Semarak Imlek Festival: Tempat Ngabuburit Gen Z, Berkah Buat UMKM

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Museum Akulturasi yang hadir pada Imlek Festival 2577 di Lapangan Banteng, Jakarta, memberikan pengalaman tersendiri bagi masyarakat, terutama dari kalangan generasi Z.

Selain menambah pengetahuan, keberadaan museum ini juga cocok untuk menunggu waktu berbuka puasa. Tahun ini, perayaan Imlek menjadi spesial karena bertepatan dengan bulan Ramadan.

Muhammad Shidqi, salah satu pengunjung Museum Akulturasi, mengaku mendapat wawasan baru mengenai sejarah perjumpaan budaya Tionghoa dan Nusantara di Indonesia.

Di museum ini, informasi tersaji melalui papan yang menyerupai gapura. Papan-papan itu tersusun dengan pola zig-zag sehingga memudahkan pengunjung memahami alur cerita sejarah.

"Barusan aku baca-baca, bener-bener insightful. Aku baca sejarah-sejarahnya, aku baru tahu, oh, ternyata kayak gini loh (sejarah akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara) di Indonesia, gitu,” ujarnya dikutip Rabu (25/2).

Melalui Museum Akulturasi, Shidqi sadar jika budaya Tiongkok dengan Nusantara bisa hidup berdampingan.

"Di Indonesia full of culture-lah ya. Terlebih akulturasi budaya Cina masuk ke Indonesia tuh bukannya nabrak, tapi dia justru smooth ke budaya-budaya Nusantara yang udah ada. Jadi, ya bener-bener akulturasi budayanya klop,” katanya.

Selain terpukau dengan keberadaan Museum Akulturasi, Shidqi senang dengan keberadaan Imlek Festival ini. Dia berharap kegiatan serupa yang memadukan hiburan dan budaya dapat terus bermunculan.

Ia mendorong ruang dialog lintas agama yang lebih inklusif, terutama bagi generasi muda. Misalnya forum antar-umat dari generasi muda.

“Coba bikin yang lebih Gen Z, gitu. Misalnya kita bikin komunitas-komunitas yang emang disediakan untuk lintas agama dan untuk saling diskusi anak-anak muda. Menurut aku bakal lebih impactful. Banyak karya-karya yang bisa lahir dari ruang-ruang semacam itu,” kata dia.

Andre dan Meliana, pengunjung lain, mengaku mendapat wawasan baru dengan hadirnya Museum Akulturasi. Menurut mereka, kehadiran Imlek Festival pertama di Indonesia ini tak hanya menjadi ajang hiburan dan kuliner, tetapi juga menghadirkan ruang edukatif bagi pengunjung.

“Suasana di Museum Akulturasi bagus, sejuk juga, enak dan nyaman. Terus ada informasi tentang sejarah juga,” ucap mereka.

Kehadiran Museum Akulturasi di tengah gemerlap Imlek Festival 2577 merupakan terobosan tersendiri dalam memperkuat pesan harmoni budaya di tengah keberagaman Indonesia.

Berburu Makanan

Suasana hangat dan penuh toleransi mewarnai gelaran Imlek Festival 2577 yang berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta sejak 22 Februari hingga 3 Maret 2026.

Hal tersebut dirasakan langsung oleh Saras, Reni, dan Rita, tiga pekerja kantoran yang sengaja menyambangi festival tersebut untuk berburu takjil dan menikmati momen berbuka puasa bersama.

Meski festival ini berakar pada tradisi Tionghoa, mereka merasa keberagaman yang ditawarkan justru memberikan warna tersendiri di bulan Ramadan.

“Acaranya seru, makanannya banyak. Jadi, ke sini (festival imlek) buat coba-coba (kuliner), ya,” ujar Saras saat ditemui di lokasi festival.

Ketiganya terlihat antusias menikmati berbagai hidangan yang dibeli dari gerai-gerai UMKM di area festival, mulai dari mi ayam, lontong, bakso malang, hingga es teh.

Rita mengatakan mi ayam menjadi menu favoritnya. Sementara Reni dan Saras sangat menikmati kesegaran es teh di tengah suasana festival yang meriah.

Bagi mereka, kehadiran Imlek Festival di tengah bulan suci Ramadan bukan merupakan suatu pertentangan, melainkan bentuk keindahan toleransi di Indonesia.

Ke depan, mereka berharap acara serupa dapat terus dikembangkan dengan skala yang lebih besar. “Mungkin lebih banyak adain kegiatan seni kreasi kayak gini ya, biar kebudayaan juga nyatu di sini,” ujar Saras mewakili teman-temannya.

Berkah UMKM

Imlek Festival 2577 menjadi berkah tersendiri bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selain menjadi destinasi ngabuburit, festival Imlek pertama yang digelar di Indonesia ini menghadirkan beragam kuliner yang cocok untuk menu berbuka puasa.

Juafen menjadi salah satu pedagang yang merasakan dampak positif festival ini. Ia bersyukur kehadiran Imlek Festival yang bertepatan dengan momentum bulan suci Ramadan.

“Toleransinya luar biasa. Bisa berkumpul, bisa berbuka puasa bersama, bisa (merayakan) Imlek,” ujar Juafen di Lapangan banteng, Jakarta.

Bagi Juafen, hal tersebut merupakan pengalaman pertamanya berjualan di event besar seperti Imlek Festival. Meski newbie, ia mengaku penjualannya meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Juafen menawarkan coipan vegan sebagai produk unggulan. Berbeda dari coipan pada umumnya, ia menghadirkan versi nabati yang diklaim lebih sehat.

Selain itu, ia juga menjual sushi vegan dan bakso vegan yang halal bagi umat Muslim, sehingga dapat menjadi pilihan menu berbuka puasa.

“Kita berusaha untuk menciptakan dari yang hewani menjadi yang vegan, lebih sehat, halal,” ucapnya.

Menurut dia, tingginya antusiasme pengunjung yang datang untuk ngabuburit dan berbuka puasa bersama turut mendorong peningkatan penjualan.

Hal serupa disampaikan juga oleh Novi, pedagang asal Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Dia menjual pecel, gorengan, dan aneka takjil dengan harga terjangkau.

Novi mengaku sering berjualan di berbagai event bazar. Namun, ia menilai gelaran Imlek Festival ini memberikan hasil yang baik bagi usahanya, terutama dari sisi penjualan

“Kalau kemarin sih alhamdulillah ya kita bisa menjual 15 porsi untuk pecelnya saja,” ujarnya.

Novi pun menyambut baik gelaran Imlek Festival pertama di Indonesia yang menurutnya menjadi alternatif hiburan Ramadan yang terjangkau bagi masyarakat.

“Ya, bagus. Jadi kan kayak hiburan buat Ramadan juga ya. Kita bisa jalan-jalan ke sini gitu. Di sini kan gratis, dan di sini juga banyak hiburan,” ucapnya.

Ke depan, Novi berharap kegiatan serupa dapat terus diperbanyak agar semakin banyak UMKM merasakan manfaatnya.

“Untuk pemerintah ya ditingkatin lagi (event) yang kaya gini, lebih banyak lagi UMKM yang merasakan seperti gini,” katanya.

Imlek Festival 2577 tidak hanya menjadi ruang perayaan budaya, tetapi juga wadah pemberdayaan UMKM.

Imlek Festival merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) dan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI). Festival ini menjadi contoh sinergi dalam mengangkat budaya sebagai kekuatan bangsa.

Tak hanya menampilkan budaya Tionghoa, Imlek Festival juga membuka ruang pertemuan budaya Indonesia dengan negara lain. Misalnya kolaborasi dengan Korea Selatan serta rencana partisipasi dari perwakilan Tiongkok dalam agenda Imlek nasional ini.

Imlek Festival 2577 yang berlangsung sejak 22 Februari hingga 3 Maret ini terbuka untuk umum tanpa biaya masuk dan berlangsung setiap hari pukul 15.00–22.00 WIB. Informasi lengkap mengenai seluruh rangkaian acara dapat diakses melalui akun Instagram resmi @imlekfestival.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Telinga Anak Sakit saat Naik Pesawat? Ini Penjelasan Medis dan Cara Merawatnya!
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Percepatan Pembangunan Hunian Jadi Prioritas Jelang Idulfitri
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kawasan Rawan Longsor di Cisoka Sumedang Dipantau Intensif
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
All England: Apesnya Ganda Putra RI, 3 Pasangan di Bagan yang Sama
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Permintaan Maaf Bripda Mesias Siahaya, Brimob Penganiaya Pelajar Madrasah hingga Tewas
• 21 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.