Liburan Keluarga Penuh Kejutan bagi Anak-Anak

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Liburan selalu menyimpan dua hal yang sulit dipisahkan yaitu rencana dan kejutan. Namun, dalam keluarga kecil ini, kejutanlah yang menjadi jantung perjalanan. Imlek 2026 yang beriringan dengan awal Ramadan menjadi momentum yang tak sekadar dimanfaatkan sebagai cuti bersama, tetapi dirancang sebagai hadiah khususnya untuk dua anak lelaki yang belum sepenuhnya mengerti arti “liburan”, tetapi sangat paham arti “bahagia”.

Subuh itu, rumah masih gelap. Ayah dan Ibu sudah lebih dulu terjaga. Koper kecil ditutup rapat, pakaian anak-anak dilipat dengan cermat, camilan dimasukkan ke dalam tas jinjing. Semua dilakukan dalam diam. Dua jagoan kecil, Nizar dan Syauqi, masih terlelap.

Nizar, anak pertama, menyimpan satu keinginan sejak lama yaitu melihat Monumen Nasional (Monas) dari dekat. Ia kerap bertanya bagaimana rupa Istana Negara, di mana Presiden berkantor, dan seperti apa Jakarta yang sering ia lihat di televisi. Syauqi, anak kedua yang usianya belum genap tiga tahun, belum punya daftar impian yang panjang. Baginya, perjalanan adalah permainan. Dunia adalah ruang eksplorasi tanpa batas.

Pagi itu, mereka belum tahu bahwa hari itu akan menjadi awal petualangan yang akan mereka kenang lama. Mobil keluarga meluncur menuju Masjid Kampus. Mobil diparkir di sana, lalu perjalanan dilanjutkan dengan transportasi daring menuju Stasiun Tugu. Bagi orang dewasa, ini adalah bagian teknis perjalanan. Namun bagi anak-anak, setiap moda transportasi adalah cerita.

Kereta Taksaka berangkat pukul 07.30 dari Stasiun Tugu dan dijadwalkan tiba sekitar pukul 13.30 di Stasiun Gambir. Perjalanan sekitar enam jam itu menjadi pengalaman pertama yang membuat mata anak-anak sulit berkedip. Kereta berangkat tepat waktu. Rel bergetar lembut. Kota perlahan menjauh.

Syauqi duduk di pangkuan. Usianya yang belum tiga tahun membuatnya belum dikenakan tarif penuh. Ia memandangi jendela, menunjuk pepohonan yang berlari mundur, sesekali bertanya dengan bahasa yang masih cadel. Nizar lebih serius. Ia mengamati kabin, kursi, penumpang, bahkan sesekali bertanya berapa kecepatan kereta melaju.

Perjalanan kereta bagi anak-anak bukan sekadar berpindah kota. Itu adalah ruang belajar tentang waktu, jarak, dan kesabaran. Di tengah perjalanan, tak ada keluhan berarti. Tidak ada drama kelelahan yang sering menjadi momok orang tua saat bepergian jauh. Yang ada adalah tawa kecil, camilan dibagi, dan tatapan takjub pada dunia yang bergerak dari balik kaca.

Enam jam berlalu. Kereta memasuki Stasiun Gambir. Jakarta menyambut dengan ritme yang berbeda, lebih padat, lebih cepat, lebih riuh. Namun perjalanan hari pertama belum selesai.

Monas Impian yang Menjadi Nyata

Setelah beristirahat dan membersihkan diri di hotel, keluarga kecil ini tak ingin menyia-nyiakan waktu. Sore itu, tujuan pertama sudah jelas yaitu Monas. Perjalanan menuju Monumen Nasional sempat diwarnai sedikit kebingungan titik lokasi. Sopir daring mengantar ke pintu masuk terdekat untuk pembelian tiket. Sedikit berjalan kaki, sedikit bertanya, sedikit menyesuaikan arah. Bagi orang dewasa, itu dinamika kota. Bagi anak-anak, itu petualangan.

Antrean terlihat panjang. Libur panjang membuat kawasan Monas penuh pengunjung. Namun semangat Nizar tak surut. Wajahnya menunjukkan satu hal yaitu akhirnya ia sampai Monas.

Area taman dieksplorasi lebih dulu. Hamparan hijau memberi ruang bagi anak-anak untuk berlari. Museum di bagian bawah Monas menjadi pemberhentian pertama. Diorama sejarah yang berjajar memperkenalkan potongan perjalanan bangsa. Meski belum sepenuhnya dipahami, suasana ruang bawah tanah yang temaram membuat Nizar diam lebih lama dari biasanya.

Lalu tibalah momen paling dinanti menuju Cawan dan Puncak Monas. Antrean lift mengular. Waktu terasa melambat. Energi terkuras. Namun setiap langkah naik mendekatkan pada satu keinginan yang telah lama disebut-sebut di rumah.

Di puncak Monas, angin bertiup lebih kencang. Jakarta terlihat dari sudut pandang berbeda. Nizar menempelkan mata pada teropong. Satu per satu titik kota ia identifikasi.

“Itu Istana Negara…” katanya penuh keyakinan.

Ia melihat Stasiun Gambir, tempat kereta yang membawanya tiba beberapa jam lalu berhenti. Ia menghubungkan dua titik yaitu tempat datang dan tempat berdiri. Di sana, di ketinggian itu, ia belajar tentang peta dan perspektif.

Antrean turun lift kembali panjang. Namun kali ini, lelah bercampur puas.

Perjalanan dilanjutkan dengan kereta mini mengelilingi area taman. Angin sore mulai berubah warna. Di pintu keluar, suasana khas wisata kota terasa lebih hidup. Penjual oleh-oleh, minuman, jajanan tradisional berjajar.

Nizar memilih kerak telur, makanan khas Jakarta yang selama ini hanya ia dengar dari cerita. Syauqi memilih odong-odong, lengkap dengan bonus balon yang dipegang erat-erat. Sambil menunggu Syauqi menyelesaikan putaran kecilnya, keluarga itu menyantap kerak telur yang masih hangat. Rasa gurih bercampur aroma arang menyatu dengan suasana sore. Hari belum selesai.

Magrib di Masjid Istiqlal

Matahari mulai condong ke barat. Satu tujuan lagi sudah lama masuk daftar keinginan Nizar yaitu mendengar azan langsung di Masjid Istiqlal.

Transportasi kali ini berbeda. Sebuah bajaj membawa mereka menyusuri jalan Jakarta. Bagi anak-anak, kendaraan berwarna cerah itu adalah pengalaman baru. Suara mesinnya khas. Dari dalam bajaj, Monas kembali terlihat dari sudut berbeda.

Sesampainya di Masjid Istiqlal, suasana menjelang magrib terasa khidmat. Di pelataran, pengunjung lalu-lalang. Syauqi memilih es krim kesukaannya sementara menunggu waktu salat magrib.

Ayah dan Nizar lebih dulu berwudhu dan masuk ke dalam masjid. Ruang utama Istiqlal yang luas dan megah membuat Nizar terdiam. Ketika adzan berkumandang dari muadzin Masjid Istiqlal, ia menengadah. Suaranya menggema, berlapis, menggetarkan.

Itu bukan sekadar azan. Itu pengalaman spiritual pertama yang ia sadari sebagai momen istimewa. Usai salat magrib, keluarga bertemu kembali di Resto Teras Sultan Istiqlal untuk makan malam. Hidangan sederhana terasa istimewa karena suasana. Setelah makan dan salat isya, mereka memutuskan berjalan kaki menuju hotel.

Di depan masjid, berdiri Gereja Katedral. Dua rumah ibadah besar saling berhadapan, berdampingan dalam cahaya lampu malam. Keluarga itu berhenti sejenak, berfoto, mengabadikan momen kebersamaan yang tak hanya soal wisata, tetapi juga tentang ruang hidup yang damai.

Perjalanan kaki sempat diwarnai kebingungan arah di sekitar Stasiun Juanda. Bertanya pada tukang ojek pangkalan menjadi solusi sederhana yang menenangkan. Jakarta, yang sering dianggap keras, sore itu terasa ramah. Akhirnya sampai di hotel, tubuh lelah namun hati penuh.

Hari pertama di Jakarta selesai. Namun petualangan sesungguhnya baru akan dimulai esok hari di pesisir utara kota, di tempat di mana laut, wahana, dan kejutan lain telah menunggu.

Sehari Penuh di Ancol: Antara Laut, Barongsai Bawah Air, dan Malam Lampion Imlek

Pagi di Jakarta dimulai lebih cepat dari biasanya. Di kamar hotel, koper sudah setengah terbuka sejak subuh. Tidak ada rasa tergesa, tetapi ada ritme perjalanan yang harus diikuti. Hari kedua adalah hari yang dipersiapkan untuk eksplorasi penuh. Tujuan utamanya kawasan wisata pantai yang telah lama dikenal sebagai ruang rekreasi keluarga lintas generasi yaitu Taman Impian Jaya Ancol.

Selepas mandi pagi, kami sekeluarga turun untuk sarapan. Meja makan hotel menjadi ruang perencanaan sederhana, memastikan energi cukup, menata tas kecil, dan sekaligus check-out. Anak-anak belum memahami logistik perjalanan, tetapi mereka paham bahwa hari ini akan berbeda.

Transportasi daring dipesan. Mobil pertama yang menerima pesanan tidak kunjung tiba, bahkan meminta pembatalan. Hal semacam ini lazim dalam dinamika kota besar. Pesanan kedua datang dengan kejutan kecil yaitu mobil listrik. Bagi Nizar dan Syauqi, ini pengalaman pertama.

Mereka memperhatikan dashboard tanpa suara mesin konvensional, memperhatikan gerak kendaraan yang halus, dan sesekali bertanya kenapa mobilnya “tidak berisik”. Dalam perjalanan keluarga, pengalaman teknologis kecil semacam ini sering menjadi pembelajaran tak terduga.

Setibanya di hotel kawasan Ancol, barang dititipkan. Waktu terlalu berharga untuk dihabiskan di kamar. Tujuan pertama hari itu sudah jelas yaitu dunia bawah laut yang selama ini hanya mereka lihat di buku dan layar televisi.

Dunia Air yang Membuat Mata Anak-anak Tak Berkedip

Bus wara-wiri gratis mengantar mereka menuju halte gondola. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Sea World Ancol.

Begitu memasuki area akuarium, atmosfer berubah. Cahaya redup kebiruan, suara air, dan kaca raksasa berisi kehidupan laut langsung menyedot perhatian anak-anak. Ikan berwarna-warni bergerak seperti lukisan hidup.

Nizar dan Syauqi berjalan cepat, sesekali berhenti mendekatkan wajah ke kaca. Dunia laut yang biasanya jauh, kini hadir beberapa sentimeter dari pandangan.

Salah satu pertunjukan yang mereka saksikan adalah pemberian makan ikan piranha. Mereka duduk di tengah agar pandangan lebih jelas. Ketika ikan-ikan itu bergerak agresif menyambar makanan, ekspresi anak-anak berubah antara takjub dan sedikit tegang. Itu pengalaman visual yang kuat, memahami bahwa alam memiliki karakter yang berbeda dari bayangan kartun.

Perjalanan dilanjutkan menyusuri area akuarium hingga tiba pada pertunjukan bertema Imlek yang menjadi salah satu momen paling unik hari itu yaitu barongsai bawah air.

Pertunjukan dimulai dengan drama musikal bernuansa perayaan tahun baru, lalu muncul barongsai yang menyelam di kolam besar. Bagi banyak pengunjung, ini mungkin tontonan langka. Bagi anak-anak, ini nyaris magis.

Melihat barongsai bergerak di dalam air, memberi makan ikan, menciptakan sensasi seolah budaya, seni, dan alam bertemu dalam satu panggung.

Nizar kemudian mencoba pengalaman virtual reality memberi makan ikan. Rekaman aktivitasnya dikirim ke ponsel ibu, bentuk dokumentasi modern yang membuat pengalaman tidak berhenti di lokasi.

Pertunjukan terakhir yaitu pemberian makan hiu. Penyelam memasuki kolam besar, berhadapan langsung dengan beberapa jenis hiu. Anak-anak memperhatikan dengan intens. Ketegangan terasa, tetapi juga rasa ingin tahu yang kuat.

Keluar dari area akuarium, waktu menunjukkan siang hari. Rasa lapar datang bersamaan dengan kepuasan eksplorasi. Mereka makan di area food court sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya.

Melihat Ancol dari Langit

Sore mulai mendekat. Saatnya menuju wahana yang sejak tadi ditunda agar dinikmati pada waktu yang tepat yaitu gondola.

Tiket dibeli, antrean dilalui, lalu kabin perlahan bergerak meninggalkan tanah. Dari atas Pantai Ancol terlihat berbeda. Garis pantai, wahana, hotel, pergerakan jet ski, hingga kapal pesiar milik pengunjung kelas atas menjadi panorama hidup.

Bagi anak-anak, ini bukan sekadar naik wahana. Ini adalah pengalaman perspektif melihat dunia dari atas, memahami skala ruang, menyadari luasnya tempat yang mereka jelajahi.

Setelah turun, perjalanan berlanjut ke Samudra Ancol untuk menyaksikan pertunjukan lumba-lumba. Gerakan hewan laut yang lincah, interaksi pelatih, dan tepuk tangan penonton menjadi penutup eksplorasi siang hari.

Perjalanan kembali ke hotel menggunakan bus wara-wiri sempat diwarnai salah rute. Namun justru dari kesalahan arah itulah mereka melihat sisi lain kawasan Ancol yaitu stadion internasional, tepi pantai dari sudut berbeda, hingga warung-warung kecil yang memperlihatkan wajah keseharian kawasan wisata. Kesalahan kecil sering kali memperluas pengalaman.

Kolam Renang, Busa, dan Malam Lampion

Setelah tiba di hotel, anak-anak mengganti pakaian renang. Kolam renang bukan sekadar fasilitas, tetapi ruang bermain utama sore itu. Bertepatan dengan perayaan Imlek, ada pertunjukan tematik anak-anak yaitu pesta busa, senam bersama, dan dekorasi bernuansa perayaan.

Nizar menikmati perosotan air. Syauqi bermain di area dangkal. Tawa anak-anak bercampur suara musik dan percikan air menciptakan suasana riang yang sulit dilupakan.

Selepas mandi dan salat magrib, keluarga kembali keluar menuju restoran seafood Bandar Djakarta Ancol. Bus wara-wiri kembali menjadi transportasi malam itu.

Makan malam berlangsung santai, ditemani pemandangan kapal wisata. Setelah itu mereka berjalan menuju kawasan Ocean Ecopark yang dihiasi lampu. Air mancur berwarna-warni menyala. Lampion-lampion Imlek berbentuk kuda api bergantung di udara, memantulkan cahaya lembut. Malam terasa seperti festival kecil.

Perjalanan pulang kembali diwarnai salah rute bus. Mereka tidak sendiri beberapa pengunjung lain mengalami hal serupa. Pada akhirnya mereka berganti jalur dan sampai di hotel dengan tubuh lelah.

Anak-anak hampir tertidur sebelum kepala menyentuh bantal. Hari kedua berakhir dengan catatan pengalaman yang padat yaitu laut, teknologi, budaya, permainan, hingga lampu-lampu malam. Namun masih ada satu kejutan tersisa kejutan yang belum diketahui Nizar dan Syauqi. Kejutan yang akan menutup perjalanan dengan cara yang tidak terduga.

Kejutan Terakhir: Dari Playground Hotel Menuju Langit dan Pulang Menyambut Ramadan

Hari ketiga perjalanan tidak dibuka dengan agenda besar. Tidak ada daftar tempat wisata, tidak ada target eksplorasi. Justru di sinilah ritme liburan berubah melambat, memberi ruang untuk menikmati waktu yang tersisa sebelum kembali ke rutinitas.

Pagi itu dimulai dengan sarapan santai di hotel kawasan Taman Impian Jaya Ancol. Anak-anak tidak terburu-buru. Tidak ada tekanan waktu selain batas check-out pada tengah hari. Liburan keluarga sering kali mencapai momen reflektif seperti ini saat keseruan dua hari sebelumnya berubah menjadi rasa tenang yang mengendap.

Setelah sarapan, koper belum langsung ditutup. Masih ada satu fasilitas yang ingin dimanfaatkan yaitu area bermain anak.

Di ruang playground hotel, Nizar dan Syauqi menemukan dunia kecil yang berbeda dari pantai dan wahana. Ada permainan basket mini, meja pingpong, perangkat virtual reality, area mewarnai, memanah, hingga mini golf. Permainan-permainan ini mungkin sederhana dibanding wahana besar Ancol, tetapi justru memberi ruang eksplorasi yang lebih personal.

Nizar mencoba berbagai permainan dengan rasa ingin tahu yang konsisten. Syauqi berpindah dari satu sudut ke sudut lain, menemukan kesenangan pada detail-detail kecil. Di sini, perjalanan keluarga menunjukkan makna lain yaitu liburan bukan semata lokasi, tetapi interaksi.

Waktu berjalan hingga mendekati pukul dua belas siang. Check-out dilakukan. Tujuan berikutnya adalah bandara. Namun, seperti dua hari sebelumnya, kejutan masih menjadi benang merah perjalanan.

Dari Darat ke Udara, Impian yang Tak Diberi tahu

Transportasi daring membawa keluarga meninggalkan kawasan pantai menuju bandara internasional terbesar di Indonesia yaitu Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.

Menariknya, mereka tidak langsung menuju terminal keberangkatan utama. Mereka turun di Terminal 1 terlebih dahulu. Tujuannya sederhana tetapi bermakna yaitu mencoba kereta penghubung bandara atau sky train menuju Terminal 3.

Bagi Nizar, ini hanya bagian perjalanan pulang. Ia mengira mereka akan kembali menggunakan kereta seperti saat berangkat. Ia belum mengetahui kejutan utama hari itu.

Perjalanan dengan sky train memberi pengalaman tambahan yaitu sistem transportasi modern, bandara sebagai ruang transit yang besar, serta sensasi bergerak antar terminal dengan kereta tanpa masinis. Anak-anak menikmati prosesnya tanpa menyadari bahwa ini hanya pengantar menuju pengalaman yang lebih besar.

Baru ketika tiba di Terminal 3, rahasia dibuka. Mereka tidak akan pulang dengan kereta. Mereka akan pulang dengan pesawat.

Ekspresi Nizar berubah cepat, antara terkejut, senang, dan sedikit tak percaya. Keinginan yang sebelumnya tidak pernah dijanjikan kini tiba-tiba menjadi nyata. Syauqi, meski belum sepenuhnya memahami, ikut merasakan kegembiraan suasana.

Di ruang tunggu, waktu terasa berjalan berbeda. Karena membawa anak kecil, keluarga mendapat prioritas boarding lebih awal. Mereka memanfaatkan waktu untuk berfoto mengabadikan momen pertama yang sering menjadi penanda dalam memori keluarga.

Ketika akhirnya berjalan di lorong menuju pesawat, pengalaman baru dimulai. Pesawat lepas landas. Jakarta mengecil dari jendela. Awan menjadi lanskap. Untuk anak-anak, ini bukan sekadar moda transportasi. Ini adalah peristiwa yang mengubah cara mereka melihat jarak dan dunia.

Pulang, Percakapan Singkat, dan Lingkaran yang Lengkap

Pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Yogyakarta. Namun perjalanan belum selesai. Dari bandara, mereka melanjutkan perjalanan menggunakan kereta bandara menuju Stasiun Tugu.

Di kereta, terjadi interaksi kecil yang menjadi cerita tersendiri. Nizar duduk bersebelahan dengan seorang penumpang dari Korea Selatan. Percakapan sederhana berlangsung, meski kosakata bahasa Inggris belum banyak. Interaksi singkat itu menjadi pengalaman lintas budaya yang nyata baginya. Sebuah pelajaran sosial yang tidak direncanakan.

Setibanya di Stasiun Tugu, transportasi daring kembali mengantar keluarga menuju Masjid Kampus tempat mobil diparkir sejak awal perjalanan. Lingkaran perjalanan terasa lengkap, titik awal menjadi titik akhir. Mereka pulang ke rumah, sempat mampir makan malam, lalu beristirahat. Malam berikutnya, kehidupan kembali pada ritme spiritual. Salat tarawih pertama dilaksanakan. Ramadan hadir.

Makna Perjalanan, Hadiah yang Lebih Panjang dari Liburan

Liburan tiga hari itu mungkin singkat dalam ukuran waktu. Namun dalam pengalaman, ia menyimpan lapisan yang panjang.

Ada kebahagiaan sederhana saat melihat anak terpukau oleh dunia yang baru. Ada pembelajaran tentang transportasi, sejarah, budaya, teknologi, hingga interaksi sosial. Ada momen spiritual di masjid besar ibu kota. Ada tawa di kolam renang. Ada kesalahan arah yang justru memperluas perspektif.

Yang terpenting, ada kejutan-kejutan kecil yang dirancang bukan sekadar untuk menghibur, tetapi untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan kenangan yang melekat.

Liburan keluarga bukan hanya soal destinasi. Ia adalah investasi emosi. Hadiah pengalaman yang mungkin kelak diingat anak-anak bukan karena tempatnya, tetapi karena kebersamaan yang menyertainya.

Ketika Ramadan tiba, perjalanan itu menjadi semacam pengantar. Sebuah jeda kebahagiaan sebelum memasuki bulan refleksi. Harapannya sederhana yaitu kenangan liburan menjadi energi bagi anak-anak menjalani puasa, sekaligus pengingat bahwa dunia luas, indah, dan penuh kesempatan untuk dijelajahi bersama.

Dan seperti banyak perjalanan keluarga lainnya, kisah ini tidak berakhir ketika koper dibongkar. Ia berlanjut dalam cerita yang akan diulang di meja makan, dalam foto yang dilihat kembali, dan dalam impian kecil yang mungkin suatu hari nanti berubah menjadi rencana perjalanan berikutnya.

Sebab pada akhirnya, liburan terbaik bukan tentang pergi jauh. Melainkan tentang pulang dengan kenangan yang lebih dekat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Unpatti gandeng perusahaan Belanda studi pengelolaan sampah di Maluku
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Kemenhut perkuat tata kelola hasil hutan lewat SVLK+ berbasis digital
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Mantan Gubernur Sumsel Alex Noerdin Meninggal Dunia di Usia 76 Tahun
• 26 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Presiden Prabowo Tiba di Yordania, Bahas Kerja Sama Strategis dengan Raja Abdullah II
• 22 jam lalutvrinews.com
thumb
Foto: Masjid Bergaya Timur Tengah Berdiri di Tengah Permukiman Pasar Minggu
• 16 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.