jpnn.com, JAKARTA - Oleh: Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti
Saya sering membaca tulisan-tulisan Ray Dalio - buku-bukunya yang tebal dan tenang, esai-esainya yang dingin, hingga tulisan panjangnya yang belakangan dia unggah di media sosial X.
BACA JUGA: Ketimbang Tersedot ke MBG, Dana Pendidikan Bisa Dipakai Buat Kesejahteraan Guru
Dari sana saya belajar satu hal: Dalio tidak menulis untuk menghibur, dia menulis untuk membongkar.
Dia tidak meramal masa depan, melainkan membuka pola masa lalu yang berulang dengan wajah berbeda.
BACA JUGA: Silakan Disimak Hasil Riset Labsosio UI tentang Program MBG
Oleh karena itu, ketepatan gagasan dan prediksinya terasa bukan seperti kebetulan, melainkan akibat dari kesetiaan membaca sejarah sebagai siklus - bukan sebagai kisah heroik yang selesai.
Dalam buku dan tulisannya, Dalio memberi arah yang melampaui ekonomi. Dia berbicara tentang peradaban: bagaimana negara bangkit ketika mampu menyeimbangkan kekuatan dan keadilan; bagaimana dia runtuh ketika ketimpangan dibiarkan, legitimasi menguap, dan rakyat merasa hidup di sistem yang bukan milik mereka.
BACA JUGA: Belasan Santri Ogan Ilir Tumbang Setelah Konsumsi MBG
Ekonomi, dalam kerangka Dalio, hanyalah gejala. Penyebab sejatinya adalah internal order - atau ketiadaannya.
Tulisan panjang Dalio yang baru-baru ini saya baca - yang juga sempat saya bagikan - menyatakan dengan lugas: tatanan dunia pasca-1945 telah runtuh.
Dunia memasuki fase great power politics, ketika hukum internasional melemah, konsensus global retak, dan kekuatan kembali menjadi bahasa utama.
Dalam istilah Dalio, ini adalah tahap lanjut Big Cycle: konflik eksternal berjalan seiring dengan keretakan internal. Negara-negara yang gagal mengurus dapur sendiri akan terseret, atau dipaksa memilih, dalam pertarungan yang tidak mereka rancang.
Dari sini, membaca arah kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto menjadi lebih bermakna jika diletakkan sebagai satu arsitektur, bukan serpihan janji.
Banyak orang menilai Prabowo dari simbol-simbol kekuatan dan militer. Namun dalam kerangka Dalio, kekuatan yang bertahan lama selalu disokong oleh buffer - lapisan-lapisan penyangga yang menahan guncangan sebelum berubah menjadi krisis.
Program makan bergizi gratis (MBG) adalah lapisan paling dasar dari penyangga itu. Dia sering dicap populis padahal, Dalio berulang kali menegaskan bahwa negara runtuh bukan karena kekurangan ide besar, melainkan karena mengabaikan kebutuhan paling elementer.
Rakyat yang lapar tidak punya kesabaran historis. Negara yang gagal menjaga isi dapur rakyatnya akan kehilangan legitimasi sebelum kehilangan kedaulatan.
Program ini bekerja pada tubuh sosial bangsa: mencegah kemarahan laten agar tidak menjelma konflik politik.
MBG dapat dibaca bukan sekedar memberi makan bergizi pada balita, anak sekolah, santri yang rentan, dia melampaui itu - membangun ekosistem ketahanan pangan, menggerakkan perekonomian di akar rumput-buffer yang multifungsi dalam tubuh bangsa.
Di atasnya, Koperasi Desa Merah Putih berfungsi sebagai penyangga struktural. Dalio mengingatkan bahwa konsentrasi kekayaan dan kendali ekonomi yang ekstrem adalah pemicu utama internal disorder cycle.
Koperasi desa bukan romantisme ekonomi kerakyatan, melainkan mekanisme distribusi kekuatan ekonomi - kepemilikan, bukan sekadar pendapatan. Ia menjaga agar pertumbuhan tidak menjadi cerita orang lain-sekelompok elit/si mampu yang hanya disaksikan dari pinggir.
Lapisan berikutnya adalah program-program buffer lain: ketahanan pangan, energi, dan air; stabilisasi harga; hilirisasi dan industrialisasi; perlindungan sosial.
Dalam kerangka Dalio, ini adalah benteng terhadap perang ekonomi global - perang pasokan, harga, dan teknologi - yang selalu mendahului konflik terbuka. Negara yang bergantung secara fatal akan mudah ditekan. Negara yang punya bantalan akan punya ruang bernapas.
Di sinilah politik luar negeri Prabowo Subianto menemukan konteksnya. Dalio menulis tanpa basa-basi: di dunia tanpa wasit, power respects power. Netralitas hanya dihormati jika disertai kapasitas.
Politik luar negeri yang non-ideologis, pragmatis, dan bebas-aktif bukan tanda kebingungan, melainkan strategi bertahan di dunia yang terfragmentasi. Namun Dalio juga mengingatkan: kekuatan eksternal selalu berakar pada stabilitas internal. Diplomasi yang berdaulat mustahil lahir dari dapur yang bergejolak.
Modernisasi pertahanan, hilirisasi, ketahanan pangan, makan bergizi gratis, koperasi desa, hingga perlindungan sosial - semuanya, jika dibaca dalam satu tarikan napas, adalah buffer berlapis. Mereka menahan tekanan dari bawah agar tidak meledak ke atas; dan menahan tekanan dari luar agar tidak langsung menghantam rakyat.
Ini bukan jaminan keselamatan- Dalio tidak pernah menjanjikan itu - tetapi upaya sadar untuk memperlambat, bahkan membelokkan, fase kehancuran dalam siklus besar.
Ray Dalio mengingatkan bahwa tidak ada negara yang kebal terhadap hukum sejarah. Namun, dia juga memberi pelajaran paling penting: peradaban bertahan bukan karena satu kebijakan spektakuler, melainkan karena kesediaan merawat fondasi secara sabar.
Dalam konteks itu, program-program Prabowo layak dibaca sebagai satu kesatuan-sebuah usaha merawat internal order agar Indonesia tidak memasuki dunia yang keras dengan tubuh yang rapuh.
Di zaman ketika aturan mengabur dan kekuatan kembali telanjang, mungkin pertanyaan terpenting bukan siapa yang paling lantang berbicara, melainkan siapa yang paling siap bertahan tanpa kehilangan rasa keadilan. Dan di sanalah, saya kira, ujian sejati peradaban kita akan berlangsung.
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi




