Bangau Tongtong: Alarm Ekologis untuk Kualitas Lahan Basah Nusantara

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bangau tongtong bukan sekadar burung besar yang mencolok di rawa atau mangrove. Ia adalah penanda sehat atau rapuhnya ekosistem lahan basah. Dalam dunia konservasi, kehadirannya sering dibaca sebagai “alarm ekologis” yang jujur. Jika bangau tongtong menghilang, biasanya lingkungan di sekitarnya sedang tidak baik-baik saja.

Secara ilmiah, burung ini bernama Leptoptilos javanicus dari famili Ciconiidae. Dalam literatur internasional, ia dikenal sebagai lesser adjutant. Sebaran alaminya luas. Ia ditemukan di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Bali.

Penelitian klasik tentang ekologi burung-burung air Asia Tenggara sudah lama mencatat spesies ini. BirdLife International dalam laporan “Species Factsheet: Leptoptilos javanicus” (2020) menegaskan bahwa bangau tongtong adalah indikator penting kualitas lahan basah. Sementara IUCN Red List dalam “Leptoptilos javanicus Assessment” (2019) mengategorikannya sebagai Vulnerable atau rentan. Data ini bukan sekadar status, tetapi alarm serius.

Bangau tongtong hidup di ruang yang sering kita rusak pelan-pelan. Rawa dikeringkan, mangrove ditebang, sungai dicemari. Prosesnya sunyi, tetapi dampaknya keras. Burung ini lalu menghilang tanpa suara.

Dalam riset Amri Ahmad, M. Sowan Anwari, dan Hafiz Ardian menulis “Populasi Bangau Tongtong di Kawasan Mangrove Tanjung Gunung” (2023). Penelitian ini menunjukkan kepadatan populasi yang sangat rendah. Angka itu bukan statistik kering, tetapi potret krisis nyata di lapangan.

Bangau tongtong bukan hewan eksotik untuk pajangan. Ia adalah bagian dari sistem alam yang bekerja setiap hari. Ia memulung bangkai, memangsa hama, dan menjaga keseimbangan ekologi. Dalam ekologi modern, ini disebut ecological service.

Identitas Ilmiah dan Ciri Fisik

Bangau tongtong termasuk kelas Aves, ordo Ciconiiformes, famili Ciconiidae, dan genus Leptoptilos. Ia adalah spesies terkecil dalam genusnya, tetapi tetap tergolong burung besar. Tingginya sekitar 110 sampai 130 sentimeter. Rentang sayapnya bisa mencapai 210 sentimeter.

Tubuhnya didominasi warna hitam pada bagian atas dan sayap. Bagian perut, bawah ekor, dan kalung lehernya berwarna putih. Kontras ini membuatnya mudah dikenali dari jauh. Penampilannya tegas dan elegan.

Kepala dan lehernya botak, bertekstur kasar, dengan mahkota bulu putih halus seperti kapas. Paruhnya panjang, tebal, dan pucat. Struktur ini membuatnya efektif menangkap mangsa. Secara morfologi, ia dirancang untuk hidup di lahan basah.

Kaki bangau tongtong panjang dan kuat. Ini memungkinkannya berjalan di lumpur, rawa, dan perairan dangkal. Lehernya panjang dan fleksibel. Kombinasi ini membuatnya efisien saat berburu.

Burung muda memiliki warna lebih kusam. Bulu mereka belum kontras seperti individu dewasa. Proses perubahan ini berlangsung bertahap hingga matang seksual. Dalam ekologi burung, ini disebut fase ontogenetik.

Pola Hidup, Makanan, dan Reproduksi

Bangau tongtong adalah pemakan oportunistik. Ia memakan ikan, katak, kadal, serangga besar, invertebrata, hingga bangkai. Dalam banyak kasus, ia juga menjadi pemulung. Ini menjadikannya pembersih alami lingkungan.

Ia mencari makan di rawa, sungai, sawah, mangrove, dan pesisir. Kadang ia terlihat di tempat pembuangan sampah. Fenomena ini mencerminkan tekanan habitat. Alam menyempit, ruang hidup berubah.

Dalam ekologi, peran ini disebut scavenger ecological role. Menurut Odum dalam “Fundamentals of Ecology” (1971), pemulung berfungsi mengurangi penyebaran penyakit. Mereka mempercepat daur ulang materi organik. Bangau tongtong menjalankan fungsi ini secara alami.

Musim berkembang biak terjadi antara Februari, Maret, dan Mei hingga Agustus. Sarangnya besar, terbuat dari tumpukan ranting. Biasanya dibangun di pohon tinggi dekat air. Lokasi ini strategis dan aman.

Jumlah telur biasanya dua sampai tiga butir. Telurnya berwarna putih kebiruan. Masa pengeraman sekitar 30 sampai 35 hari. Anak burung diasuh bersama oleh kedua induk.

Anak bangau membutuhkan waktu beberapa bulan hingga mandiri. Mereka belajar terbang, berburu, dan bertahan hidup. Umur siap reproduksi biasanya setelah dewasa penuh. Dalam siklus hidupnya, fase ini sangat rentan.

Konservasi, Status Hukum, dan Tantangan

Status konservasi bangau tongtong adalah rentan menurut IUCN. Ini berarti populasinya terus menurun. Penyebab utama adalah hilangnya habitat. Lahan basah berubah fungsi secara masif.

Di Indonesia, perlindungan satwa liar diatur dalam UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Bangau tongtong termasuk satwa dilindungi. Secara hukum, ia tidak boleh diburu atau diperdagangkan.

Namun, hukum sering kalah oleh praktik. Perburuan liar masih terjadi. Alih fungsi lahan terus berjalan. Tekanan ekonomi sering lebih kuat dari kesadaran ekologis.

Penelitian Amri Ahmad dkk. (2023) menunjukkan kepadatan populasi yang sangat rendah di mangrove Kayong Utara. Data ini menegaskan kondisi kritis. Populasi kecil berarti risiko kepunahan lokal tinggi.

BirdLife International (2020) menekankan pentingnya konservasi habitat. Perlindungan spesies tanpa perlindungan ekosistem adalah ilusi. Bangau tongtong butuh ruang hidup, bukan sekadar status hukum.

Konservasi modern menekankan keterlibatan masyarakat. Tanpa warga lokal, perlindungan hanya slogan. Edukasi, ekonomi alternatif, dan wisata berbasis konservasi menjadi kunci. Ini bukan romantisme, tetapi strategi nyata.

Daftar Pustaka

Ahmad, Amri., Anwari, M. Sowan., Ardian, Hafiz. 2023. "Populasi Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus) di Kawasan Mangrove Dusun Tanjung Gunung Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara". Lingkungan Hutan Tropis: Pontianak.

BirdLife International. 2020. "Species Factsheet: Leptoptilos javanicus". BirdLife International: Cambridge.

International Union for Conservation of Nature. 2019. Leptoptilos javanicus Assessment. IUCN Red List: Gland.

Odum, Eugene P. 1971. Fundamentals of Ecology. W.B. Saunders: Philadelphia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Staf Ahli Polri Bongkar Realita Pendidikan Polisi dan Praktik di Lapangan | SATU MEJA
• 40 menit lalukompas.tv
thumb
Remaja Bunuh Kakak di Kelapa Gading, Kesal Korban Menyusahkan Sang Ibu
• 3 jam lalukompas.com
thumb
103 Ribu Tiket Mudik Lebaran 2026 dari Jakarta Masih Tersedia, Ayooo... Buruan Pesan
• 10 jam lalujpnn.com
thumb
Hangat Prabowo Disambut Mahasiswa RI di Yordania: Beri Ucapan Selamat Ultah
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Soal Ambang Batas Parlemen, Senior PPP: Kalau Bisa 0, Paling Tidak 3 Persen
• 1 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.