Momen berbuka puasa biasanya identik dengan berkumpul bersama keluarga di rumah. Namun, bagi para pejuang rupiah, waktu Magrib sering kali tiba saat mereka masih berada di tengah perjalanan.
Salah satunya, Ina (22). Penumpang KRL rute Pondok Cina-Manggarai tersebut mengaku ini merupakan pengalaman pertamanya berbuka puasa di dalam gerbong kereta.
"Aku baru pertama kali juga sih (buka puasa) di kereta. Baru hari ini," kata Ina ditemui di sela perjalanannya menuju Stasiun Manggarai, Rabu (25/2/2026).
Kali ini, Ina menyiapkan ubi dan es teh sebagai santapan berbuka puasa. Menurutnya, kedua menu tersebut praktis untuk dimakan di jalan.
"Kalau di transportasi umum kan nggak boleh makan (sembarangan), jadi makannya harus cepat-cepat dan cari yang praktis," ujarnya.
Berbeda dengan Ina, penumpang KRL lainnya, Silvi (22) sudah merasa 'kenyang' dengan pengalaman berbuka di stasiun. Bekerja selama tiga tahun dengan rute Cikini-Kalideres membuatnya terbiasa transit di Stasiun Manggarai atau Stasiun Duri untuk membatalkan puasa.
"Daripada buka di kereta cuma minum doang, mendingan duduk dulu, lapar soalnya," kata Silvi sambil menikmati takjilnya.
Silvi bercerita, hari ini ia membawa 'amunisi' yang cukup lengkap. Selain takjil bihun dan lontong, ia menyempatkan diri berburu gorengan dan kebab di stasiun sebelum melanjutkan perjalanan.
"Tadi mampir dulu beli gorengan, lanjut beli kebab di stasiun baru ke Manggarai. Biar nggak lemas di jalan," tuturnya.
Meski harus berbuka jauh dari orang tua, Silvi mengaku tetap menikmatinya. Baginya, yang terpenting adalah asupan energi terjaga agar tetap kuat menembus kepadatan Jakarta hingga sampai di rumah.
(whn/whn)





