PBB: Pasangan Muda Tunda Punya Anak karena Biaya Hidup Tinggi

suarasurabaya.net
4 jam lalu
Cover Berita

United Nations Population Fund (UNFPA) menilai tingginya biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, hingga ketimpangan pengasuhan membuat generasi muda menunda memiliki anak. Lembaga PBB itu menegaskan persoalan utama bukan krisis fertilitas, melainkan keterbatasan pilihan bagi anak muda dalam menentukan waktu dan jumlah anak.

Aleksandar Bodiroza Asia and the Pacific Regional Director ad interim UNFPA mengatakan hasil survei menunjukkan mayoritas responden sebenarnya ingin memiliki lebih dari dua anak. Namun, mereka memperkirakan hanya akan memiliki satu anak karena berbagai hambatan.

“Kita sudah melakukan survei, mereka rata-rata ingin memiliki lebih dari dua anak, tetapi mereka berpikir kemungkinan hanya akan memiliki satu anak. Ketika ditanya alasannya, 39 persen menjawab karena faktor keuangan atau tidak cukup uang,” ujarnya di Jakarta, seperti dilaporkan Antara, Rabu (25/2/2026).

Sekitar 20–22 persen responden menyebut persoalan perumahan karena belum memiliki rumah untuk membangun keluarga. Sementara itu, sekitar 20 persen menyoroti ketidakpastian kerja, dan 16 persen perempuan menilai tanggung jawab pengasuhan antara laki-laki dan perempuan belum setara.

“Tantangan itu di antaranya biaya hidup, kondisi keuangan, perumahan, pengasuhan anak, cuti ayah, cuti ibu, serta pembagian tanggung jawab yang setara antara pasangan,” kata Bodiroza yang akrab disapa Sasha.

Ia menambahkan, di Indonesia terdapat selisih antara angka fertilitas yang diinginkan dan yang diperkirakan akan terjadi. Pasangan muda rata-rata menginginkan 2,4 anak, tetapi memperkirakan hanya memiliki sekitar 1,9 anak.

Menurut Sasha, fokus kebijakan seharusnya tidak semata pada angka kelahiran, melainkan pada penguatan kualitas sumber daya manusia dan perlindungan hak reproduksi. “Kuncinya bukan pada penyebutan situasi ini sebagai krisis. Tantangannya bukan pada angka-angka demografis itu sendiri, melainkan apakah kita siap atau tidak menghadapi pergeseran demografis tersebut,” ujarnya.

Ia menegaskan pentingnya menjaga agensi reproduksi agar pasangan muda dapat menentukan kapan dan berapa anak yang ingin dimiliki. Kesenjangan antara keinginan dan perkiraan jumlah anak itulah yang kini didorong UNFPA untuk diatasi bersama pemerintah melalui dukungan kebijakan.(ant/iss)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kejutan Besar, Inter Milan Disingkirkan Bodo/Glimt, Keok Kandang-Tandang di Babak Playoff
• 16 jam laluharianfajar
thumb
Perjalanan Dua Pelari Le Minerale Running Squad Menaklukkan Diri Sendiri
• 15 menit lalukumparan.com
thumb
Prediksi BRI Super League, Persebaya Vs PSM: Duel 2 Tim dengan Tren Buruk
• 18 jam lalubola.com
thumb
Menteri LH Ungkap 40 TPA Masih Open Dumping, Kini Tahap Penyidikan
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Delta Sukses Teknologi Buka Suara soal Rencana BNN Larang Vape
• 22 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.