Relawan Yayasan Masjid Nurul Ashri Sleman DI Yogyakarta yang tengah berkarya di Aceh Tamiang diduga diteror bungkusan bangkai hewan tanpa kepala. Sebagai bentuk intimidasi, hal ini rawan mencoreng citra Aceh sebagai daerah ramah untuk semua relawan.
Peristiwa itu pertama kali diketahui dari unggahan video akun Instagram @masjidnurulashri pada Senin (23/2/2026). Dalam keterangan tertulis dalam video, relawan mereka diteror bungkusan plastik merah berisi bangkai hewan.
Bungkusan itu diletakkan di depan rumah toko yang menjadi posko relawan itu di kawasan Aceh Tamiang. Bangkai yang sudah berbelatung.
”Kami datang untuk membantu, bukan mencari musuh. Tapi, hari ini, kami justru diteror. Kami tidak merendahkan siapa pun. Tidak menyudutkan siapa pun. Kami hanya menjalankan tanggung jawab moral untuk saudara-saudara yang tertimpa bencana. Kalau gotong royong dianggap salah, lalu warga harus mengadu ke siapa?” tulis akun itu.
Melalui keterangan tertulis untuk mengomentari unggahan video, akun Instagram @ikhsan_lani membeberkan kronologisnya. Ikhsan Lani adalah salah satu relawan Yayasan Masjid Nurul Ashri.
Dia menceritakan, bersama rekannya menemukan bungkusan itu di sekitar alat berat di depan posko mereka, Senin (23/2/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, mereka baru membuang sampah.
Saat ditemukan, kantong plastik itu seperti sengaja tidak diikat erat. Akibatnya, keluar aroma busuk menyengat. Karena penasaran, mereka membukanya. ”(Ada) bangkai anjing tanpa kepala itu,” kata dia.
Satrio Widiantoro, relawan lainnya, kepada awak media, Selasa (24/2/2026), membenarkan peristiwa itu. Lokasi tepatnya di kompleks ruko Kampung Sungai Liput, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang. Tempat itu menjadi rumah sementara relawan sejak bertugas di Aceh Tamiang mulai pertengahan Desember 2025.
Sejak awal kedatangan, Satrio mengatakan, disambut sangat baik oleh warga setempat. Hubungan mereka dengan para warga terus terjalin tanpa cela. Mereka pun memastikan tidak pernah berkonflik dengan warga atau dengan siapa pun.
”Memasuki Ramadhan, kami ikut membagikan takjil, mengadakan buka bersama, hingga menyediakan guru ngaji di sekolah,” ujar Satrio.
Meski diteror, Satrio menuturkan, semangat dia dan kawan-kawannya tidak akan kendor. Mereka tidak takut. Kerja-kerja kemanusiaan, kata dia, akan terus dilanjutkan.
Akan tetapi, Satrio tetap berharap, kejadian itu tidak terulang. Semua demi kenyamanan semua pihak, terutama para relawan yang tengah berusaha meringankan beban korban bencana.
Juru Bicara Posko Penanganan Bencana Aceh Murthalamuddin mengecam peristiwa itu. Menurut dia, keamanan dan kenyamanan para relawan harus dijamin semua pihak. Relawan hadir saat menjalankan misi kemanusian membantu korban bencana.
Oleh karena itu, atas nama Pemerintah Aceh, ia meminta maaf. Dia mengimbau semua pihak untuk tidak mengganggu kerja kemanusiaan di Aceh.
”Hingga saat ini, masih banyak sukarelawan yang bekerja dengan tulus ikhlas untuk membantu korban bencana di Aceh,” ujarnya.
Murthalamuddin menuturkan, pihaknya belum tahu pasti motif kejadian itu. Dia menduga, peristiwa itu sebagai bentuk teror. Sebab, anjing sangat jarang berkeliaran di jalanan maupun dipelihara di Aceh.
Oleh karena itu, kecil kemungkinan kalau bangkai itu berasal dari anjing yang mati tertabrak. Apalagi bangkai itu sudah lama membusuk.
Akan tetapi, segala kemungkinan tetap terbuka. Murthalamuddin mengatakan, tidak menutup kemungkinan, hal itu dilakukan rekan atau warga sekitar yang punya masalah pribadi.
Atau, bisa jadi memang dilakukan pihak tertentu yang tidak tidak suka dengan keberadaan relawan di Aceh. Saat ini, banyak relawan getol menyebarkan foto dan video tentang kondisi Aceh yang masih memprihatinkan.
Bahkan, Murthalamuddin juga menyebut, teror dilakukan pihak-pihak yang ingin memberi citra Aceh sebagai daerah tidak ramah relawan. ”Itu memang teror tetapi kita belum tahu pasti siapa yang melakukan dan apa tujuannya,” kata Murthalamuddin.
Terlepas dari semua dugaan, lanjut Murthalamuddin, peristiwa itu terlanjur viral dan berpotensi menimbulkan spekulasi yang mendiskreditkan Aceh. Karena itu, Murthalamuddin berharap polisi bisa mengusut peristiwa tersebut agar semuanya terang-benderang tidak menjadi isu liar di masyarakat.
”Tindakan tegas polisi sangat diperlukan agar peristiwa serupa tidak terulang dan menepis isu-isu liar yang bisa mendiskreditkan Aceh. Sejak awal, Gubernur Aceh sangat terbuka menyambut kedatangan sukarelawan. Aceh tidak pernah alergi dengan sukarelawan,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Polda Aceh Inspektur Jenderal Marzuki Ali Basyah dalam keterangan tertulis kepada Kompas, Rabu, mengatakan, kasus itu telah ditangani Polres Aceh Tamiang. Namun, polisi belum tahu motif dari kasus tersebut.
Saat ini, aparat masih melakukan olah tempat kejadian perkara hingga mengumpulkan keterangan saksi. ”Kami harap masyarakat sabar menunggu hasil penyelidikan itu dan tidak berspekulasi,” ujar Marzuki.
Marzuki menuturkan, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah antisipasi. Hal itu seperti meningkatkan patroli dan pengamanan di sekitar lokasi posko sukarelawan. Koordinasi dengan unsur TNI, pemerintah daerah, dan pengelola posko juga dilakukan.
”Kami membuka ruang pelaporan cepat apabila ditemukan hal-hal mencurigakan,” katanya.
Ke depan, Marzuki turut menyarankan pengelola posko dan pihak terkait untuk memasang kamera pengawas (CCTV). Tujuannya, sebagai langkah pencegahan dini.
Dia menyebut, CCTV dapat menjadi sarana pendukung mencegah timbulnya niat pelaku gangguan keamanan hingga memperkuat sistem pengawasan. Rekamannya juga bisa membantu proses identifikasi apabila terjadi kasus serupa.
”Pada intinya, kami berkomitmen menjamin situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif, khususnya di lokasi yang menjadi pusat kegiatan masyarakat. Setiap bentuk intimidasi atau tindakan berpotensi mengganggu keamanan umum, akan ditindak tegas sesuai ketentuan hukum berlaku,” tutur Marzuki.





