Terdampak Krisis Iklim: Bagaimana Panas Ekstrem Membuat Harga Kopi Makin Melejit?

suara.com
3 jam lalu
Cover Berita

Suara.com - Bagi sebagian orang, kopi adalah bagian dari rutinitas harian. Namun, secangkir kopi yang diminum setiap pagi menyimpan cerita panjang dari hulu produksi—termasuk tantangan cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi.

Industri kopi kini berada di bawah tekanan krisis iklim. Peningkatan emisi karbon memicu perubahan suhu dan pola hujan, yang berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas panen. Di berbagai daerah penghasil kopi, petani menghadapi musim yang tak menentu, gagal panen, hingga penurunan hasil produksi.

Laporan terbaru dari Climate Central mengungkapkan fakta pahit bahwa perubahan iklim secara drastis mengubah lanskap produksi kopi dunia, menjadikannya lebih sulit ditanam dan lebih mahal untuk dibeli.

Analisis terbaru menunjukkan bahwa selama periode 2021-2025, perubahan iklim telah "menyuntikkan" gelombang panas tambahan yang merusak tanaman di hampir seluruh wilayah penghasil kopi dunia. Jika kita tidak bertindak, kenikmatan kafein harian kita akan menjadi sejarah yang terkubur oleh suhu yang terus memanas.

Panas Ekstrem: Musuh Utama Biji Kopi

Tanaman kopi, khususnya varietas Arabika, sangat sensitif terhadap suhu. Dari survei 25 negara, dapat dianalisis bahwa penghasil kopi utama menunjukkan bahwa antara tahun 2021 hingga 2025, perubahan iklim telah memicu lonjakan hari-hari dengan panas yang merusak.

Ambang batas suhu berbahaya bagi kopi adalah di atas 30 derajat Celcius atau setara dengan 86 derajat Fahrenheit. Jika melebihi itu, suhu di atas titik ini dapat merusak kualitas dan kuantitas panen, terutama bagi Arabika yang bahkan sudah mulai tertekan pada suhu 25 derajat Celcius.

Fakta Angka dari Lima Raksasa Kopi

Brasil, Vietnam, Kolombia, Indonesia, dan Etiopia selama ini menjadi tulang punggung pasokan kopi dunia, menyumbang sekitar 75 persen kebutuhan global. Namun, kelima negara produsen terbesar ini kini menghadapi tekanan serius akibat pemanasan global.

Baca Juga: Sahur atau Buka, Kapan Waktu Terbaik Minum Kopi saat Puasa Ramadan? Ini Kata Dokter

Di Brasil, perubahan iklim memicu tambahan sekitar 70 hari panas ekstrem setiap tahun. Indonesia bahkan mengalami sekitar 73 hari panas berbahaya tambahan. Sementara itu, Vietnam dan Kolombia masing-masing menghadapi kenaikan 59 dan 48 hari cuaca panas yang berisiko merusak tanaman. Di Etiopia, rata-rata terdapat tambahan 34 hari suhu ekstrem setiap tahunnya.

Lonjakan hari panas ini bukan sekadar angka. Suhu yang terlalu tinggi dapat mengganggu fase berbunga, menurunkan kualitas biji, hingga meningkatkan risiko gagal panen—ancaman nyata bagi keberlanjutan produksi kopi dunia.

Secara rata-rata, negara-negara ini akan mengalami sekitar 57 hari tambahan cuaca panas yang dapat merusak kopi setiap tahunnya disebabkan oleh polusi karbon.

Dampak Langsung bagi Kantong Konsumen

Pernahkan Anda bertanya-tanya mengapa harga latte atau kopi kemasan favorit Anda terus meroket? Jawabannya bukan sekadar inflasi biasa, melainkan efek domino dari krisis iklim. Pada Desember 2024 dan Februari 2025, harga kopi global mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.

Hal ini bermula dari kekeringan parah yang melanda Brasil pada 2023 hingga gelombang panas yang membakar ladang-ladang global, pasokan kopi dunia kini berada dalam tekanan hebat. Di balik setiap kenaikan harga di kasir, ada cuaca ekstrem yang sedang bekerja merusak panen para petani.

Masa Depan yang Berubah

Tanpa adaptasi yang memadai, lahan yang cocok untuk menanam kopi diprediksi bisa berkurang hingga 50% pada tahun 2050. Para petani, yang mayoritas adalah petani kecil dengan lahan kurang dari 12 hektar, kini berada di garis depan perjuangan ini.

Namun, masih ada secercah harapan di tengah panas yang menyengat. Para petani kini mulai berpacu dengan waktu untuk beradaptasi, salah satunya melalui praktik pertanian berkelanjutan. Mereka menanam pohon peneduh yang disebut dengan shade-grown coffe untuk melindungi tanaman dari panas menyengat sekaligus menjaga keanekaragaman hayati. Kita harus berterima kasih pada mereka karena strategi ini bukan hanya tentang menyelamatkan rasa dalam cangkir kopi kita, meainkan juga menjaga ekosistem dan habitat satwa liar agar tetap lestari di dunia.

Krisis iklim bukan lagi prediksi masa depan. Dengan mendukung praktik pertanian yang tangguh iklim, berarti tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga memastikan aroma kopi tetap ada untuk generasi mendatang.

Penulis: Vicka Rumanti


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Foto: Kapal Induk Terbesar AS Singgah di Yunani, Bersiap Menuju Timur Tengah
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Pertamina Bentuk Satgas RAFI 2026, Pastikan Distribusi BBM Lancar Selama Mudik Lebaran
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Gempa Hari Ini Selasa 24 Februari 2026: Dua Kali Menggetarkan Indonesia
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Lawatan Presiden Prabowo ke Yordania, Bahas Kerja Sama Pertahanan dan Pendidikan
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Anak Usaha Maybank Indonesia Percaya Diri Hadapi Dinamika Pasar 2026
• 3 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.