Bisnis.com, JAKARTA — Aktivitas penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) terpantau sepi di lantai bursa pada awal tahun ini. Hingga akhir Februari 2026, belum ada aksi IPO yang tercatat dan likuiditas makin ketat lantaran investor asing terus melakukan aksi jual (net sell).
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna menyebut sepanjang tahun berjalan Februari 2026 ini belum terdapat perusahaan yang mencatatkan saham di bursa.
Dia mengatakan hingga 22 Februari 2026, terdapat delapan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. Sebanyak lima di antara calon perusahaan tercatat ini merupakan perusahaan aset skala besar.
“Hingga saat ini, terdapat delapan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI, dengan tiga perusahaan aset skala menengah dan lima perusahaan aset skala besar,” ujar Nyoman, Minggu (22/2/2026).
Nyoman merinci sebanyak dua perusahaan merupakan perusahaan dari sektor basic materials, satu perusahaan consumer non-cyclicals, dan satu perusahaan energi.
Lalu dua perusahaan dari sektor finansial, satu perusahaan dari sektor industrials, dan satu perusahaan sektor transportasi dan logistik.
Adapun, sepinya aksi penghimpunan dana di pasar modal ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah perusahaan di kawasan Asia Tenggara terpantau berencana menggalang dana di pasar modal luar negeri karena kondisi tidak stabil di pasar modal domestiknya. Beberapa bursa yang diincar seperti Hong Kong dan Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan Bloomberg, sejumlah perusahaan di Filipina, Indonesia, dan Thailand mengincar untuk menerbitkan saham di bursa luar negeri. Adapun, unit internasional grup makanan cepat saji Filipina Jollibee Foods Corp. serta perusahaan teknologi finansial Maya sedang mempertimbangkan pencatatan saham di Amerika Serikat.
Dari Indonesia, PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) dan salah satu unit konglomerasi MNC Group mempertimbangkan untuk menghimpun dana di pasar Hong Kong, demikian pula unit restoran dari grup perhotelan Thailand Minor International Pcl.
Langkah-langkah ini menyoroti tekanan yang meluas di pasar Filipina, Indonesia, dan Thailand yang saat ini likuiditas menipis dan imbal hasil lemah membuat penggalangan modal lebih sulit.
William Bratton, Kepala Riset Ekuitas Tunai Asia-Pasifik di BNP Paribas SA, mengatakan masalah bagi banyak pasar Asia Tenggara adalah relatif terbatasnya kumpulan modal yang tersedia untuk ekuitas publik serta tingkat kematangan ekosistem ekuitas publik.
"Tantangan ini lebih terasa bagi perusahaan yang bersifat khusus (niche) atau bertumbuh cepat, yang kerap memandang bursa luar negeri dengan ekosistem lebih berkembang memiliki risiko lebih rendah untuk memperoleh modal publik," kata Bratton, dikutip Bloomberg.
Bulan lalu, kepala keuangan Jollibee di Filipina mengatakan bahwa AS menawarkan kolam investor yang lebih dalam serta valuasi pasar yang kuat bagi perusahaan makanan dan minuman.
Adapun, Bursa Efek Filipina memproyeksikan hanya empat penawaran umum perdana saham (IPO) tahun ini, setelah gagal mencapai targetnya sendiri pada 2023, 2024, dan 2025.
Dinamika serupa juga terjadi di Thailand. Minor International mempertimbangkan untuk listing di Hong Kong untuk bisnis restorannya, tertarik pada prospek valuasi yang lebih tinggi dan basis investor yang lebih luas. Perusahaan tersebut juga tengah mengupayakan pencatatan dana investasi real estat (REIT) senilai sekitar US$1 miliar di Singapura.
Seorang pejabat senior bursa saham Thailand mengatakan tahun lalu bahwa pasar IPO negara tersebut kemungkinan tetap lesu karena reformasi pasar membutuhkan waktu untuk membendung pergeseran perusahaan ke bursa luar negeri.
Sementara itu, Indonesia menghadapi potensi penurunan status menjadi pasar frontier oleh MSCI Inc., yang telah menyampaikan kekhawatiran terkait kelayakan investasi dan terbatasnya saham beredar (free float). Regulator pun bersiap menghadapi rekor penjualan saham untuk memenuhi aturan free float yang lebih ketat.
Liza Camelia Suryanata, Kepala Riset di PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan kebanyakan perusahaan mengincar pasar modal di luar negeri karena ingin menghindari "kelemahan" di dalam negeri sekaligus memberi sinyal kepatuhan terhadap standar internasional
"Itu mengirimkan sinyal yang jelas: ‘Kami nyaman beroperasi di bawah pengawasan yang lebih ketat dan berstandar internasional,’” katanya.




