PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menyiapkan skema baru optimalisasi armada dengan mengalihkan pesawat penerbangan umrah untuk digunakan pada musim haji.
Direktur Niaga Garuda Indonesia, Reza Aulia Hakim, menjelaskan secara konsep, layanan umrah dan haji memiliki kesamaan dalam pola operasional, yakni mengangkut jemaah dari Indonesia menuju Arab Saudi.
"Ke depannya, mimpi kita adalah di network dan plan kita, pesawat yang digunakan oleh jam umrah ini akan di carry over atau di roll out untuk penggunaan haji," ucap Reza dalam acara HIPKA di Masjid Istiqlal Jakarta, Rabu (25/2).
Umumnya carry over atau roll out berarti pesawat yang digunakan untuk melayani umrah sepanjang tahun nantinya tetap berada dalam jaringan operasional Garuda dan dialihkan penggunaannya untuk mendukung penerbangan haji yang bersifat musiman.
Dengan demikian, kata Reza, armada bisa dimanfaatkan secara lebih optimal tanpa harus sepenuhnya bergantung pada penambahan pesawat sewaan saat musim haji.
"Tadi kita menyampaikan, pesawat yang kita [gunakan untuk haji] juga sewa. Tidak semua pesawat tidak menggunakan pesawat dari Indonesia sendiri," ungkapnya.
Lebih lanjut, katanya, secara profesional ada perbedaan signifikan antara layanan haji dan umrah, terutama dari sisi periode operasional.
"Saat ini umrah dan haji sebenarnya secara profesional ada perbedaan yang signifikan namun secara konsep mirip-mirip. Bagaimana kami menghantarkan jemaah umrah dari airport yang ada di Indonesia ke airport yang ada di Saudi," kata dia.
Perseroan menilai potensi pasar haji dan umrah Indonesia masih sangat besar, dengan estimasi total sekitar 1,2 hingga 1,5 juta jemaah per tahun. Sementara itu, pangsa pasar Garuda saat ini berada di kisaran 30 persen, sehingga ruang pertumbuhan dinilai masih terbuka.
"Jadi ceruknya masih besar, masih banyak jemaah yang stop over di Singapura, di Kuala Lumpur, bahkan sekarang ada di China, bahkan ada yang di India. Nah ini bagaimana kami hadir sebagai perwakilan pemerintah negara bisa meningkatkan market share," jelas Reza.





