Ambon (ANTARA) - Universitas Pattimura (Unpatti) menggandeng perusahaan asal Belanda, Happy Grand Island (HGI), untuk melakukan studi pengelolaan sampah terpadu di Maluku sebagai langkah strategis mendorong sistem berbasis ekonomi sirkular dan berkelanjutan di daerah itu.
Rektor Unpatti, Prof Freddy Leiwakabessy di Ambon, Rabu, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan wujud komitmen perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi ilmiah terhadap persoalan daerah.
“Unpatti memiliki tanggung jawab akademik untuk memastikan setiap kebijakan dan proyek pembangunan di daerah didukung kajian ilmiah yang komprehensif. Kerja sama ini menjadi langkah konkret agar pengelolaan sampah di Maluku berbasis data, terukur, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Baca juga: Pemkot Ambon perketat aturan penggunaan kantong plastik
Ia menegaskan pengelolaan sampah tidak lagi dapat dipandang semata sebagai isu kebersihan, tetapi harus ditempatkan sebagai peluang ekonomi baru berbasis riset dan inovasi.
Menurut dia, keterlibatan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unpatti dalam penyusunan studi kelayakan diharapkan mampu melahirkan model bisnis pengelolaan sampah yang adaptif terhadap karakteristik wilayah kepulauan seperti Maluku.
Kerja sama tersebut diawali dengan seminar bertema “Praktik Penanganan Sampah dan Prospek Nilai Ekonomis Sampah di Masa Mendatang” yang digelar di Aula FEB Unpatti, Ambon. Seminar itu membedah persoalan mendasar pengelolaan sampah sekaligus membuka wawasan terkait potensi ekonomi dari pengolahan sampah berkelanjutan.
Kolaborasi ini juga membuka ruang bagi mahasiswa FEB Unpatti untuk terlibat melalui program magang dan pembelajaran lapangan. Keterlibatan mahasiswa diharapkan memperkaya pengalaman praktis sekaligus melahirkan riset aplikatif yang menjawab kebutuhan riil daerah.
Sementara itu, Direktur HGI, Kees Lafeber mengatakan studi kelayakan menjadi fondasi penting sebelum proyek pengelolaan sampah dijalankan secara luas.
“Studi kelayakan ini penting agar menjadi dasar pengambilan keputusan investasi serta perencanaan teknis detail ke depan,” katanya.
Ia menjelaskan penelitian yang dilakukan FEB Unpatti akan menilai kelayakan pembangunan fasilitas seperti Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), hingga bank sampah. Penilaian mencakup aspek teknis, finansial, lingkungan, dan sosial agar proyek yang dijalankan benar-benar aplikatif dan berkelanjutan.
Baca juga: Unpatti kampanye gaya hidup sadar sampah lewat program Asta Kampus
Baca juga: Merajut asa warga rentan dari tabungan sampah di Ambon
Kees yang bekerja di Maluku selama 11 tahun, khususnya di Pulau Saparua, menyebut model pengelolaan sampah yang diterapkan HGI di wilayah tersebut menunjukkan hasil positif. Sistem berbasis pemilahan dan pengolahan terpadu dinilai mampu mengurangi timbunan sampah sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat lokal.
Ia berharap pola serupa dapat direplikasi di Kota Ambon dan diperluas dalam skala provinsi. Namun, ia menekankan pembangunan industri pengolahan sampah, khususnya plastik, membutuhkan volume bahan baku yang memadai agar menarik bagi investor.
“Untuk membangun industri pengolahan sampah plastik di Ambon diperlukan volume yang besar agar investor tertarik membangun industri pengelolaan sampah. Karena itu, dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk mengubah budaya dan kebiasaan memilah serta mengumpulkan sampah plastik yang dapat dikemas,” ujarnya.
Rektor Unpatti, Prof Freddy Leiwakabessy di Ambon, Rabu, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan wujud komitmen perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi ilmiah terhadap persoalan daerah.
“Unpatti memiliki tanggung jawab akademik untuk memastikan setiap kebijakan dan proyek pembangunan di daerah didukung kajian ilmiah yang komprehensif. Kerja sama ini menjadi langkah konkret agar pengelolaan sampah di Maluku berbasis data, terukur, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Baca juga: Pemkot Ambon perketat aturan penggunaan kantong plastik
Ia menegaskan pengelolaan sampah tidak lagi dapat dipandang semata sebagai isu kebersihan, tetapi harus ditempatkan sebagai peluang ekonomi baru berbasis riset dan inovasi.
Menurut dia, keterlibatan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unpatti dalam penyusunan studi kelayakan diharapkan mampu melahirkan model bisnis pengelolaan sampah yang adaptif terhadap karakteristik wilayah kepulauan seperti Maluku.
Kerja sama tersebut diawali dengan seminar bertema “Praktik Penanganan Sampah dan Prospek Nilai Ekonomis Sampah di Masa Mendatang” yang digelar di Aula FEB Unpatti, Ambon. Seminar itu membedah persoalan mendasar pengelolaan sampah sekaligus membuka wawasan terkait potensi ekonomi dari pengolahan sampah berkelanjutan.
Kolaborasi ini juga membuka ruang bagi mahasiswa FEB Unpatti untuk terlibat melalui program magang dan pembelajaran lapangan. Keterlibatan mahasiswa diharapkan memperkaya pengalaman praktis sekaligus melahirkan riset aplikatif yang menjawab kebutuhan riil daerah.
Sementara itu, Direktur HGI, Kees Lafeber mengatakan studi kelayakan menjadi fondasi penting sebelum proyek pengelolaan sampah dijalankan secara luas.
“Studi kelayakan ini penting agar menjadi dasar pengambilan keputusan investasi serta perencanaan teknis detail ke depan,” katanya.
Ia menjelaskan penelitian yang dilakukan FEB Unpatti akan menilai kelayakan pembangunan fasilitas seperti Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), hingga bank sampah. Penilaian mencakup aspek teknis, finansial, lingkungan, dan sosial agar proyek yang dijalankan benar-benar aplikatif dan berkelanjutan.
Baca juga: Unpatti kampanye gaya hidup sadar sampah lewat program Asta Kampus
Baca juga: Merajut asa warga rentan dari tabungan sampah di Ambon
Kees yang bekerja di Maluku selama 11 tahun, khususnya di Pulau Saparua, menyebut model pengelolaan sampah yang diterapkan HGI di wilayah tersebut menunjukkan hasil positif. Sistem berbasis pemilahan dan pengolahan terpadu dinilai mampu mengurangi timbunan sampah sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat lokal.
Ia berharap pola serupa dapat direplikasi di Kota Ambon dan diperluas dalam skala provinsi. Namun, ia menekankan pembangunan industri pengolahan sampah, khususnya plastik, membutuhkan volume bahan baku yang memadai agar menarik bagi investor.
“Untuk membangun industri pengolahan sampah plastik di Ambon diperlukan volume yang besar agar investor tertarik membangun industri pengelolaan sampah. Karena itu, dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk mengubah budaya dan kebiasaan memilah serta mengumpulkan sampah plastik yang dapat dikemas,” ujarnya.





