Jakarta (ANTARA) - Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro memandang, perpanjangan masa penempatan dana SAL Rp200 triliun di Himbara hingga September 2026 memberikan dampak positif karena pada akhirnya dapat turut memperkuat tren penurunan suku bunga kredit.
“Kalau dilihat dari sisi positif dari perpanjangan penempatan dana SAL, ujungnya seharusnya bisa mendorong penurunan suku bunga kredit,” kata Andry Asmoro atau akrab disapa Asmo di Jakarta, Rabu malam.
Ia menjelaskan bahwa penempatan saldo anggaran lebih (SAL) di bank-bank anggota Himbara pada dasarnya bisa meredakan tensi perebutan likuiditas, terutama di antara bank-bank besar, apalagi permintaan likuiditas akan meningkat menjelang Lebaran atau perayaan besar lainnya.
Ketika tensi perebutan likuiditas mereda, menurut dia, hal ini akan berdampak pada penurunan suku bunga dana, yang kemudian dapat mendorong penurunan suku bunga kredit.
Ia mengatakan tren historis menunjukkan bahwa margin bunga bersih (NIM) bank secara bertahap sudah mulai menurun sehingga suku bunga kredit kemungkinan akan menyesuaikan.
“Tapi mungkin, bayangan saya, (penurunan bunga kredit) tidak akan sebesar penurunan BI-Rate karena ada inelasticity-nya,” kata dia.
Terkait pertumbuhan kredit, pelonggaran likuiditas melalui penempatan dana SAL juga diyakini dapat memberikan ruang bagi bank untuk kembali mendorong pertumbuhan kredit.
Adapun pertumbuhan kredit industri perbankan pada tahun ini diperkirakan berada di kisaran high single digit hingga low double digit, yaitu sekitar 9-11 persen, menurut proyeksi tim ekonom Bank Mandiri.
Baca juga: Purbaya sesuaikan strategi dana Rp200 triliun dengan kebijakan BI
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memutuskan untuk memperpanjang masa penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di perbankan hingga enam bulan ke depan setelah jatuh tempo pada 13 Maret 2026.
Dengan begitu, menurut Purbaya, bank tidak perlu khawatir kehilangan likuiditas karena pemerintah akan terus mendukung likuiditas di pasar. Evaluasi kebijakan tersebut akan kembali dilakukan pada September mendatang.
Purbaya juga mengatakan bahwa kebijakan tersebut turut mendorong penurunan suku bunga deposito dan kredit.
Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), penurunan BI-Rate sebesar 125 basis poin (bps) selama tahun 2025 dan ekspansi likuiditas moneter BI telah berdampak signifikan terhadap penurunan suku bunga di pasar uang.
Menurut BI, transmisi penurunan suku bunga kebijakan terhadap terhadap suku bunga perbankan terus berlanjut, tetapi lebih terbatas.
Suku bunga deposito satu bulan baru turun sebesar 68 bps dari 4,81 persen pada Januari 2025 menjadi 4,13 persen pada Januari 2026.
BI pun menekankan bahwa penurunan suku bunga dana tersebut perlu makin ditransmisikan ke penurunan suku bunga kredit perbankan yang baru turun 40 bps, dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi sebesar 8,80 persen pada Januari 2026.
Baca juga: Purbaya tarik Rp75 T buat belanja K/L, jamin tak ganggu sistem ekonomi
Baca juga: OJK: Penarikan SAL Rp75 T tak berdampak signifikan ke likuiditas bank
Baca juga: Ekonom: Dampak penarikan SAL Rp75 T ditentukan oleh strategi bank
“Kalau dilihat dari sisi positif dari perpanjangan penempatan dana SAL, ujungnya seharusnya bisa mendorong penurunan suku bunga kredit,” kata Andry Asmoro atau akrab disapa Asmo di Jakarta, Rabu malam.
Ia menjelaskan bahwa penempatan saldo anggaran lebih (SAL) di bank-bank anggota Himbara pada dasarnya bisa meredakan tensi perebutan likuiditas, terutama di antara bank-bank besar, apalagi permintaan likuiditas akan meningkat menjelang Lebaran atau perayaan besar lainnya.
Ketika tensi perebutan likuiditas mereda, menurut dia, hal ini akan berdampak pada penurunan suku bunga dana, yang kemudian dapat mendorong penurunan suku bunga kredit.
Ia mengatakan tren historis menunjukkan bahwa margin bunga bersih (NIM) bank secara bertahap sudah mulai menurun sehingga suku bunga kredit kemungkinan akan menyesuaikan.
“Tapi mungkin, bayangan saya, (penurunan bunga kredit) tidak akan sebesar penurunan BI-Rate karena ada inelasticity-nya,” kata dia.
Terkait pertumbuhan kredit, pelonggaran likuiditas melalui penempatan dana SAL juga diyakini dapat memberikan ruang bagi bank untuk kembali mendorong pertumbuhan kredit.
Adapun pertumbuhan kredit industri perbankan pada tahun ini diperkirakan berada di kisaran high single digit hingga low double digit, yaitu sekitar 9-11 persen, menurut proyeksi tim ekonom Bank Mandiri.
Baca juga: Purbaya sesuaikan strategi dana Rp200 triliun dengan kebijakan BI
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memutuskan untuk memperpanjang masa penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di perbankan hingga enam bulan ke depan setelah jatuh tempo pada 13 Maret 2026.
Dengan begitu, menurut Purbaya, bank tidak perlu khawatir kehilangan likuiditas karena pemerintah akan terus mendukung likuiditas di pasar. Evaluasi kebijakan tersebut akan kembali dilakukan pada September mendatang.
Purbaya juga mengatakan bahwa kebijakan tersebut turut mendorong penurunan suku bunga deposito dan kredit.
Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), penurunan BI-Rate sebesar 125 basis poin (bps) selama tahun 2025 dan ekspansi likuiditas moneter BI telah berdampak signifikan terhadap penurunan suku bunga di pasar uang.
Menurut BI, transmisi penurunan suku bunga kebijakan terhadap terhadap suku bunga perbankan terus berlanjut, tetapi lebih terbatas.
Suku bunga deposito satu bulan baru turun sebesar 68 bps dari 4,81 persen pada Januari 2025 menjadi 4,13 persen pada Januari 2026.
BI pun menekankan bahwa penurunan suku bunga dana tersebut perlu makin ditransmisikan ke penurunan suku bunga kredit perbankan yang baru turun 40 bps, dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi sebesar 8,80 persen pada Januari 2026.
Baca juga: Purbaya tarik Rp75 T buat belanja K/L, jamin tak ganggu sistem ekonomi
Baca juga: OJK: Penarikan SAL Rp75 T tak berdampak signifikan ke likuiditas bank
Baca juga: Ekonom: Dampak penarikan SAL Rp75 T ditentukan oleh strategi bank





