Red Hat: Fleksibilitas Infrastruktur Jadi Penentu Tren AI Tahun 2026

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ada masa ketika teknologi kecerdasan buatan (AI) dianggap sebagai eksperimen mahal yang hanya relevan bagi perusahaan teknologi besar. Masa itu sudah lewat. Hari-hari ini, organisasi di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, menghadapi kenyataan baru. AI bukan lagi pilihan tambahan. Ia menjadi fondasi kompetisi.

Yang berubah bukan hanya teknologinya, tapi cara organisasi memandangnya. “Organisasi menginginkan sistem AI yang disesuaikan dengan industri, data, dan realitas operasional mereka,” kata Vony Tjiu, Red Hat Country Manager for Indonesia.

Organisasi, menurut Vony, juga menginginkan kebebasan untuk menjalankan beban kerja AI di lingkungan yang paling masuk akal: baik di lingkungan on-premise, di cloud, maupun di edge. Kombinasi antara kecerdasan yang dibuat khusus dan fleksibilitas arsitektur inilah yang akan membentuk tren-tren yang menentukan pada tahun 2026.

Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, AI mendorong transformasi yang signifikan di berbagai sektor seperti retail, keuangan, telekomunikasi, dan manufaktur. Pertumbuhan infrastruktur AI dipacu oleh meningkatnya permintaan aplikasi berbasis AI, percepatan transformasi digital, serta investasi pemerintah dalam pembangunan pusat data yang siap mendukung AI.

Salah satu perubahan terbesar adalah cara organisasi memilih model AI. Studi terbaru IDC menemukan bahwa 70% organisasi di Asia Pasifik memperkirakan agentic AI akan mendisrupsi model bisnis mereka dalam 18 bulan mendatang. Perusahaan mulai menyadari bahwa masa depan AI bukan terletak pada model yang mencoba melakukan segalanya, melainkan pada sistem yang dirancang khusus, ukurannya tepat, dan dapat dijelaskan, yang didesain untuk industri dan alur kerja tertentu.

Pergeseran ini sejalan dengan prediksi IDC lainnya: bahwa pada tahun 2027, sebanyak 40% organisasi akan menggunakan custom silicon, termasuk prosesor ARM atau chip khusus AI/ML, untuk memenuhi kebutuhan pengoptimalan performa, efisiensi biaya, dan komputasi spesifik yang terus meningkat.

Di sektor keuangan, misalnya, AI yang tepat guna dapat membantu mengotomatiskan proses yang kompleks dan berskala besar, seperti mendeteksi fraud, memonitor transaksi, dan mengotomatisasi onboarding nasabah, proses yang sebelumnya memakan waktu dan sumber daya besar. Oleh sebab itu, Vony menyarankan pemimpin bisnis untuk meninjau kembali strategi infrastruktur mereka untuk mendukung beban kerja yang semakin beragam dan menuntut.

Masalahnya, banyak infrastruktur enterprise tidak dirancang untuk AI. Virtualisasi tradisional bekerja dengan baik untuk aplikasi yang dapat diprediksi. Tapi AI tidak seperti itu. Beban kerjanya dinamis, kompleks, dan sering kali membutuhkan akselerasi hardware khusus.

Karena itu, Vony memprediksi bahwa pada tahun ini perusahaan akan semakin banyak mengadopsi strategi virtualisasi yang menyatukan virtual machine, container, dan komputasi khusus, dalam satu model operasional. Tujuannya bukan hanya performa, tapi juga kontrol dan efisiensi.

Seiring model AI semakin bergantung pada data real time, sistem terdistribusi, dan sumber daya komputasi yang dirancang khusus, perusahaan membutuhkan arsitektur yang memungkinkan mereka menjalankan beban kerja sedekat mungkin dengan sumber data, sekaligus tetap menjaga skalabilitas dan ketahanan sistem.

Jika sebelumnya organisasi harus memilih antara on-premise atau cloud, kini mereka tidak perlu lagi memilih. Hybrid cloud menawarkan kombinasi terbaik dari keduanya dan pada tahun 2026, hybrid cloud akan semakin menjadi model operasional standar bagi sistem enterprise cerdas.

“Organisasi akan memprioritaskan platform yang membantu mereka mempertahankan kontrol atas beban kerja sensitif di lingkungan on-premise, berkembang dengan memanfaatkan kemampuan public cloud, dan membawa intelligence lebih dekat ke sumber data di edge,” ucap Vony.

Ini memungkinkan organisasi menjalankan AI di tempat yang paling masuk akal, baik dari sisi performa, biaya, maupun regulasi. Pendekatan ini sangat penting bagi sektor yang diawasi ketat oleh regulasi, seperti perbankan dan layanan keuangan. Beban kerja yang sensitif harus tetap berada di lingkungan on-premise, sementara analitik berbasis AI seringkali membutuhkan elastisitas dan komputasi khusus di public cloud. Keseimbangan ini menjadi fondasi dalam modernisasi sistem risiko, kepatuhan, dan layanan nasabah.

Di sisi lain, semakin besar peran AI, semakin besar pula kebutuhan akan tata kelola. Organisasi ingin memahami bagaimana model mereka bekerja. Mereka ingin memastikan bahwa keputusan dapat diaudit. Dan mereka ingin memastikan bahwa sistem tetap sesuai regulasi.

Di Indonesia, untuk mempercepat pengembangan dan pemanfaatan AI yang inklusif, berkelanjutan, aman, dan bertanggung jawab, pemerintah telah menerbitkan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020 – 2045 dan akan mengeluarkan regulasi untuk Peta Jalan dan Etika AI pada awal 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah merilis Panduan Kode Etik untuk AI yang bertanggung jawab dan tepercaya dalam industri teknologi keuangan.

Sektor jasa keuangan akan memainkan peran yang sangat besar dalam membentuk standar tersebut. Dengan persyaratan ketat terkait audit, ketertelusuran (traceability), dan perilaku model, organisasi di sektor jasa keuangan sudah menetapkan tolok ukur dalam adopsi AI yang bertanggung jawab, menciptakan pola yang kemungkinan besar akan diikuti oleh industri lainnya.

Rambu-rambu pengaman ini bukanlah penghambat inovasi, melainkan justru memungkinkannya. Ini adalah perubahan mindset yang penting. Tata kelola tidak lagi dilihat sebagai beban, tapi sebagai fondasi kepercayaan.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah sebagian dari cerita. Yang benar-benar menentukan adalah kemampuan organisasi untuk menggunakannya secara efektif. Tidak ada transformasi yang berhasil tanpa manusia.

Masalahnya, permintaan akan talenta cloud-native, AI dan keamanan siber terus melampaui ketersediaan di Asia Pasifik. Pada tahun 2026, kesenjangan ini diperkirakan akan semakin melebar kecuali organisasi berinvestasi pada pendekatan yang berfokus pada pengembangan keahlian untuk membangun, mengoperasikan, dan mengoptimalkan sistem digital modern.

Komunitas open source akan memainkan peran sentral dalam perubahan ini. Mereka menyediakan pengetahuan bersama, transparansi, dan ekosistem global yang berakar pada kolaborasi. Berbagai tool dan kerangka kerja tersedia bagi semua pihak, bukan hanya untuk segelintir orang. Seiring semakin banyak perusahaan berkontribusi kembali ke komunitas ini, dengan mengembangkan ide secara cepat dan bertanggung jawab, Asia Pasifik akan memperkuat posisinya dalam inovasi digital, tidak hanya sebagai konsumen namun juga sebagai kreator.

Sekitar 42% organisasi di Asia Tenggara (40% di Indonesia) telah mengimplementasikan agentic AI, baik sebagai solusi mandiri maupun terintegrasi dalam aplikasi SaaS mereka yang sudah ada, dengan fokus pada pengembangan kapasitas talenta dan menumbuhkan kemitraan publik-swasta. Survei lain menemukan bahwa 92% knowledge worker sudah menggunakan AI generatif dalam pekerjaan mereka. Tingginya adopsi ini didukung oleh para pemimpin bisnis, di mana 92% menyadari bahwa AI merupakan faktor penting agar mereka tetap kompetitif.

Vony mengatakan, model yang tepat, di lingkungan yang tepat, dengan arsitektur yang tepat akan menentukan era berikutnya dari enterprise AI. Keberhasilan agentic AI tidak hanya bergantung pada kekuatan modelnya, namun juga pada infrastruktur, tata kelola, dan keahlian yang mendukungnya. Pada tahun 2026, keterbukaan, fleksibilitas, dan kolaborasi akan tetap menjadi prinsip utama yang membantu organisasi bergerak dari potensi menuju outcome yang nyata dan terukur.

“Karena tidak ada satu model pun yang cocok untuk semua konteks enterprise, open source akan terus menjadi fondasi kebebasan dan inovasi dalam membangun masa depan,” ucap Vony.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
3 Unit Jet Tempur Rafale Akan Tiba di Indonesia pada Pertengahan 2026
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Bea Cukai-BNN Gagalkan 4.080 Butir Ekstasi Lewat Paket Gaun Pernikahan 
• 4 jam lalueranasional.com
thumb
BMKG Ungkap Gempa M4,2 di Aceh Jaya Akibat Aktivitas Subduksi Lempeng
• 7 jam laluokezone.com
thumb
Dua Perpres AI Tunggu Antrean untuk Diteken Prabowo
• 6 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pengiriman pasukan ke Gaza tunggu arahan Presiden Prabowo Subiyanto
• 39 menit laluantaranews.com
Berhasil disimpan.