinggal di luar dan 20 orang menetap di dalam yayasan.
"Yang di asrama hanya mereka masih lajang, yang sudah berkeluarga tidak," ujar Sumerta.
Bagi penyandang disabilitas yang tinggal di luar asrama, Sumerta membina mereka agar dapat mengembangkan peluang kerja melalui komunitas penyedia layanan wisata dengan motor roda tiga. Untuk itu, dia bekerja sama dengan agen-agen perjalanan di sekitar yayasan.
"Setelah saya cek mereka legalitas tidak punya, khususnya SIM. Mereka tidak paham apa yang harus mereka perhatikan khususnya keselamatan di jalan, sepeda motornya seperti apa. Di sana saya bina mereka menyiapkan motor yang layak dan safety, terus untuk SIM saya mencoba mencari informasi syarat kepemilikan SIM untuk mereka yang difabel itu seperti apa, setelah saya tahu saya bina akhirnya dari 98 anggota difabel yang ada di bawah naungan yayasan, 40 sekian sekarang sudah memiliki SIM, memiliki legalitas," ujar Sumerta.
Tak hanya itu, Sumerta juga mendatangkan relawan untuk mengajarkan warga memasak, mengenalkan kesenian, hingga memanfaatkan lahan yayasan untuk berkebun.
Sumerta kini menjabat sebagai Kanit Reskrim Polsek Tampaksiring, Polres Gianyar. Sejak mengemban jabatan tersebut dua tahun lalu, Sumerta hanya melakukan pembinaan terhadap Yayasan Bhakti Senang Hati.
"Kalau pada saat kita jadi Bhabin banyak program saya, termasuk peduli lansia, anak-anak yatim piatu, tapi setelah saya lulus perwira yang bisa saya lanjutkan hanya pembinaan saja, jadi tidak bisa karena keterbatasan waktu, kalau kami kembali ke program yang lain, karena lingkup kerja dan juga wilayah yang kita backup itu harus menyesuaikan," ujar dia.
Alasan Sumerta ikut membina dan membantu yayasan itu berangkat dari rasa keprihatinan. Menurutnya, penyandang disabilitas di sana kerap seolah diabaikan. Dari situlah ia merasa perlu berbuat sesuatu agar keberadaannya di tempat bertugas memberikan manfaat.
Sumerta juga mencoba membantu lewat publikasi kegiatan yayasan di media sosial. Dari situ, banyak orang mulai mengetahui yayasan itu, bahkan ada relawan yang datang langsung untuk mendukung kegiatan mereka.
(knv/aud)





