SURABAYA, FAJAR — Aroma rivalitas dan nuansa emosional menyelimuti laga panas antara PSM Makassar kontra Persebaya Surabaya. Pertandingan ini bukan sekadar perebutan tiga poin, tetapi juga sarat cerita lama yang kembali dipertemukan di atas lapangan.
Kapten PSM Makassar, Yuran Fernandes, menjadi salah satu figur yang berada di tengah sorotan. Bek tangguh asal Tanjung Verde itu pernah menjadi andalan pelatih Bernardo Tavares saat membawa PSM meraih kesuksesan, bahkan sempat diisukan akan bergabung dengan Persebaya Surabaya.
Namun jelang duel kedua tim, Yuran menegaskan satu hal: profesionalisme tetap menjadi prioritas utama.
Menurutnya, skuad Juku Eja telah melakukan berbagai evaluasi untuk tampil lebih baik dibanding pertandingan sebelumnya.
“Kami sudah melakukan yang seharusnya, meningkatkan hal-hal untuk lebih baik dari pertandingan sebelumnya. Kami harus memberikan yang terbaik agar ada peluang mendapat poin. Besok laga berat, lawan punya pemain bagus, tetapi saya percaya kami juga memiliki pemain yang bagus,” ujar Yuran.
Profesional di Atas Pertemanan
Pertemuan kembali dengan Bernardo Tavares menghadirkan cerita tersendiri bagi Yuran. Selama 3,5 tahun bekerja bersama, keduanya membangun hubungan yang cukup dekat, termasuk saat membawa PSM meraih gelar juara dan mengembangkan banyak pemain muda.
Meski demikian, Yuran menegaskan kedekatan tersebut tidak berlaku saat peluit pertandingan dibunyikan.
“Dia bersama kita selama 3,5 tahun melakukan hal bagus, membawa kita juara dan mengorbitkan banyak pemain muda. Hubungan kami baik, saya menganggap dia teman. Tapi untuk pertandingan besok kami harus profesional. Dia adalah lawan yang harus dikalahkan,” tegasnya.
Ia juga mengakui kedua pihak saling memahami karakter masing-masing, yang justru membuat pertandingan diprediksi berlangsung menarik.
“Dia tahu seperti apa saya dan saya tahu apa yang dia lakukan untuk timnya,” tambahnya.
Tavares: Tidak Ada Teman di Lapangan
Di kubu lawan, Bernardo Tavares juga mengakui memiliki ikatan emosional kuat dengan PSM Makassar. Klub tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya di Indonesia.
Namun pelatih asal Portugal itu menegaskan profesionalisme tetap berada di atas segalanya.
“PSM adalah klub yang sangat bermakna bagi saya selama 3,5 tahun di Indonesia. Tetapi saya seorang profesional. Sekarang saya berada di tim berbeda dan kami akan berjuang melakukan yang terbaik di lapangan,” ujarnya.
Tavares menilai PSM tetap sebagai tim kuat dengan kualitas pemain yang mumpuni, sehingga anak asuhnya harus tampil maksimal.
“Kami akan melawan tim bagus dengan komposisi pemain berkualitas. Kami harus belajar dari hasil buruk sebelumnya,” katanya.
Trucha Fokus Perbaiki Detail Permainan
Sementara itu, pelatih PSM Makassar Tomas Trucha memastikan timnya datang dengan kesiapan penuh meski harus menjalani jadwal kompetisi yang padat.
“Jadwal yang berat buat kami, empat pertandingan dalam 16 hari. Kami tidak mengumpulkan poin maksimal di beberapa laga terakhir. Kami sudah menganalisis tim lawan dan harus bertarung untuk setiap poin,” ujar pelatih asal Republik Ceko tersebut.
Trucha menyadari kehadiran Tavares di kubu lawan menjadi cerita tambahan dalam laga ini, mengingat sang pelatih sangat memahami karakter PSM.
Namun ia menegaskan hal tersebut tidak akan memengaruhi fokus timnya.
“Ini hanya cerita yang mengiringi pertandingan. Kami tetap respek, tetapi ini profesional. Mereka mempersiapkan timnya dan kami juga,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan evaluasi utama tim berada pada penyelesaian situasi bola mati dan distribusi servis yang sebelumnya kurang maksimal.
“Servis bagian dari permainan. Kami melakukan beberapa kesalahan sebelumnya dan sekarang mencoba memperbaikinya,” katanya.
Momentum Kebangkitan
Baik PSM maupun Persebaya datang dengan hasil kurang memuaskan dalam beberapa pertandingan terakhir. Karena itu, laga ini menjadi momentum penting bagi kedua tim untuk bangkit.
“Dua tim tidak meraih hasil bagus di laga terakhir. Ini kesempatan untuk mengubah situasi. Kami harus belajar dan saya berharap bisa meraih poin penuh,” tegas Trucha.
Dengan latar rivalitas lama, hubungan emosional pemain dan pelatih, serta kebutuhan mendesak untuk kembali ke jalur kemenangan, duel PSM kontra Persebaya dipastikan lebih dari sekadar pertandingan biasa.
Di atas lapangan, pertemanan ditinggalkan. Yang tersisa hanya satu tujuan: kemenangan.





