AS Tetapkan Tarif Impor Sementara untuk Panel Surya dari Indonesia hingga India

kumparan.com
15 jam lalu
Cover Berita

Kementerian Perdagangan AS mengumumkan bea masuk penyeimbang terhadap sel surya dan panel yang diimpor oleh perusahaan-perusahaan di India, Indonesia, dan Laos dalam upaya untuk melawan subsidi yang mendukung industri di Asia.

Dikutip dari Reuters, keputusan tersebut menandakan bahwa pejabat AS berpihak pada pemilik pabrik tenaga surya domestik. Pasalnya, perusahaan yang beroperasi di ketiga negara tersebut menerima subsidi pemerintah yang membuat produk AS tidak kompetitif.

Hal ini menjadi kebijakan terbaru AS dalam serangkaian pengenaan tarif impor selama lebih dari satu dekade terhadap impor tenaga surya murah dari Asia, yang sebagian besar diproduksi oleh perusahaan-perusahaan China.

Menurut lembar fakta yang diposting di situs web Kementerian Perdagangan AS, tercatat tingkat subsidi umum sebesar 125,87 persen untuk impor dari India, 104,38 persen untuk impor dari Indonesia, dan 80,67 persen untuk impor dari Laos.

Selain itu, menurut data perdagangan pemerintah, ketiga negara tersebut menyumbang impor tenaga surya senilai USD 4,5 miliar pada tahun lalu, sekitar dua pertiga dari total tahun 2025.

Adapun tarif impor AS memiliki rekam jejak mengganggu perdagangan tenaga surya global. Impor dari Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Kamboja anjlok karena kasus perdagangan yang menghasilkan tarif tinggi yang ditetapkan tahun lalu untuk impor dari negara-negara tersebut, yang telah mendominasi pasar AS.

Pengumuman ini adalah yang pertama dari dua pengumuman yang diharapkan akan dikeluarkan oleh AS dalam beberapa minggu mendatang dalam kasus perdagangan yang diajukan tahun lalu oleh sebuah kelompok yang mewakili sebagian kecil sektor manufaktur tenaga surya AS.

Kementerian Perdagangan AS akan membuat keputusan terpisah bulan depan mengenai apakah perusahaan dari ketiga negara tersebut membanjiri pasar AS dengan harga di bawah biaya produksi mereka.

Kelompok yang mengajukan petisi, Alliance for American Solar Manufacturing and Trade, termasuk Hanwha Qcells (000880.KS) dari Korea Selatan, First Solar (FSLR.O) yang berbasis di Arizona, dan Mission Solar yang berbasis di San Antonio, yang dimiliki oleh OCI Holdings Korea (010060.KS).

Para produsen berupaya melindungi investasi miliaran dolar di pabrik-pabrik AS. Pengacara utama untuk Alliance, Tim Brightbill, menyambut baik kebijakan tersebut sebagai langkah penting menuju pemulihan persaingan yang adil.

"Para produsen Amerika menginvestasikan miliaran dolar untuk membangun kembali kapasitas dalam negeri dan menciptakan lapangan kerja dengan gaji yang layak. Investasi tersebut tidak akan berhasil jika impor yang diperdagangkan secara tidak adil dibiarkan mendistorsi pasar," katanya dalam sebuah pernyataan.

Selain tarif umum, Kementerian Perdagangan menghitung tarif individual sebesar 125,87 persen untuk Mundra Solar di India, 143,3 persen untuk PT Blue Sky Solar, dan 85,99 persen untuk PT REC Solar Energy di Indonesia, serta 80,67 persen untuk Solarspace Technology Sole Co dan Vietnam Sunergy Joint Stock Company di Laos.

Pengacara untuk Solarspace yang berbasis di China, Matthew Nicely, mengatakan bahwa perusahaan tersebut merasa kecewa atas kebijakan tarif impor yang dikenakan AS.

"Tingkat ini tidak mencerminkan pengalaman aktual perusahaan atau bahkan analog yang realistis," kata Nicely dalam sebuah email.

Namun perusahaan-perusahaan lain tidak segera dapat dihubungi untuk dimintai komentar melalui pengacara mereka di AS. Kementerian Perdagangan mengatakan keputusan akhir dalam penyelidikan penyeimbangan tersebut diperkirakan akan keluar pada Juli mendatang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Min Hee Jin Tawarkan Damai Rp300 Miliar ke HYBE, Akhiri Konflik NewJeans?
• 7 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Denpasar Court Tries Russian National Over Hydroponic Marijuana Operation
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sulaeman Hamzah Apresiasi Lonjakan Stok Beras Nasional, Ingatkan Distribusi Tepat Sasaran dan Kesejahteraan Petani
• 12 jam lalupantau.com
thumb
Harga Pangan Jakarta Mulai Merangkak Naik di Awal Ramadan
• 12 jam lalusuara.com
thumb
Teliti Celah Regulasi Hak Angket, Ketua PKB Sulsel Azhar Arsyad Raih Doktor ke-441 UMI
• 8 jam laluterkini.id
Berhasil disimpan.