FAJAR, MAKASSAR — Tren suntik putih masih diminati sebagian masyarakat karena dianggap mampu mencerahkan kulit secara instan.
Namun, di balik popularitasnya, muncul kekhawatiran setelah sejumlah orang mengaku mengalami gangguan kesehatan, bahkan ada yang menyebut terkena penyakit autoimun setelah menjalani prosedur tersebut.
Padahal yang paling berisiko adalah gangguan ginjal.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Klinik Fajar Medical Center, dr. Syafruddin Amin, Sp.KK menjelaskan anggapan suntik putih memicu penyakit autoimun, tidak bisa langsung disimpulkan.
Sebab kata dr Syafruddin, reaksi yang muncul umumnya merupakan respons alergi terhadap bahan yang disuntikkan, bukan autoimun.
“Ini alergi karena tubuh bereaksi terhadap zat asing, sedangkan autoimun merupakan kondisi ketika sistem imun justru menyerang jaringan tubuh sendiri,” ucapnya.
Ia menjelaskan jika suntik putih biasanya mengandung vitamin C dosis tinggi, glutathione, atau kombinasi keduanya. Vitamin C memang dikenal sebagai antioksidan, tetapi jika diberikan dalam dosis tinggi melalui suntikan, dapat menimbulkan efek samping tertentu, terutama pada organ ginjal.
“Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah pembentukan batu ginjal. Vitamin C dosis tinggi yang tidak terserap optimal, akan dibuang melalui ginjal dan dapat memicu pembentukan kristal yang lama-kelamaan menjadi batu ginjal,”ucapnya.
Risiko ini lebih tinggi pada orang yang menjalani suntik secara rutin tanpa pengawasan medis yang ketat.
Selain vitamin C, beberapa produk juga mengandung glutathione atau yang dikenal sebagai Tation. Zat ini berfungsi sebagai antioksidan dan sering digunakan untuk tujuan estetika.
“Namun, hingga kini, data ilmiah mengenai efek samping jangka panjang kombinasi bahan tersebut masih terbatas dan perlu kehati-hatian dalam penggunaannya,” ucapnya.
Ia menegaskan, keluhan seperti gatal, ruam, sesak napas, atau pembengkakan setelah suntik putih lebih mengarah pada reaksi alergi.
Kondisi ini terjadi karena sistem imun mengenali zat yang disuntikkan sebagai benda asing dan memicu perlawanan. Sementara itu, penyakit autoimun sendiri hingga kini belum diketahui secara pasti penyebabnya.
“Faktor genetik, lingkungan, infeksi, dan hormonal diduga berperan, tetapi tidak secara langsung disebabkan oleh suntikan kosmetik,” ucapnya.
Karena itu, penting untuk membedakan antara alergi dan autoimun agar tidak terjadi kesalahpahaman. Jika seseorang mengalami reaksi setelah suntik putih, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghentikan suntikan tersebut.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin,dr. Idrianti idrus Sp.DVE ,Subsp. Ven,MKes,FINSDV,FAADV menjelaskan tren suntik putih semakin populer di masyarakat, terutama bagi mereka yang ingin menjaga kesehatan kulit dan memperlambat tanda penuaan.
Namun, perlu diingatkan bahwa masyarakat harus memahami terlebih dahulu komposisi produk tersebut. Suntik putih berisiko jika dilakukan sembarangan, menggunakan bahan tidak terdaftar, atau dosis tidak sesuai.
“Tidak semua memiliki efektivitas yang sama, karena jenis, dosis, dan ukuran molekulnya sangat menentukan kemampuan tubuh untuk menyerapnya. Selain itu, dosisnya juga harus mencukupi untuk memberikan efek yang diharapkan,” ucapnya.
Suntik putih umumnya berisi vitamin C, kolagen, dan glutathione. Glutathione sebenarnya antioksidan yang justru sering digunakan untuk melindungi sel tubuh.
“Kalau risiko efek samping yang umum lebih berkaitan dengan gangguan ginjal (batu ginjal) akibat kelebihan vitamin C, reaksi alergi, nyeri perut, dan mual,” ucapnya.
Untuk itu dr ece sapaannya, mengimbau agar masyarakat agar berhati-hati terhadap prosedur estetika yang tidak memiliki indikasi medis jelas.
“Setiap tindakan injeksi harus dilakukan oleh tenaga medis kompeten dengan bahan yang terdaftar resmi. Kulit sehat tidak hanya bergantung pada prosedur instan,” ucapnya.(wis/lin)





