Bisnis.com, JAKARTA — PT Indodana Multi Finance membeberkan empat tantangan yang akan dihadapi industri multifinance dalam menggarap layanan beli sekarang bayar nanti alias buy now pay later (BNPL) pada 2026.
Direktur Indodana Finance Iwan Dewanto mengemukakan tantangan itu mencakup dinamika kondisi ekonomi, peningkatan persaingan industri, percepatan perkembangan teknologi digital, serta ekspektasi konsumen yang semakin tinggi.
“Selain itu, perusahaan juga menyadari pentingnya menjaga kualitas layanan dan pengelolaan risiko di tengah pertumbuhan industri yang semakin pesat,” ucapnya kepada Bisnis, Rabu (25/2/2026).
Untuk menghadapi tantangan tersebut, ujar Iwan, Indodana Finance terus memperkuat strategi melalui inovasi produk dan layanan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, peningkatan kapabilitas teknologi dan infrastruktur digital, serta penerapan manajemen risiko dan tata kelola perusahaan yang prudent.
Selain itu, Iwan berujar perusahaan berkomitmen untuk memperluas kolaborasi strategis guna menghadirkan solusi yang bertanggung jawab untuk bisnis yang sehat dan berkelanjutan.
Meski demikian, dia menilai outlook BNPL pada 2026 tetap akan sangat positif. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan di industri yang mencapai 75,05% (year on year/YoY) per Desember 2025.
Baca Juga
- BSI (BRIS) Fokus ke Payroll, Paylater Belum Masuk Agenda 2026
- Debitur Paylater Melonjak 49,23% per Desember 2025, Milenial dan Gen Z Dominan
- Pinjaman Paylater Warga RI Melonjak 75,05%, jadi Pilihan saat Daya Beli Tertekan
Baginya, pertumbuhan ini mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap solusi pembiayaan yang fleksibel, mudah diakses, dan relevan dengan gaya hidup digital yang terus berkembang.
“Indodana Finance, melalui layanan Indodana PayLater, sangat optimis bahwa kepercayaan publik yang tinggi ini akan menjadi momentum bagi kami untuk memperluas jangkauan layanan yang lebih luas untuk terus tumbuh secara sehat dan berkelanjutan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,” tutur Iwan.
Lebih lanjut, Iwan berpendapat pertumbuhan layanan BNPL pada 2026 didorong oleh meningkatnya adopsi layanan keuangan digital, pertumbuhan ekosistem e-commerce, serta kebutuhan masyarakat akan solusi pembiayaan yang fleksibel, cepat, dan mudah diakses.
“Selain itu, peningkatan literasi keuangan digital dan perluasan jaringan mitra strategis juga diperkirakan akan semakin memperkuat penetrasi layanan BNPL di berbagai segmen masyarakat,” sebutnya.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan layanan BNPL terus bertumbuh signifikan hingga akhir 2025. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman mengatakan pembiayaan BNPL pada Desember 2025 meningkat 75,05% (year on year/YoY).
“Berdasarkan informasi pada SLIK, pembiayaan Buy Now Pay Later [BNPL] oleh perusahaan pembiayaan meningkat sebesar 75,05% [YoY] atau menjadi Rp11,94 triliun,” ujarnya dalam keterangan resmi Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) OJK, Jumat (6/2/2026).
Agusman melanjutkan Non-Performing Financing (NPF) gross layanan BNPL masih dalam kondisi terjaga, yakni pada posisi 2,73%.





