Indonesia akan mengimpor sebanyak 580.000 ekor Grand Parent Stock (GPS) atau induk ayam dari Amerika Serikat (AS). Kesepakatan ini tertuang dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang ditandatangani beberapa waktu lalu.
Dalam dokumen tersebut estimasi nilai importasi 580 ribu ekor induk ayam tersebut adalah sekitar USD 17 juta sampai USD 20 juta atau sekitar Rp 286 miliar sampai Rp 336,48 miliar (dengan kurs Rp 16.824 per dolar AS).
Jika dikalkukasikan, dengan Rp 286 miliar untuk pembelian 580 ribu induk ayam, maka Indonesia membeli induk ayam dari AS dengan harga Rp 493 ribu per ekor atau hampir Rp 500 ribu per ekor.
Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Pardjuni mengatakan umumnya harga normal induk ayam atau GPS saat ini berkisar antara USD 60 sampai USD 70 per ekor atau Rp 1 juta sampai Rp 1,17 juta (dengan kurs Rp 16.793 per dolar AS).
Menurut dia jika dalam ART pembelian induk ayam Rp 500 ribu per ekor, maka ada penurunan harga lebih dari 50 persen dan terbilang murah.
“Kalo saya hitung harga GPS segitu murah. Harga normal GPS sekarang ini sudah mencapai sekitar USD 60-70, apa mungkin harganya diturunkan sampai dengan 50 persen?” kata Pardjuni kepada kumparan, Rabu (25/2).
Hanya saja, dia melihat ada potensi importasi berlebihan jika harga induk ayam dari AS lebih murah dari biasanya. Dampaknya akan terjadi oversupply atau bahkan berdampak pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sektor ini.
Terlebih ada potensi kelebihan pasokan GPS dengan importasi tahun ini, meskipun selama ini Indonesia memang selalu mengandalkan impor untuk pengadaan GPS.
Pardjuni menjelaskan, pada akhir 2025 lalu ada informasi penetapan kuota impor GPS pada 2026 sebanyak 800 ribu ekor, meningkat dari importasi pada 2025 sebanyak 578 ribu ekor.
Menurut dia, dampak dari kuota impor yang diteken biasanya akan terjadi pada dua tahun berikutnya, sehingga besarnya kuota impor tahun ini dampaknya akan terjadi apad 2028.
“Sebagai estimasi bahwa satu GPS nanti berpotensi menghasilkan DOC FS (Day Old Chick Final Stock) pada dua tahun berikutnya sebanyak 150-an ekor DOC FS per minggu,” terangnya.
Maka dengan importasi 578 ribu GPS pada 2025, Indonesia berpotensi memproduksi lebih dari 80 juta DOC per minggu pada 2027, padahal kebutuhan hanya sekitar 65 juta per minggu, sehingga ada potensi kelebihan pasokan bibit ayam.
“Dan jika tahun 2026 ini MBG (Makan Bergizi Gratis) berjalan 100 persen dengan lauk menggunakan daging ayam. Saya kira sudah cukup dengan kuota GPS seperti tahun lalu, kalaupun mau ditambah maksimal 600.000 GPS saja,” katanya.
Terlebih dengan kuota impor 800 ribu ton GPS tahun ini, maka akan oversupply dan dampaknya terjadi pada 2028 nanti. “Jika GPS tahun ini benar-benar akan terealisasi di 800 ribu mungkin akan over di tahun 2028,” jelasnya.





