Puasa di era digital telekomunikasi

antaranews.com
8 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Puasa selalu dimaknai sebagai latihan pengendalian diri, ruang refleksi, dan momentum untuk menata kembali hubungan manusia dengan Sang Pencipta maupun sesamanya.

Namun, ketika masyarakat bergerak memasuki era digital yang semakin cepat dan terhubung, pengalaman berpuasa menghadapi babak baru. Ledakan penggunaan telekomunikasi, penetrasi internet yang kian masif, serta budaya informasi instan membuat praktik spiritual yang bersifat kontemplatif ini masuk ke ruang yang jauh lebih ramai dan penuh distraksi.

Dalam masyarakat modern, gawai seolah menjadi perpanjangan tangan manusia. Notifikasi datang tak henti, sementara media sosial berlomba-lomba menampilkan banjir informasi, hiburan, hingga dinamika sosial yang bisa menguras emosi.

Ali Gomaa, mantan Grand Mufti Mesir, dalam beberapa kesempatan mengingatkan bahwa puasa masa kini seharusnya tidak berhenti pada penahanan makan dan minum saja. Menurutnya, puasa perlu diperluas ke dalam bentuk “puasa indera digital”, yakni menahan diri dari konsumsi konten yang merusak kesehatan mental dan spiritual. Pesan ini relevan di tengah masyarakat yang semakin sulit melepaskan diri dari telepon pintar.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Cal Newport dalam bukunya Digital Minimalism. Newport menjelaskan bahwa teknologi digital modern dirancang untuk memaksimalkan perhatian, bahkan hingga membuat seseorang kehilangan kendali terhadap waktu dan fokusnya.

Ia tidak membahas konteks ibadah, tetapi gagasan tentang hidup yang lebih sadar dan tidak reaktif sangat sesuai dengan nilai-nilai yang ditekankan dalam berpuasa. Ketika seseorang berpuasa, ia diajak kembali pada inti dari kesadaran diri, sementara dunia digital sering kali menjerumuskan manusia pada pola konsumsi tanpa jeda.

Namun, perkembangan telekomunikasi tidak semata-mata menghadirkan tantangan. Pada saat yang sama, teknologi telah membuka ruang baru bagi umat untuk menjalankan ibadah dengan lebih mudah.

Aplikasi pengingat waktu sahur dan berbuka, pembelajaran Al-Qur'an digital, hingga layanan sedekah daring menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masa kini. Buku Digital Religion karya Heidi Campbell menegaskan bahwa teknologi mampu memperluas praktik keagamaan ke ruang daring tanpa menghilangkan esensi ajarannya. Pengalaman spiritual tetap dapat dipertahankan, meski medianya berubah.

Dakwah digital

Hal yang sama terlihat dalam maraknya dakwah digital. Ustaz, akademisi, maupun lembaga keagamaan kini memanfaatkan berbagai platform untuk menyampaikan pesan moral.

Prof Zada dari UIN Syarif Hidayatullah menjelaskan bahwa digitalisasi dakwah tidak dapat dihindari, dan peran telekomunikasi justru menjadi jembatan penting untuk menyebarkan nilai-nilai agama kepada generasi muda. Namun ia mengingatkan perlunya literasi digital agar masyarakat mampu memilah informasi dengan bijak, terutama di bulan suci ketika arus konten meningkat tajam.

Meski begitu, dinamika digital tetap menyimpan sejumlah tantangan yang dapat mengurangi kualitas ibadah. Distraksi menjadi masalah utama. Berpuasa seharusnya menjadi ruang untuk menenangkan diri, menata emosi, dan memperkuat kesabaran, namun banjir konten dari media sosial justru sering memicu reaksi yang berlebihan.

Dalam hitungan detik, seseorang bisa terpancing oleh isu viral, komentar provokatif, atau konten hiburan yang tanpa disadari menyita energi mental. Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar puasa di era kini bukan lagi sekadar rasa lapar, tetapi kemampuan menjaga fokus spiritual di tengah dunia yang terus menuntut perhatian.

Adam Alter dalam bukunya Irresistible menjelaskan bahwa platform digital memang dirancang berbasis prinsip psikologi perilaku untuk memaksimalkan ketergantungan pengguna. Sistem notifikasi, umpan tanpa akhir, hingga algoritma personalisasi membuat seseorang cenderung membuka perangkat lebih sering, bahkan ketika tidak ada kebutuhan mendesak.

Ketika interaksi dengan teknologi tidak lagi dapat dikendalikan, tujuan puasa sebagai latihan pengendalian diri menjadi sulit tercapai. Alih-alih menemukan ketenangan, seseorang justru terjebak dalam siklus distraksi yang melemahkan kualitas refleksi spiritual yang seharusnya tumbuh kuat selama bulan suci.

Di sisi lain, telekomunikasi juga memperkuat budaya konsumtif, terutama menjelang Ramadhan. Notifikasi promo belanja, diskon flash sale, hingga kampanye komersial sering kali mendorong masyarakat untuk membeli lebih banyak, bahkan ketika tidak dibutuhkan.

Fenomena ini bertolak belakang dari nilai kesederhanaan yang justru ingin dijaga selama berpuasa. Dalam konteks ini, puasa bukan hanya tentang penahan diri, tetapi juga upaya melawan derasnya arus konsumsi digital yang semakin menguat.

Perusahaan telekomunikasi memiliki peran penting dalam mengatur pengalaman digital masyarakat selama bulan suci. Setiap Ramadhan, operator meningkatkan kapasitas jaringan untuk mengantisipasi lonjakan trafik data.

Selain itu, program sosial, paket data khusus untuk aplikasi ibadah, hingga layanan konten edukatif menjadi bagian dari kontribusi industri telekomunikasi dalam mendukung kehidupan religius masyarakat. Laporan GSMA Mobile Economy menegaskan bahwa telekomunikasi modern berperan besar dalam memastikan inklusivitas informasi, termasuk akses terhadap konten keagamaan yang berkualitas.

Di luar aspek religius, konsep puasa digital kini juga semakin populer. Masyarakat mulai melakukan detoks teknologi dengan mengurangi penggunaan media sosial atau menonaktifkan notifikasi selama beberapa jam setiap hari. Meskipun tidak berlandaskan ajaran tertentu, praktik ini berakar pada kebutuhan manusia untuk kembali terkoneksi dengan diri sendiri. Dalam konteks puasa Ramadhan, praktik ini dapat menjadi penguat yang membantu umat memperbaiki fokus dan meningkatkan kualitas ibadah.

Pada akhirnya, puasa di era digital telekomunikasi tidak hanya mengubah bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana mereka berhubungan dengan teknologi. Tantangan mungkin lebih besar, tetapi peluangnya juga jauh lebih luas.

Dengan pemanfaatan teknologi secara bijak, puasa dapat menjadi lebih bermakna di tengah hiruk pikuk dunia digital. Puasa sekaligus menjadi momen untuk menata ulang relasi manusia dengan perangkat digitalnya, agar tidak terperangkap dalam arus informasi yang tidak berkesudahan.

Teknologi mungkin terus berkembang, tetapi nilai spiritual puasa tetap sama: menumbuhkan kesadaran, menguatkan kendali diri, dan membangun hubungan yang lebih sehat, baik secara spiritual maupun sosial. Di era ketika hidup begitu terhubung, puasa mengingatkan bahwa terkadang, yang paling kita butuhkan adalah sejenak terputus dari dunia luar agar dapat kembali terhubung dengan diri sendiri.



*) Dr Joko Rurianto adalah profesional di bidang telekomunikasi, aktif menulis jurnal pemasaran strategis dan literasi teknologi digital dalam praktik bisnis modern


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Masih 10,68%, Emiten Prajogo TPIA Bicara Kesiapan Penuhi Free Float 15%
• 17 jam lalukatadata.co.id
thumb
Victor Osimhen Goda Juventus Jelang Duel di Liga Champions, Berharap Direkrut di Bursa Transfer Musim Panas?
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Sebanyak 185 Lapangan Padel di Jakarta tak Berizin
• 15 jam lalurepublika.co.id
thumb
CMNP Kalah Lagi! Hotman Semringah Ahli Hukum Tegaskan: Ini Salah Gugat!
• 1 jam lalurctiplus.com
thumb
Menaker Undang Aplikator Besok, Bahas Bantuan Hari Raya untuk Ojol
• 1 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.