PT Pertamina Geothermal Energy Tbk atau PGE (PGEO) mulai bergeliat menjajaki pengembangan teknologi panas bumi hingga ke Filipina. Perseroan mengunjungi lapangan panas bumi wet steam terbesar di dunia milik Energy Development Corporation (EDC) di Leyte pada Kamis (12/2).
Kunjungan ini menjadi langkah PGEO untuk mengoptimalkan pengembangan teknologi panas bumi melalui penerapan Flow2Max. Flow2Max adalah teknologi pengukuran dua fase (two-phase flow meter) yang memungkinkan pemantauan aliran fluida secara real-time sehingga operator dapat mengevaluasi kinerja dan memprediksi produktivitas sumur panas bumi dengan lebih akurat.
Dalam kunjungan ke lapangan panas bumi milik EDC, PGEO membahas potensi penerapan perdana teknologi Flow2Max hingga memperluas peluang kolaborasi internasional. Selain itu, PGEO juga membuka peluang sumber pendapatan baru melalui komersialisasi inovasi teknologi.
Manager Production & Optimization Excellence PGEO, Mohamad Husni Mubarok, mengatakan Filipina saat ini menempati peringkat ketiga kapasitas panas bumi global setelah Amerika Serikat dan Indonesia.
Menurutnya, penerapan teknologi Flow2Max diharapkan dapat mendukung optimalisasi operasional, meningkatkan efisiensi produksi, dan memperkuat pengelolaan reservoir EDC secara berkelanjutan. Untuk diketahui, inovasi teknologi Flow2Max dikembangkan dari riset studi Husni saat menempuh pendidikan di University of Auckland.
“Penggunaan Flow2Max juga memperkuat manajemen dan optimalisasi reservoir di setiap lapangan panas bumi, termasuk membantu mendeteksi dini potensi masalah teknis pada sumur,” ungkapnya dalam keterbukaan informasi BEI, Rabu (25/2).
Sejumlah aspek teknis mulai dibahas, mulai dari kebutuhan teknis, pengukuran lapangan, hingga negosiasi harga sebelum memasuki tahap manufaktur dan pengiriman perangkat untuk instalasi. PGEO menargetkan pemasangan perdana teknologi tersebut pada Juni 2026.
Head of Geothermal Technology and Innovation (subsurface team) EDC, Erlindo Angcoy, menyampaikan ketertarikan EDC terhadap teknologi Flow2Max karena dinilai sesuai dengan karakteristik lapangan dan kebutuhan perusahaan dalam mengoptimalkan kinerja sumur panas bumi.
Sementara itu, Manager Ops Asset Management & Optimization PGEO, Jati Permana Kurniawan menuturkan, PGEO dan EDC sepakat untuk terus memperkuat kerja sama strategis. Menurutnya, kolaborasi ke depan tidak hanya mencakup implementasi teknologi, tetapi juga pertukaran pengetahuan dan penguatan kapabilitas teknis untuk mendorong kemajuan sektor panas bumi di tingkat global.
“Langkah ini juga sejalan dengan visi PGE untuk menjadi world leading geothermal producer sekaligus geothermal center of excellence, ujar Jati Permana Kurniawan.



