Emas Naik ke USD 5.187 per Ounce di Tengah Risiko Tarif Trump & Ketegangan Iran

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Harga emas kembali menguat pada perdagangan Rabu (25/2), didorong ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu minat investor terhadap aset safe haven.

Pada pukul 11.03 waktu Singapura, emas naik 0,9 persen menjadi USD 5.187,52 per ounce, melanjutkan pemulihan setelah sempat tertekan pada sesi sebelumnya. Penguatan ini menegaskan posisi logam mulia yang masih bertahan di atas level psikologis USD 5.000 per ounce.

Kepala strategi makro Asia JP Morgan Private Bank, Yuxuan Tang, menilai reli emas berpotensi berlanjut.

“Tampaknya penembusan (harga) ke atas sedang terbentuk. Ketidakpastian tarif dan risiko terkait Iran dapat menjadi faktor yang cukup kuat untuk memicu pergeseran yang lebih berkelanjutan," katanya dikutip dari Bloomberg, Rabu (25/2).

Sentimen pasar dipengaruhi kebijakan tarif impor menyeluruh sebesar 10 persen yang mulai berlaku di AS awal pekan ini, setelah Mahkamah Agung membatalkan rezim tarif resiprokal sebelumnya. Presiden Donald Trump juga sempat mengancam menaikkan tarif hingga 15 persen, meski belum resmi diterapkan.

Selain itu, pemerintah AS tengah menyiapkan investigasi keamanan nasional atas sejumlah impor seperti baterai dan bahan kimia industri, langkah yang berpotensi membuka ruang tarif tambahan. Di sisi lain, sebagian importir mengajukan permohonan pengembalian tarif kepada pemerintah.

Direktur strategi komoditas BNP Paribas, David Wilson, mengatakan potensi pengembalian tarif dapat berdampak luas pada pasar keuangan.

“Ini akan memiliki implikasi dramatis bagi defisit anggaran AS, dolar AS, dan obligasi Treasury,” ujarnya.

Pelemahan dolar turut menopang kenaikan logam mulia. Indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0,2 persen, membuat emas lebih menarik bagi investor global.

Kenaikan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Perak melonjak 2,9 persen menjadi USD 89,67 per ounce, sementara platinum naik 2,7 persen dan paladium menguat 1,2 persen.

Meski demikian, prospek suku bunga AS yang kemungkinan tetap tinggi dalam waktu dekat berpotensi membatasi penguatan emas. Sikap hati-hati bank sentral AS untuk menurunkan suku bunga, seiring membaiknya data tenaga kerja, menjadi faktor penahan karena emas tidak memberikan imbal hasil.

Namun dalam jangka pendek, pelaku pasar menilai kombinasi risiko geopolitik, kebijakan tarif, serta kekhawatiran terhadap utang pemerintah masih menjadi katalis utama yang menjaga tren penguatan harga emas.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Shopee dan ShopeePay Tebar Promo Ramadan Rp 1 hingga Diskon Rp1,5 Juta
• 21 jam lalukatadata.co.id
thumb
Viral Sewa Matras di Kapal Penyebrangan Bali-Lombok, ASDP: Itu Kapal Swasta
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Ferrari Siapkan Mobil Entry-Level di Tahun Ini
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Bukan Sekadar Gaya, Ini Kunci Nyaman saat Ramadan untuk Perempuan Berhijab
• 4 jam laluherstory.co.id
thumb
Pipa Schedule Bocor di Tekanan Tinggi? Cek 3 Hal Ini Sebelum Terlambat
• 9 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.