REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pertumbuhan investor ritel di pasar modal Indonesia kian pesat dalam beberapa tahun terakhir. Mayoritas berasal dari kalangan milenial dan Gen Z yang aktif bertransaksi melalui aplikasi. Namun di tengah lonjakan partisipasi itu, kesiapan teknologi analitik di industri sekuritas dinilai belum sepenuhnya mengikuti kecepatan pasar.
Sejumlah platform perdagangan saham masih berfungsi sebatas penampil data (data viewer). Artinya, indikator yang tersedia berbasis data historis atau potret sesaat, bukan analisis yang bergerak mengikuti transaksi secara langsung. Padahal, pergerakan harga di bursa terjadi setiap detik.
Baca Juga
Siap Go International, UNM Matangkan ICITRI 2026 Berstandar IEEE
Bidik Akreditasi Unggul, Prodi Bisnis Digital UNM Tancap Gas
Presiden Direktur dan CEO PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The, mengatakan selisih waktu sekecil apa pun dapat memengaruhi kualitas keputusan investasi. “Pasar bergerak setiap detik. Jika indikator yang digunakan investor tidak bergerak secepat pasar, maka akan muncul gap antara realitas dan persepsi. Dalam trading, gap tersebut dapat berarti masuk setelah momentum selesai atau keluar setelah distribusi terjadi,” ujarnya di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Menurut dia, penggunaan indikator yang tidak real-time berpotensi menimbulkan risiko tersembunyi. Investor bisa terlambat membaca fase akumulasi saat pelaku besar mulai masuk, atau terlambat keluar ketika distribusi sudah berjalan. Kondisi ini memunculkan rasa percaya diri yang keliru karena sinyal terlihat tepat, padahal tekanan transaksi di lapangan sudah berubah.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Bagi investor ritel, terutama yang mengandalkan momentum jangka pendek, ketepatan waktu menjadi kunci. Keterlambatan beberapa detik saja dapat menggerus potensi keuntungan, bahkan berbalik menjadi kerugian saat volatilitas meningkat.
View this post on Instagram
A post shared by Republika Online (@republikaonline)