Duo Saham Pulp-Kertas Sinarmas INKP dan TKIM Melesat, Simak Analisisnya

idxchannel.com
4 jam lalu
Cover Berita

Dua saham emiten pulp dan kertas Grup Sinarmas, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) kompak menguat signifikan.

Duo Saham Pulp-Kertas Sinarmas INKP dan TKIM Melesat, Simak Analisisnya. (Foto: INKP)

IDXChannel – Dua saham emiten pulp dan kertas Grup Sinarmas, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) kompak menguat signifikan pada Rabu (25/2/2026).

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 11.45 WIB, saham INKP melonjak 7,77 persen ke Rp11.100 per unit, dengan nilai transaksi Rp550,30 miliar dan volume perdagangan 51,38 juta saham.

Baca Juga:
Flow2Max Tembus Filipina, PGEO Targetkan Instalasi Perdana Juni 2026

Setali tiga uang, saham TKIM melambung 9,84 persen menjadi Rp8.375 per unit. Nilai transaksi Rp33,17 miliar dan volume 4,13 juta saham.

Dengan ini, keduanya telah reli selama tiga hari beruntun.

Baca Juga:
Trio Saham ADRO, ADMR, dan AADI Kompak Melesat

Dalam sepekan saham INKP meningkat 12,91 persen, sedangkan TKIM 17,36 persen.

Riset Trimegah Sekuritas yang terbit pada 24 Februari 2026 menilai INKP mulai memasuki fase monetisasi setelah menyelesaikan siklus belanja modal besar selama empat tahun terakhir.

Baca Juga:
Saham Tambang Nikel hingga Tembaga Kompak Hijau, TINS-INCO Terdepan

Analis merevisi naik proyeksi laba bersih atau net profit after tax (NPAT) 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 65 persen dan 36 persen.

Revisi ini didorong oleh peningkatan utilisasi pabrik baru di Karawang serta potensi perbaikan struktur neraca melalui strategi deleveraging.

Pabrik Karawang telah menyelesaikan uji coba pada akhir Desember 2025 dan menunjukkan hasil awal yang menggembirakan.

Manajemen berencana membuka fasilitas tersebut kepada investor saham pada awal kuartal II-2026 guna memberikan visibilitas yang lebih jelas terhadap eksekusi operasional, efisiensi, dan potensi margin ekspansi terbaru ini.

Setelah bertemu manajemen, analis memproyeksikan utilisasi pabrik Karawang mencapai sekitar 30 persen pada 2026, naik menjadi 75 persen pada 2027, dan mendekati 90 persen mulai 2028 untuk lini kertas cokelat maupun putih.

Dengan asumsi tersebut, proyeksi pendapatan 2026 dan 2027 direvisi naik masing-masing 13 persen dan 2 persen.

Meski fasilitas baru mengadopsi teknologi produksi yang lebih modern dan efisien, Trimegah Sekuritas tetap menggunakan asumsi konservatif dengan estimasi margin EBITDA sekitar 23 persen, lebih rendah dibandingkan 26 persen pada fasilitas lama.

Selesainya proyek Karawang juga menandai perubahan fokus perseroan dari ekspansi agresif menuju penguatan arus kas.

Dengan investasi besar yang sebagian besar telah rampung, INKP kini memiliki tiga opsi alokasi modal: menurunkan utang (deleveraging), meningkatkan dividen, atau melanjutkan ekspansi tahap kedua (Phase 2) di Karawang.

Analis menilai deleveraging sebagai opsi paling berdampak sekaligus berisiko rendah.

Saat ini, INKP memiliki utang berbunga sekitar USD4,9 miliar, terdiri dari 50 persen obligasi dan 47 persen pinjaman bank.

Beban bunga tahunan mencapai sekitar USD310 juta, dengan proporsi utang sekitar 12 persen dalam dolar AS dan 88 persen dalam rupiah.

Menariknya, sekitar USD1,9 miliar utang akan jatuh tempo dalam enam bulan ke depan.

Jika perseroan melunasi fasilitas pinjaman bank dan melakukan refinancing obligasi dengan bunga 1 persen lebih rendah, beban bunga diperkirakan bisa turun sekitar 11 persen.

Efisiensi biaya pendanaan ini dinilai berpotensi langsung mendongkrak laba bersih, mengingat beban bunga saat ini hampir sebanding dengan laba.

Untuk ekspansi tahap kedua, yang berpotensi menambah kapasitas 1,5 juta ton per tahun dengan estimasi belanja modal sekitar USD750 juta, Trimegah menilai peluang realisasinya dalam waktu dekat relatif kecil.

Manajemen kemungkinan akan memantau ramp-up fase pertama selama dua hingga tiga tahun sebelum memutuskan ekspansi lanjutan.

Lebih lanjut, opsi peningkatan dividen dinilai terbuka seiring normalisasi belanja modal, dengan potensi dividend payout ratio (DPR) hingga sekitar 40 persen atau setara imbal hasil 4,8-7 persen.

Namun, analis memperkirakan manajemen akan lebih memprioritaskan penguatan neraca sebelum menaikkan distribusi kepada pemegang saham secara signifikan.

Trimegah Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan menaikkan target harga menjadi Rp13.800 per saham.

Target tersebut mencerminkan valuasi price to earnings (P/E) 2027 sebesar 8,5 kali, sekitar 17 persen lebih rendah dibandingkan rata-rata emiten pulp dan kertas global.

Meski demikian, volatilitas harga pulp global serta risiko eksekusi operasional di pabrik baru tetap menjadi faktor risiko utama terhadap prospek saham INKP. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Padel Bikin Gaduh: Izin Diperketat, Ratusan Lapangan Bakal Dibongkar
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Ketua Komisi X DPR Ingatkan Purbaya soal Blacklist DS Awardee LPDP
• 18 jam lalukompas.com
thumb
Pangkas Birokrasi, Kementerian Investasi Beri Kemudahan Izin Lokasi Mandiri bagi Usaha Mikro
• 20 jam lalutvrinews.com
thumb
DPR Desak Perlindungan Maksimal 45 WNI Usai Meninggalnya Bos Kartel Narkoba Meksiko
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Danantara Teken Kerja Sama dengan Arm Limited, Kembangkan Teknologi Semikonduktor
• 12 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.