Bambu Tidak Akan Selamanya Membungkuk Hanya Karena Ditiup Angin

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Seorang pegawai wanita yang bekerja di loket pelayanan administrasi kependudukan selalu tampak murung. Bisa dibilang dia menderita fenomena “takut masuk kerja”.

Dia memiliki kebiasaan unik. Setiap kali bertengkar dengan warga yang datang mengurus sesuatu, dimarahi, atau diperlakukan tidak menyenangkan, dia menulis satu kata kecil “忍” (sabar) di buku catatannya.

Jika kemarahannya besar, dia menulis satu kata “忍” (ren=Sabar) yang lebih besar.

Lima tahun berlalu. Buku catatannya penuh dengan kata “忍” dalam berbagai ukuran.

Bukan hanya harus memikul rasa kesal setiap hari, dia juga memikul beban mental dari semakin banyaknya “忍” yang dia tulis. Akhirnya dia jatuh sakit.

Seorang senior mengetahui penyebabnya dan memberi solusi.

“Buang buku lama itu. Ambil buku baru. Bagi setiap halaman menjadi dua bagian.
Di sebelah kiri tulis ‘warga sulit’, di sebelah kanan tulis ‘warga baik’.

Jika bertemu warga sulit, tulis satu ‘忍’ di kiri.
Jika bertemu warga baik, coret satu ‘忍’.
Jika tidak ada ‘忍’ yang bisa dicoret, gambar satu wajah tersenyum di sebelah kanan.

Setiap minggu, hitunglah. Mana yang lebih banyak—‘忍’ atau senyum?”

Dia mengikuti saran itu.

Memang, di sebelah kiri ada cukup banyak ‘忍’, tetapi semuanya terhapus oleh senyum di sebelah kanan—bahkan senyumnya jauh lebih banyak.

Hatinya berubah.

“Ternyata, orang yang membuatku bahagia lebih banyak daripada yang membuatku kesal.”

Sejak itu, dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menulis ‘忍’.

Jika bertemu warga yang mudah diajak berkomunikasi, dia menggambar senyum kecil. Jika bertemu warga yang sulit, dia mengerahkan seluruh kemampuannya agar orang itu puas—lalu menggambar senyum besar.

Lama-kelamaan, buku itu penuh dengan wajah tersenyum.

Senyum-senyum itu terpancar di wajahnya, juga menghangatkan hatinya. Penyakitnya sembuh. Dia kembali bersemangat. Pergi bekerja tidak lagi menjadi beban, melainkan kesempatan untuk mencari nafkah sekaligus menemukan kebahagiaan.

Kabarnya, dia kemudian menikah dengan seorang pengusaha kaya. Orang yang memperkenalkan mereka adalah seorang ibu yang dulu pernah membuatnya hampir “naik darah”, tetapi akhirnya dilayaninya dengan sepenuh hati hingga sangat terkesan.

Ibu mertua itu sering berkata dengan bangga di kantor pelayanan :  “Di mana lagi bisa menemukan menantu yang wajahnya selalu cerah seperti ini?”

Angin datang, batang bambu membungkuk. Angin pergi, bambu kembali tegak, seolah angin tak pernah datang.

Awan datang, meninggalkan bayangan di dasar danau. Awan pergi, danau kembali jernih, seolah bayangan itu tak pernah ada.

Bambu tidak akan selamanya membungkuk hanya karena pernah diterpa angin. Air yang jernih tidak akan selamanya menyimpan bayangan awan.

Begitu pula orang yang berhati lapang. Ia tidak akan membiarkan dua kata kasar menjadi badai abadi di dalam hatinya. Dia tidak akan mengukir luka permanen hanya karena sikap orang lain yang tidak sopan.

Seperti danau yang jernih—awan berlalu tanpa jejak. Seperti bambu yang lentur—angin berlalu tanpa bekas.

Renungan

Kalimat “Bambu tidak akan selamanya membungkuk hanya karena pernah ditiup angin” tentu bukan berarti bambu tak bisa patah. Jika dihantam topan besar, bambu pun bisa tumbang.

Namun maksudnya adalah tentang kehidupan sehari-hari—tentang masalah kecil, rasa tidak nyaman, atau perlakuan kurang menyenangkan yang kita alami.

Sakit dan bahagia itu seperti magnet. Kesedihan menarik lebih banyak kesedihan. Kebahagiaan menarik lebih banyak kebahagiaan.

Jika kita terus mengingat, menyimpan, dan memikirkan semua kepahitan, maka rasa sakit itu tidak akan berkurang—justru semakin membesar hingga membuat kita sulit bernapas.

Sebaliknya, jika kita sering mengingat pengalaman menyenangkan, perlahan kita akan menjadi lebih optimis dan terbuka.

Alam memberi banyak pelajaran. Bambu tidak sekeras pohon besar, tetapi justru karena kelenturannya ia mampu bertahan dari terpaan angin. Pohon besar bisa patah, tetapi bambu membungkuk lalu kembali tegak.

Masalah dalam hidup ibarat angin yang menerpa bambu. Yang perlu kita pelajari adalah kelenturan dan ketangguhan itu—tidak melawan keras hingga patah, tetapi mampu menyesuaikan diri dan kembali berdiri.

Karena angin pasti berlalu. Yang penting, kita tetap utuh ketika dia pergi.(jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Joan Mir Nilai Motor Honda Belum Kompetitif untuk MotoGP 2026
• 21 menit lalumediaindonesia.com
thumb
Golkar Sampaikan Duka Mendalam untuk Alex Noerdin
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Ekonomi Sulit, Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Dinilai Bebani Masyarakat
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Koreksi Saham Gerus Kekayaan Para Konglomerat RI, Harta Prajogo Lenyap Rp 145 T
• 13 jam lalukatadata.co.id
thumb
Haji Uma Berhasil Pulangkan Warga Aceh Utara Korban TPPO yang Minta Tebusan Rp40 Juta di Kamboja
• 4 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.