Jakarta (ANTARA) - Mastercard Center for Inclusive Growth dan Mercy Corps Indonesia mengumumkan Mastercard Strive Indonesia mendukung lebih dari 500 ribu pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) dalam menyediakan perangkat digital, wawasan keuangan, dan pendampingan selama 2023-2025.
Capaian tersebut disampaikan dalam diseminasi Laporan Barometer Ketiga: Striving to Thrive: The State of Indonesian Micro and Small Enterprises 2025.
"Jadi, perjalanan Strive ini memberikan kita pada suatu hal penting, bahwa untuk bisa memberikan dampak positif kepada UMK kita, perlu ada sinergi antara sektor publik, pemerintah, sektor swasta, dan juga masyarakat sipil, sehingga kita menyelesaikan agenda, bersinergi, untuk mampu menutup kesenjangan dalam pembiayaan, kapasitas, dan transformasi digital untuk membuat UMK naik kelas," ucap Executive Director of Mercy Corps Indonesia Ade Soekadis di Jakarta, Rabu.
Secara lebih rinci, dukungan pembiayaan yang diberikan adalah membantu para pelaku usaha mengajukan pinjaman mikro dari 17 penyedia layanan keuangan yang telah menghasilkan agregat sebesar Rp140 miliar untuk 26.500 pelaku usaha dengan total 97 persen dari kalangan perempuan.
Selain itu, pihaknya memberikan pendampingan digital terhadap lebih dari 200 ribu pengusaha, yang sekitar 100 ribu pengusaha di antaranya mengadopsi perangkat keamanan siber untuk melindungi aset digital mereka.
Kemudian, 56 persen peserta program Mastercard Strive Indonesia melaporkan peningkatan pendapatan, dan 30 persen mengaku mengalami peningkatan kepercayaan diri dalam mengakses kredit.
Lebih lanjut, laporan barometer turut menyoroti tren yang mengkhawatirkan, yaitu pengambilan kredit formal terus menurun dari 33 persen pada tahun 2023, 27 persen pada 2024, dan hanya 20 persen pada 2025. Artinya, banyak pengusaha masih bergantung pada pemberi pinjaman informal karena suku bunga yang tinggi, persyaratan jaminan, dan hambatan budaya.
Pengusaha perempuan menunjukkan pengambilan kredit yang lebih rendah meskipun pola kepemilikan usaha kuat, yang mencerminkan hambatan dari sisi penawaran dan kehati-hatian finansial yang tertanam secara sosial. Tercatat, 16 persen usaha yang dipimpin perempuan melaporkan mengakses kredit, dibandingkan dengan 20 persen yang dipimpin laki-laki, dan 26 persen yang dipimpin bersama.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa kendati 74 persen pengusaha tak terlibat dengan layanan pendukung bisnis, mereka yang terlibat secara signifikan melaporkan pertumbuhan pendapatan.
Dalam konteks ini, Mastercard Strive memanfaatkan mentor lokal dan platform digital seperti MicroMentor untuk menyediakan pendampingan bagi para pelaku usaha kecil yang berpartisipasi dalam program tersebut.
Dukungan pemerintah dan sektor swasta juga dinilai sangat penting untuk membangun kepercayaan, sehingga pelaksanaan program ini dianggap berhasil di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Hal ini disebut berkat adanya penyelarasan dengan tujuan pemerintah daerah, fasilitator komunitas, dan Strive Learning Network, sebuah platform yang diluncurkan antara Asian Venture Philanthropy Network (AVPN) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk memperkuat ekosistem usaha kecil.
"Meskipun catatan ini membanggakan, tapi kita tahu pekerjaan ini masih jauh boleh karena keberadaan 62 juta UMKM di Indonesia, kita masih mencapai 500 ribu sekian. Jadi, walaupun perubahan sudah balik terasa, tentunya yang harus kita jaga dan diduplikasi, sehingga menjadi perubahan sistemik, dengan adanya perubahan regulasi, sehingga bisa bertahan atau lebih baik lagi," kata Ade.
Baca juga: ADB dan Mastercard bermitra guna dukung pembiayaan bagi UMKM
Baca juga: Mastercard donasikan lebih dari Rp1,5 miliar untuk berdayakan UMKM
Baca juga: Mastercard Strive siap berdayakan 300 ribu usaha kecil di Indonesia
Capaian tersebut disampaikan dalam diseminasi Laporan Barometer Ketiga: Striving to Thrive: The State of Indonesian Micro and Small Enterprises 2025.
"Jadi, perjalanan Strive ini memberikan kita pada suatu hal penting, bahwa untuk bisa memberikan dampak positif kepada UMK kita, perlu ada sinergi antara sektor publik, pemerintah, sektor swasta, dan juga masyarakat sipil, sehingga kita menyelesaikan agenda, bersinergi, untuk mampu menutup kesenjangan dalam pembiayaan, kapasitas, dan transformasi digital untuk membuat UMK naik kelas," ucap Executive Director of Mercy Corps Indonesia Ade Soekadis di Jakarta, Rabu.
Secara lebih rinci, dukungan pembiayaan yang diberikan adalah membantu para pelaku usaha mengajukan pinjaman mikro dari 17 penyedia layanan keuangan yang telah menghasilkan agregat sebesar Rp140 miliar untuk 26.500 pelaku usaha dengan total 97 persen dari kalangan perempuan.
Selain itu, pihaknya memberikan pendampingan digital terhadap lebih dari 200 ribu pengusaha, yang sekitar 100 ribu pengusaha di antaranya mengadopsi perangkat keamanan siber untuk melindungi aset digital mereka.
Kemudian, 56 persen peserta program Mastercard Strive Indonesia melaporkan peningkatan pendapatan, dan 30 persen mengaku mengalami peningkatan kepercayaan diri dalam mengakses kredit.
Lebih lanjut, laporan barometer turut menyoroti tren yang mengkhawatirkan, yaitu pengambilan kredit formal terus menurun dari 33 persen pada tahun 2023, 27 persen pada 2024, dan hanya 20 persen pada 2025. Artinya, banyak pengusaha masih bergantung pada pemberi pinjaman informal karena suku bunga yang tinggi, persyaratan jaminan, dan hambatan budaya.
Pengusaha perempuan menunjukkan pengambilan kredit yang lebih rendah meskipun pola kepemilikan usaha kuat, yang mencerminkan hambatan dari sisi penawaran dan kehati-hatian finansial yang tertanam secara sosial. Tercatat, 16 persen usaha yang dipimpin perempuan melaporkan mengakses kredit, dibandingkan dengan 20 persen yang dipimpin laki-laki, dan 26 persen yang dipimpin bersama.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa kendati 74 persen pengusaha tak terlibat dengan layanan pendukung bisnis, mereka yang terlibat secara signifikan melaporkan pertumbuhan pendapatan.
Dalam konteks ini, Mastercard Strive memanfaatkan mentor lokal dan platform digital seperti MicroMentor untuk menyediakan pendampingan bagi para pelaku usaha kecil yang berpartisipasi dalam program tersebut.
Dukungan pemerintah dan sektor swasta juga dinilai sangat penting untuk membangun kepercayaan, sehingga pelaksanaan program ini dianggap berhasil di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Hal ini disebut berkat adanya penyelarasan dengan tujuan pemerintah daerah, fasilitator komunitas, dan Strive Learning Network, sebuah platform yang diluncurkan antara Asian Venture Philanthropy Network (AVPN) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk memperkuat ekosistem usaha kecil.
"Meskipun catatan ini membanggakan, tapi kita tahu pekerjaan ini masih jauh boleh karena keberadaan 62 juta UMKM di Indonesia, kita masih mencapai 500 ribu sekian. Jadi, walaupun perubahan sudah balik terasa, tentunya yang harus kita jaga dan diduplikasi, sehingga menjadi perubahan sistemik, dengan adanya perubahan regulasi, sehingga bisa bertahan atau lebih baik lagi," kata Ade.
Baca juga: ADB dan Mastercard bermitra guna dukung pembiayaan bagi UMKM
Baca juga: Mastercard donasikan lebih dari Rp1,5 miliar untuk berdayakan UMKM
Baca juga: Mastercard Strive siap berdayakan 300 ribu usaha kecil di Indonesia





